Kredo Formator: Dari “Saya” Menjadi “Kita”

Kolaborasi bukan sekadar jawaban atas keterbatasan. Justru melalui keterbatasan, kita belajar saling membutuhkan. Dari sinilah cara pandang kita perlahan bergeser: dari “provinsi saya” menjadi “provinsi kita”; dari “kami mempunyai calon” menjadi “bagaimana kita dapat berbagi”; serta dari bekerja sendiri menjadi bekerja bersama. Pernyataan inilah yang menginspirasi para suster Tim Formator Indo-Leste untuk bergelut bersama selama dua hari hingga akhirnya menghasilkan keputusan-keputusan strategis di Rumah Retret Bello, Kupang, pada 2–3 Oktober 2026.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh para formator, antara lain Sr. Maria Sada (FLE), Sr. Theresia Komang (JAV), Sr. Fransiska Dei (KAL), Sr. Melyana Mau Loko (TIM), Sr. Yovita Ngode (FLW), dan Sr. Joana Soares (TLE). Hadir pula Koordinator Formator Indo-Leste sekaligus Provinsial SSpS Jawa, Sr. Ignata Yuliati; Outgoing Koordinator Formasi Indo-Leste sekaligus Provinsial SSpS Flores Bagian Timur, Sr. Thomasin Beding; serta Provinsial SSpS Timor selaku tuan rumah, Sr. Fridolianti Seran. Pertemuan ini didampingi langsung oleh Asisten Jenderal SSpS, Sr. Mikhaelin Bupu.

Peristiwa ini menjadi kesempatan berharga untuk kembali meninjau perjalanan formasi dengan cara pandang yang lebih luas. Formasi bukanlah tugas satu orang, satu komunitas, atau satu provinsi semata. Sebaliknya, formasi adalah sebuah peziarahan bersama untuk mempersiapkan para misionaris SSpS yang berakar kuat dalam Kristus dan siap diutus ke tengah dunia yang terus berubah.

Pertemuan diawali dengan doa dan sesi berbagi (sharing) untuk mempererat kebersamaan serta mengenali latar belakang setiap anggota tim formator. Sesi ini berhasil memetakan isu-isu utama yang dihadapi para formator saat diutus dari provinsi masing-masing untuk menghadiri Pertemuan Tim Formator Indo-Leste. Dari refleksi tersebut, muncul keyakinan kuat: para formator tidak berjalan sendiri.

Sr. Mikaelin menegaskan, “Sebagai formator, para suster dipanggil untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, belajar dari keterbatasan, dan bersama-sama mencari apa yang terbaik bagi pertumbuhan para formandi dan misi Kongregasi.”

Kesadaran ini membawa para formator pada sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, “Apakah kita sedang membentuk anggota sebuah provinsi, atau anggota SSpS?” Jawabannya pun sangat jelas, “Kita membentuk anggota SSpS yang untuk sementara menjalani proses formasinya di sebuah provinsi. Karena itu, formandi bukan milik satu provinsi, melainkan karunia bagi seluruh Kongregasi.”

Melalui kesadaran mendalam ini, para suster berkomitmen untuk mengubah paradigma mereka, “Mari kita geser cara pandang kita perlahan: dari ‘provinsi saya’ menjadi ‘provinsi kita’; dari ‘kami mempunyai calon’ menjadi ‘bagaimana kita dapat berbagi’; serta dari bekerja sendiri menjadi bekerja bersama.”

Kolaborasi bukan hanya solusi atas keterbatasan. Lewat keterbatasan, kita disadarkan bahwa kita saling membutuhkan. Hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh satu provinsi secara mandiri, kini menjadi mungkin jika dikerjakan bersama. Segala aspek mulai dari tenaga, pengalaman, kompetensi, sumber daya, hingga keberanian untuk berinovasi akan menjadi kekuatan kolektif ketika saling dibagikan.

Visi ini ditransformasikan menjadi rencana aksi nyata melalui program Formasi Bersama Indo-Leste. Langkah konkretnya mencakup English for Mission, formasi interkultural, kepemimpinan misioner, pengembangan formator, serta pemanfaatan bersama tenaga dan sumber daya untuk formasi. Melalui langkah ini, kolaborasi tidak lagi sekadar gagasan, tetapi telah menjelma menjadi cara baru untuk berjalan bersama.Semangat ini juga selaras dengan perhatian Gereja terhadap kerja sama dalam pembentukan. Gereja melihat kolaborasi antarkongregasi sebagai salah satu cara untuk saling melengkapi, memperkaya proses formasi, dan membangun kesadaran akan persekutuan dalam keberagaman kharisma.

Formasi pada akhirnya bukan hanya tentang menyelesaikan suatu tahap atau mencapai target tertentu. Ini adalah proses kontinu untuk membantu seseorang semakin mengenal dirinya, bertumbuh dalam relasi dengan Allah, belajar hidup bersama, dan menemukan keberanian untuk menjawab panggilan Tuhan dalam perutusan. Atas dasar itulah, mutu dan kualitas formasi merupakan tanggung jawab kolektif.

Dari pertemuan ini, lahir sebuah seruan sederhana: jangan berjalan sendiri. Mari membuka ruang untuk saling berbagi, menimba ilmu satu sama lain, dan menyerahkan peziarahan formasi ini ke dalam rengkuhan keluarga misioner yang lebih besar.

Ketika kita melangkah bersama, keterbatasan tidak akan lagi dipandang sebagai masalah. Keterbatasan justru menjadi peluang berharga untuk saling melengkapi, saling meneguhkan, dan merayakan kekayaan hidup sebagai satu Kongregasi.

Kita sadar,

kita bersatu,

kita bergerak,

Dan kita diutus bersama.

Segala langkah ini berawal dari satu perubahan kecil dalam cara kita memandang: dari “saya” menjadi “kita”; dari “provinsi saya” menjadi “provinsi kita”; serta dari bekerja sendiri menjadi berjalan bersama demi misi.

Sr. Melyana Mau Loko, SSpS

Kala Rahmat Mengubah Logika Prestasi: Rekoleksi Suster Medior SSpS Timor

“Mental prestasi dan produktivitas yang ditebus oleh rahmat” merupakan konsep spiritual-psikologis di mana pencapaian, kerja keras, dan produktivitas manusia tidak lagi menjadi sumber kesombongan atau beban mental. Sebaliknya, seluruh pencapaian tersebut diubah menjadi rasa syukur atas kasih karunia Tuhan.

Ketika logika prestasi memasuki kehidupan religius, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah seorang religius boleh berprestasi? Pertanyaan reflektif ini membuka rangkaian seminar dan rekoleksi para Suster Medior SSpS Provinsi Regina Angelorum Timor. Kegiatan yang berlangsung di Halilulik pada 25–26 September 2026 ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta.

Para suster Medior sedang mengikuti seminar bersama RD. Okto Naif

Dalam pemaparan materinya, RD. Okto Naif mengajak para suster untuk merenung lebih dalam tentang arti prestasi mental yang ditebus dengan rahmat. Ia menjabarkannya melalui sebuah perbandingan prinsip: bukan anti-prestasi, melainkan transformasi prestasi. Logika prestasi dalam masyarakat modern kerap menjebak seseorang pada sebuah paradoks. Semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin tinggi pula standar yang dituntut darinya, yang pada akhirnya memicu keletihan eksistensial dan tekanan batin untuk terus-menerus berhasil karena merasa bahwa prestasi menentukan nilai diri, jabatan menjadi identitas, dan kegagalan dianggap sebagai kehilangan nilai menuju “alternatif komunitas religius”.

Di dalam komunitas, rahmat menentukan nilai diri, jabatan dipandang hanya sebagai amanah, serta kegagalan diubah menjadi ruang belajar dan discernment (pembedaan roh). “Kunci hidupmu bukanlah memprioritaskan keinginan yang ada dalam dirimu, tetapi menjadwalkan prioritas panggilanmu. Kamu tidak harus menjadikan dirimu sengsara untuk menjadi sukses,” pesan RD. Okto Naif.

Seminar dan rekoleksi ini diperkaya dengan perayaan Ekaristi di kapel komunitas. Melalui kebersamaan dalam Ekaristi, doa dan pembinaan yang mendalam hari ini, setiap suster diteguhkan untuk melanjutkan panggilan dan misi perutusannya dengan semangat yang baru.

MYosefin, SSpS dan Yani Fallo, SSpS

Kembali ke Rahim Ibu: 10 Suster SSpS Jalani Masa Probasi di Bello-Kupang

‘Dinyalakan oleh Kasih Allah yang Mengubah, Diutus untuk Misi’.

Sebanyak 10 Suster SSpS dari Provinsi SSpS Timor dan Provinsi SSpS Jawa memulai masa probasi di Bello, Kupang, pada Kamis (10/9/2026). Para suster tersebut terdiri dari Sr. Janice Hardianto, SSpS dari Provinsi SSpS Jawa, serta sembilan suster dari Provinsi SSpS Timor, yaitu: Sr. Maria Magdalena Brazao Oliveira, SSpS; Sr. Magdalena De Anceyeta Baria, SSpS; Sr. Fransisca A. Teme, SSpS; Sr. Deviyani L. Lada, SSpS; Sr. Godeliva M. G. Mabilani, SSpS; Sr. Beatrix E. Beni, SSpS; Sr. Innes Da Costa, SSpS; Sr. Yustina Abani, SSpS; dan Sr. Lusia Tael, SSpS.

Pembukaan masa probasi oleh Sr. Fridolianti Seran, SSpS (Provinsial SSpS Timor) diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh RD. Longinus Bone, Pr. Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Kolhua. Dalam sambutannya, Sr. Fridolianti mengajak para probanis untuk menjalani masa probasi dengan sikap terbuka, rendah hati, setia, dan siap dibimbing.

“Para suster, harap gunakan masa probasi ini dengan sungguh-sungguh. Kongregasi menyediakan waktu ini agar setiap probanis mengenal diri secara lebih mendalam, menerima proses pembentukan, semakin mantap dalam panggilan, serta siap untuk menjalankan misi perutusan,” tegas Provinsial SSpS Timor.

Kisah percakapan Yesus dan Nikodemus (Yohanes 3:1-16) menjadi inspirasi permenungan yang diusung oleh Sr. Aloisia Teti, SSpS, pendamping probanis, dengan tema “Dinyalakan oleh Kasih Allah yang Mengubah, Diutus untuk Misi” dalam rekoleksi persiapan sebelum pembukaan masa probasi. Melalui tema ini, para probanis diarahkan untuk melihat masa probasi sebagai sebuah proses perubahan dan pertumbuhan.

“Masa probasi adalah masa untuk ‘kembali ke rahim ibu’. Artinya, ini menjadi ruang untuk kembali kepada dasar panggilan, membuka diri terhadap proses pembentukan, serta membiarkan kasih Allah bekerja dan mengubah kehidupan. Karena itu, masa probasi tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, tetapi terutama menjadi masa untuk bertumbuh sebagai pribadi dan sebagai seorang religius,” jelas Sr. Aloisia.

Hal senada disuarakan oleh RD. Dus dalam khotbahnya. Ia mengajak para probanis untuk belajar dari sosok Nikodemus yang berani datang kepada Yesus dengan keterbukaan dan kerinduan untuk memahami kebenaran. Maka dari itu, para probanis diajak untuk menjadi “Nikodemus modern”, yakni pribadi yang selalu datang kepada Tuhan, membuka diri terhadap tuntunan-Nya, serta semakin berani mengakui dan menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Hadir dalam Ekaristi Kudus dan Pembukaan Masa Probasi: seluruh Tim Pimpinan Provinsi SSpS Timor, para suster dari Komunitas Merdeka dan Rumah Retret Bello, serta peserta Kursus Formator SSpS Indo-Leseta bersama ketiga pendampingnya.”

By Sr. Fransiska Teme, SSpS

Satu Misi dalam Keunikan Roh Kudus: Catatan Perjalanan Seminar Yunior SSpS Timor

Sebanyak 56 Suster Yunior SSpS Timor mengikuti Seminar Yunior SSpS Provinsi Timor Tahun 2026 yang berlangsung pada 16–19 Juli 2026. Kegiatan selama empat hari ini diadakan di Komunitas St. Scholastika Liliba, Kupang. Para peserta merupakan suster Yunior yang datang dari berbagai komunitas di seluruh Provinsi Timor. Seminar ini menjadi wadah pembinaan, refleksi, pembelajaran, sekaligus penguatan komitmen hidup religius dalam semangat persaudaraan dan misi Kongregasi.

Hari pertama (16 Juli 2026)

Bertempat di kapela, Ibadat Pembukaan dimulai dengan doa syukur pada pukul 18.00 WITA. Seminar resmi dibuka oleh Sr. Fridolianti Seran, SSpS, selaku Provinsial SSpS Timor. “Setiap peserta harus membawa pulang perubahan positif setelah mengikuti seminar ini. Pembinaan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menggerakkan hati untuk bertumbuh dan menghadirkan pembaruan dalam hidup religius maupun pelayanan,” tegas Suster Provinsial dalam sambutannya.

Penerimaan anggota baru Yunior menjadi bagian dari pertemuan ini. Tahun ini, jumlah suster Yunior bertambah dengan kehadiran tiga suster yang mengikrarkan Kaul Pertama pada 8 Desember 2025, lima suster yang berkaul pada 2 Juli 2026, serta satu suster dari Provinsi Flores Barat yang sedang menempuh studi di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan bergabung sebagai anggota Provinsi Timor. Ziarah perjalanan panggilan terus berjalan seiring waktu, dengan perarakan menuju aula komunitas. Acara berlanjut pada perkenalan peserta, orientasi seminar oleh Sr. Melyana Mau Loko, SSpS – Pemimpin Yunior SSpS Timor, serta laporan kegiatan Yunior Umum dan masing-masing distrik.

Hari ke-dua (17 Juli 2026)

“Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi? Kalau Bukan Saya, Siapa Lagi?” merupakan tema yang di usung Sr. Fridolianti. Suster provinsial mengajak para Suster Yunior untuk memiliki keberanian mengambil tanggung jawab, tidak menunda pekerjaan, serta menyadari bahwa perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri dan diwujudkan sejak saat ini.

Sementara Sr. Ignasia Oktaviana Kaunan, SSpS, Ketua Yunior Umum, memaparkan uniknya “Unity in Diversity” yang memperjelas arah dan semangat Kongregasi dalam membangun persatuan di tengah keberagaman budaya, karakter, dan latar belakang. “Setiap kita perlu berefleksi tentang sikap pribadi apa yang harus diperbarui. Kita juga harus merumuskan langkah nyata untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di dalam komunitas kita,” tegas Sr. Ignasia.

Masih dalam suasana “Unity in Diversity“, para suster Yunior menampilkan kekayaan budaya daerah asal mereka pada malam hari. Berbagai tarian dan tutur adat dipersembahkan, mulai dari budaya Malaka, Rote, Sabu, Alor, Dawan, Ende, Sumba, Manggarai, hingga Kalimantan. Pentas seni ini menjadi ungkapan syukur sekaligus wujud nyata bahwa keberagaman merupakan kekayaan yang mempersatukan seluruh anggota kongregasi.

Hari ke-tiga 18 Juli 2026

“Keindahan Kehidupan Religius SSpS” menjadi topik hangat bersama pemateri Sr. Melyana. Berawal dengan dinamika pembagian kelompok yang berlanjut pada pembagian potongan kertas kepada setiap kelompok. Para peserta diminta membentuk berbagai benda sesuai kreativitas masing-masing, memberi makna terhadap hasil karya tersebut, kemudian merefleksikannya bersama sebelum dipresentasikan.

Melalui dinamika sederhana ini, kami belajar bekerjasama, menghargai pendapat dan kreatifitas serta keunikan masing-masing pribadi. Perbedaan menjadi kekayaan bagi setiap sesama yang mau terbuka dan menerima. Sr. Melyana menegaskan, “Setiap dari kita memiliki keunikan yang dibentuk oleh Roh Kudus untuk dipersatukan dalam satu misi. Perbedaan bukan penghalang, melainkan kekayaan yang memperindah kehidupan religius kita.” Beliau menekankan, “Roh Kuduslah yang mempersatukan kita dalam komunitas dan perutusan, sehingga panggilan hidup membiara ini sungguh terasa indah dan penuh sukacita.”

Evaluasi, pemilihan Tim pengurus Yunior dan penutupan seminar

Setiap peserta mengikuti evaluasi seminar serta pemilihan Badan Pengurus Yunior Umum, Tim Buletin, dan pengurus distrik untuk periode 2026–2027. Pemilihan Ketua Yunior Umum melalui pemungutan suara secara rahasia dan penghitungan terbuka, yang berlanjut pada pemilihan wakil ketua, sekretaris, dan bendahara. Tim Pengurus Yunio terpilih; Sr. Irmina Gerda Manuni, SSpS terpilih sebagai Ketua Yunior Umum dengan memperoleh 19 suara dari 54 suara sah. Selanjutnya, Sr. Rebeka Nuban Se’u, SSpS terpilih sebagai Wakil Ketua, Sr. Rensiana Wani, SSpS sebagai Sekretaris, dan Sr. Adryani L. Fallo, SSpS sebagai Bendahara untuk masa bakti 2026–2027.

Di penghujung seminar Yunior SSpS Timor (19 Juli 2026), Sr. Melyana Mau Loko, SSpS, selaku Pemimpin Yunior SSpS Timor, mengukuhkan Badan Pengurus Yunior Umum serta pengurus Distrik Atambua dan Distrik Kupang. Dalam satu nada syukur, seluruh proses Seminar Yunior SSpS Timor Tahun 2026 telah berjalan dengan baik. Rasa syukur ini menyatu dalam perayaan Ekaristi Kudus. Harapan pun semakin diteguhkan untuk menghidupi panggilan religius dengan semangat persatuan dalam keberagaman, bertanggung jawab dalam setiap perutusan, serta menjadi pribadi yang berani menghadirkan perubahan positif bagi komunitas, Gereja, dan masyarakat sesuai dengan spiritualitas Kongregasi SSpS.

Sr. Fransisca A. Teme, SSpS

Ketika Nama Kami Dipanggil: Awal Kisah Indah di Novisiat

“Apakah yang kamu cari?” Pertanyaan ini mengajak kami, kesembilan Postulan SSpS Timor, untuk merefleksikan kembali penyerahan diri dan menyadari kehadiran Yesus dalam ziarah panggilan kami. Melalui Misa penerimaan yang dirayakan pada pagi hari ini, 4 Juli 2026. Kami diajak untuk bersyukur atas rahmat panggilan yang membawa kami melangkah ke jenjang berikutnya: masa Novisiat. Inilah masa bagi kami untuk mengenal Yesus dan diri kami dengan lebih mendalam.

Diiringi doa dan nyanyian ajakan, kami berarak masuk menuju Kapela Santa Theresia Halilulik yang telah dipenuhi oleh para suster sekomunitas serta para Novis SSpS tahun kedua. Saat melangkah masuk, kami menyadari bahwa momen ini adalah tanda penyerahan diri yang nyata. Berjalan maju langkah demi langkah menjadi simbol bagi kami untuk memulai masa Novisiat—sebuah masa di mana kami harus mampu mengintegrasikan setiap proses yang membutuhkan penyerahan diri serta kesungguhan hati.

Dalam homilinya, Romo Hendrikus Hale, Pr, selaku Pastor Paroki Halilulik, secara mendalam mengupas arti nama kami, kesembilan Postulan. Momen ini sungguh menarik bagi kami dan sesama teman angkatan, karena kami menjadi lebih memahami arti spiritual serta peran dari para santo-santa pelindung yang namanya kami sandang.

Ritual Penerimaan Novis SSpS

Nama Baru

Jika dahulu para Novis SSpS selalu diberikan nama baru yang bersumber dari Ensiklopedi Orang Kudus saat memulai masa Novisiat, kini tradisi tersebut telah berkembang. Sekarang, kami tetap mempertahankan nama permandian (baptis) demi kelancaran pengurusan dokumen pribadi di kemudian hari, tanpa mengurangi esensi sakral dari perjalanan panggilan ini.

Maka, ketika nama kami dipanggil satu per satu dan kami menjawab “Ya”, jawaban tersebut merupakan suatu komitmen untuk mau berproses selama masa Novisiat, meskipun ada perasaan yang bergejolak di dalam dada. Kami percaya momen tersebut adalah jawaban langsung atas suara panggilan Yesus yang menuntut kesiapsediaan untuk mengikuti-Nya. Di saat yang sama, kami pun mengimani bahwa para santo dan santa pelindung kami masing-masing turut mengiringi langkah dan mendoakan peziarahan panggilan ini.

Pakaian Biara

Bila masa lalu, para Postulan yang akan memasuki masa Novisiat mengenakan pakaian adat lengkap lalu menerima busana biara secara utuh, seiring berjalannya waktu tradisi tersebut kini disesuaikan. Sekarang, kami cukup mengenakan selendang tenun daerah yang tersampir di bahu. Selendang ini menjadi pengingat bahwa kami lahir, dibentuk, dan dibesarkan dari akar budaya yang sama. Namun di sisi lain, selendang tersebut juga menyimbolkan keterikatan kami pada keluarga serta kebiasaan lama yang dapat menghambat pertumbuhan selama masa Novisiat. Oleh karena itu, dilepaskannya selendang tenun dari tubuh menjadi tanda nyata bahwa kami siap melepaskan diri dari segala keterikatan yang membelenggu, sehingga kami dapat menjalani setiap proses formatio ini dengan hati yang bebas.

Kitab Suci

Berpedoman pada ajaran Kristus, kami menerima Kitab Suci sebagai simbol Sabda Allah yang hidup. Melalui Kitab Suci, kami belajar mengenal Dia. Hal ini menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengenal, mendekatkan diri, dan meneladani perbuatan baik Yesus adalah dengan membaca serta merenungkan Sabda-Nya. Lebih dari itu, kami diundang untuk menghidupkan buah-buah Sabda tersebut dalam keseharian sebagai seorang Novis.

Medali Roh Kudus

Sebagai calon mempelai Allah Roh Kudus, kepada kami disematkan medali Roh Kudus yang senantiasa mengingatkan kami akan kehadiran dan peran-Nya dalam menuntun setiap langkah hidup. Karena telah memilih untuk bergabung dalam Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), kami menjadikan Roh Kudus sebagai penuntun utama dalam peziarahan ini.

Kami sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa “masa Novisiat adalah masa yang paling indah.” Berpegang pada kesaksian itu, semoga kami pun dapat merasakan hal yang sama, serta menemukan apa yang kami cari dan rindukan saat berproses dengan diri sendiri selama dua tahun masa Novisiat mendatang.

Sharing Sr. Matilde Rosario de Aroujo Efi – Novis SSpS