Satu Misi dalam Keunikan Roh Kudus: Catatan Perjalanan Seminar Yunior SSpS Timor

Sebanyak 56 Suster Yunior SSpS Timor mengikuti Seminar Yunior SSpS Provinsi Timor Tahun 2026 yang berlangsung pada 16–19 Juli 2026. Kegiatan selama empat hari ini diadakan di Komunitas St. Scholastika Liliba, Kupang. Para peserta merupakan suster Yunior yang datang dari berbagai komunitas di seluruh Provinsi Timor. Seminar ini menjadi wadah pembinaan, refleksi, pembelajaran, sekaligus penguatan komitmen hidup religius dalam semangat persaudaraan dan misi Kongregasi.

Hari pertama (16 Juli 2026)

Bertempat di kapela, Ibadat Pembukaan dimulai dengan doa syukur pada pukul 18.00 WITA. Seminar resmi dibuka oleh Sr. Fridolianti Seran, SSpS, selaku Provinsial SSpS Timor. “Setiap peserta harus membawa pulang perubahan positif setelah mengikuti seminar ini. Pembinaan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menggerakkan hati untuk bertumbuh dan menghadirkan pembaruan dalam hidup religius maupun pelayanan,” tegas Suster Provinsial dalam sambutannya.

Penerimaan anggota baru Yunior menjadi bagian dari pertemuan ini. Tahun ini, jumlah suster Yunior bertambah dengan kehadiran tiga suster yang mengikrarkan Kaul Pertama pada 8 Desember 2025, lima suster yang berkaul pada 2 Juli 2026, serta satu suster dari Provinsi Flores Barat yang sedang menempuh studi di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan bergabung sebagai anggota Provinsi Timor. Ziarah perjalanan panggilan terus berjalan seiring waktu, dengan perarakan menuju aula komunitas. Acara berlanjut pada perkenalan peserta, orientasi seminar oleh Sr. Melyana Mau Loko, SSpS – Pemimpin Yunior SSpS Timor, serta laporan kegiatan Yunior Umum dan masing-masing distrik.

Hari ke-dua (17 Juli 2026)

“Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi? Kalau Bukan Saya, Siapa Lagi?” merupakan tema yang di usung Sr. Fridolianti. Suster provinsial mengajak para Suster Yunior untuk memiliki keberanian mengambil tanggung jawab, tidak menunda pekerjaan, serta menyadari bahwa perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri dan diwujudkan sejak saat ini.

Sementara Sr. Ignasia Oktaviana Kaunan, SSpS, Ketua Yunior Umum, memaparkan uniknya “Unity in Diversity” yang memperjelas arah dan semangat Kongregasi dalam membangun persatuan di tengah keberagaman budaya, karakter, dan latar belakang. “Setiap kita perlu berefleksi tentang sikap pribadi apa yang harus diperbarui. Kita juga harus merumuskan langkah nyata untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di dalam komunitas kita,” tegas Sr. Ignasia.

Masih dalam suasana “Unity in Diversity“, para suster Yunior menampilkan kekayaan budaya daerah asal mereka pada malam hari. Berbagai tarian dan tutur adat dipersembahkan, mulai dari budaya Malaka, Rote, Sabu, Alor, Dawan, Ende, Sumba, Manggarai, hingga Kalimantan. Pentas seni ini menjadi ungkapan syukur sekaligus wujud nyata bahwa keberagaman merupakan kekayaan yang mempersatukan seluruh anggota kongregasi.

Hari ke-tiga 18 Juli 2026

“Keindahan Kehidupan Religius SSpS” menjadi topik hangat bersama pemateri Sr. Melyana. Berawal dengan dinamika pembagian kelompok yang berlanjut pada pembagian potongan kertas kepada setiap kelompok. Para peserta diminta membentuk berbagai benda sesuai kreativitas masing-masing, memberi makna terhadap hasil karya tersebut, kemudian merefleksikannya bersama sebelum dipresentasikan.

Melalui dinamika sederhana ini, kami belajar bekerjasama, menghargai pendapat dan kreatifitas serta keunikan masing-masing pribadi. Perbedaan menjadi kekayaan bagi setiap sesama yang mau terbuka dan menerima. Sr. Melyana menegaskan, “Setiap dari kita memiliki keunikan yang dibentuk oleh Roh Kudus untuk dipersatukan dalam satu misi. Perbedaan bukan penghalang, melainkan kekayaan yang memperindah kehidupan religius kita.” Beliau menekankan, “Roh Kuduslah yang mempersatukan kita dalam komunitas dan perutusan, sehingga panggilan hidup membiara ini sungguh terasa indah dan penuh sukacita.”

Evaluasi, pemilihan Tim pengurus Yunior dan penutupan seminar

Setiap peserta mengikuti evaluasi seminar serta pemilihan Badan Pengurus Yunior Umum, Tim Buletin, dan pengurus distrik untuk periode 2026–2027. Pemilihan Ketua Yunior Umum melalui pemungutan suara secara rahasia dan penghitungan terbuka, yang berlanjut pada pemilihan wakil ketua, sekretaris, dan bendahara. Tim Pengurus Yunio terpilih; Sr. Irmina Gerda Manuni, SSpS terpilih sebagai Ketua Yunior Umum dengan memperoleh 19 suara dari 54 suara sah. Selanjutnya, Sr. Rebeka Nuban Se’u, SSpS terpilih sebagai Wakil Ketua, Sr. Rensiana Wani, SSpS sebagai Sekretaris, dan Sr. Adryani L. Fallo, SSpS sebagai Bendahara untuk masa bakti 2026–2027.

Di penghujung seminar Yunior SSpS Timor (19 Juli 2026), Sr. Melyana Mau Loko, SSpS, selaku Pemimpin Yunior SSpS Timor, mengukuhkan Badan Pengurus Yunior Umum serta pengurus Distrik Atambua dan Distrik Kupang. Dalam satu nada syukur, seluruh proses Seminar Yunior SSpS Timor Tahun 2026 telah berjalan dengan baik. Rasa syukur ini menyatu dalam perayaan Ekaristi Kudus. Harapan pun semakin diteguhkan untuk menghidupi panggilan religius dengan semangat persatuan dalam keberagaman, bertanggung jawab dalam setiap perutusan, serta menjadi pribadi yang berani menghadirkan perubahan positif bagi komunitas, Gereja, dan masyarakat sesuai dengan spiritualitas Kongregasi SSpS.

Sr. Fransisca A. Teme, SSpS

Ketika Nama Kami Dipanggil: Awal Kisah Indah di Novisiat

“Apakah yang kamu cari?” Pertanyaan ini mengajak kami, kesembilan Postulan SSpS Timor, untuk merefleksikan kembali penyerahan diri dan menyadari kehadiran Yesus dalam ziarah panggilan kami. Melalui Misa penerimaan yang dirayakan pada pagi hari ini, 4 Juli 2026. Kami diajak untuk bersyukur atas rahmat panggilan yang membawa kami melangkah ke jenjang berikutnya: masa Novisiat. Inilah masa bagi kami untuk mengenal Yesus dan diri kami dengan lebih mendalam.

Diiringi doa dan nyanyian ajakan, kami berarak masuk menuju Kapela Santa Theresia Halilulik yang telah dipenuhi oleh para suster sekomunitas serta para Novis SSpS tahun kedua. Saat melangkah masuk, kami menyadari bahwa momen ini adalah tanda penyerahan diri yang nyata. Berjalan maju langkah demi langkah menjadi simbol bagi kami untuk memulai masa Novisiat—sebuah masa di mana kami harus mampu mengintegrasikan setiap proses yang membutuhkan penyerahan diri serta kesungguhan hati.

Dalam homilinya, Romo Hendrikus Hale, Pr, selaku Pastor Paroki Halilulik, secara mendalam mengupas arti nama kami, kesembilan Postulan. Momen ini sungguh menarik bagi kami dan sesama teman angkatan, karena kami menjadi lebih memahami arti spiritual serta peran dari para santo-santa pelindung yang namanya kami sandang.

Ritual Penerimaan Novis SSpS

Nama Baru

Jika dahulu para Novis SSpS selalu diberikan nama baru yang bersumber dari Ensiklopedi Orang Kudus saat memulai masa Novisiat, kini tradisi tersebut telah berkembang. Sekarang, kami tetap mempertahankan nama permandian (baptis) demi kelancaran pengurusan dokumen pribadi di kemudian hari, tanpa mengurangi esensi sakral dari perjalanan panggilan ini.

Maka, ketika nama kami dipanggil satu per satu dan kami menjawab “Ya”, jawaban tersebut merupakan suatu komitmen untuk mau berproses selama masa Novisiat, meskipun ada perasaan yang bergejolak di dalam dada. Kami percaya momen tersebut adalah jawaban langsung atas suara panggilan Yesus yang menuntut kesiapsediaan untuk mengikuti-Nya. Di saat yang sama, kami pun mengimani bahwa para santo dan santa pelindung kami masing-masing turut mengiringi langkah dan mendoakan peziarahan panggilan ini.

Pakaian Biara

Bila masa lalu, para Postulan yang akan memasuki masa Novisiat mengenakan pakaian adat lengkap lalu menerima busana biara secara utuh, seiring berjalannya waktu tradisi tersebut kini disesuaikan. Sekarang, kami cukup mengenakan selendang tenun daerah yang tersampir di bahu. Selendang ini menjadi pengingat bahwa kami lahir, dibentuk, dan dibesarkan dari akar budaya yang sama. Namun di sisi lain, selendang tersebut juga menyimbolkan keterikatan kami pada keluarga serta kebiasaan lama yang dapat menghambat pertumbuhan selama masa Novisiat. Oleh karena itu, dilepaskannya selendang tenun dari tubuh menjadi tanda nyata bahwa kami siap melepaskan diri dari segala keterikatan yang membelenggu, sehingga kami dapat menjalani setiap proses formatio ini dengan hati yang bebas.

Kitab Suci

Berpedoman pada ajaran Kristus, kami menerima Kitab Suci sebagai simbol Sabda Allah yang hidup. Melalui Kitab Suci, kami belajar mengenal Dia. Hal ini menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengenal, mendekatkan diri, dan meneladani perbuatan baik Yesus adalah dengan membaca serta merenungkan Sabda-Nya. Lebih dari itu, kami diundang untuk menghidupkan buah-buah Sabda tersebut dalam keseharian sebagai seorang Novis.

Medali Roh Kudus

Sebagai calon mempelai Allah Roh Kudus, kepada kami disematkan medali Roh Kudus yang senantiasa mengingatkan kami akan kehadiran dan peran-Nya dalam menuntun setiap langkah hidup. Karena telah memilih untuk bergabung dalam Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), kami menjadikan Roh Kudus sebagai penuntun utama dalam peziarahan ini.

Kami sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa “masa Novisiat adalah masa yang paling indah.” Berpegang pada kesaksian itu, semoga kami pun dapat merasakan hal yang sama, serta menemukan apa yang kami cari dan rindukan saat berproses dengan diri sendiri selama dua tahun masa Novisiat mendatang.

Sharing Sr. Matilde Rosario de Aroujo Efi – Novis SSpS

Dari Atambua Untuk Dunia: SSpS Utus Misionaris ke Jepang hingga Papua Nugini

Perayaan Syukur Anugerah Panggilan 24 Suster.

Sebanyak 24 suster merayakan anugerah panggilan mereka, terdiri atas 7 suster Kaul Pertama, 4 suster Kaul Kekal, 7 suster Pesta Perak (25 tahun), 2 suster Panca Windu (40 tahun), 1 suster Pesta Emas (50 tahun), dan 3 suster yang mensyukuri 60 tahun hidup membiara. Keberagaman tahap panggilan ini menjadi tanda bahwa Allah terus berkarya dalam hidup setiap pribadi yang menjawab panggilan-Nya dengan setia. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Dominikus Saku, Pr Uskup keuskupan Atambua didampingi para imam konselebran.

Atambua, 2 Juli 2026 – Suasana syukur dan sukacita memenuhi keluarga besar Suster Misionaris Abdi Roh Kudus (SSpS) saat merayakan Perayaan Syukur Kaul. Mengangkat tema “Syukur Tuhan karena begitu besar Kasih-Mu” (Yoh. 3:16), perayaan ini menjadi ungkapan iman yang mendalam atas kasih Allah. Dialah yang senantiasa setia menyertai perjalanan panggilan para suster dalam berbagai situasi serta tahapan hidup bakti mereka.

Bertolak dari bacaan Yesaya 54:10–17 dan Injil Yohanes 3:16–21, Bapak Uskup dalam homilinya mengajak umat, khususnya ke-24 yubilaris, untuk merenungkan kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. “Kasih setia Tuhan tidak akan pernah beranjak. Janji ini mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, Putra Tunggal yang dikaruniakan Allah demi keselamatan dunia. Kasih Allah yang begitu besar inilah yang menjadi dasar dari setiap panggilan sekaligus sumber kekuatan utama bagi para suster untuk terus hidup dalam kesetiaan.” Tegas Uskup Atambua.

Momen Puncak: Pengikraran Trikaul Suci & Mandat Misi

Suasana doa yang mendalam menyelimuti Gereja Katedral Atambua saat empat suster Kaul Kekal melantangkan janji suci mereka. Di hadapan Allah dan umat, mereka berikrar untuk setia hidup murni, miskin, dan taat. Keteguhan hati ini dikukuhkan dengan penerimaan salib misi ‘sebuah lambang nyata dari kesiapsediaan mereka untuk melangkah, diutus mewartakan Injil hingga ke ujung dunia, melampaui batas-batas negeri’.

Keempat suster tersebut adalah:Sr. Veronika Bele Bau, SSpS, yang menerima perutusan ke Provinsi Regina Angelorum Timor dan selanjutnya akan menjalani pelayanan misioner selama enam tahun di Papua Nugini melalui CCME; Sr. Sesilia Serfina Missa, SSpS, yang diutus ke Jepang; Sr. Bibiana Laumai, SSpS, yang diutus ke Timor Leste; serta Sr. Maria Reneldis Sutal, SSpS, yang menerima perutusan di Provinsi Timor. Pengutusan ini menjadi penegasan mendalam bahwa hidup sebagai seorang religius misionaris selalu bermuara pada satu misi suci, yaitu menghadirkan kasih Allah kepada semua orang tanpa batas.

Perayaan berlangsung dengan penuh khidmat sekaligus diliputi rasa sukacita. Kehadiran keluarga, para sahabat, perwakilan pemerintah daerah, umat, serta seluruh anggota kongregasi memperlihatkan bahwa panggilan bukanlah perjalanan seorang diri, melainkan buah dari doa dan dukungan seluruh Gereja. Di balik setiap kaul yang diikrarkan dan setiap tahun pengabdian yang dirayakan, tersimpan kisah kesetiaan Allah yang tiada henti membimbing langkah para suster dalam suka maupun duka.

Kemeriahan perayaan ini pun semakin semarak berkat pelayanan koor para frater SVD dari Ledalero yang mengiringi perayaan Ekaristi dengan nyanyian liturgi yang anggun, meriah, dan khidmat

Semoga perayaan ini menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk berani membuka hati terhadap panggilan Tuhan. Perayaan ini juga menjadi pengingat bagi seluruh umat bahwa Gereja terus hidup karena kasih Allah yang tidak pernah berkesudahan, di mana orang-orang yang dipilih-Nya selalu dimampukan oleh kasih-Nya yang begitu besar.

By, Sr. Veronika Bele Bau, SSpS