Di Tengah Kebisingan Dunia, Rosario adalah Kedamaian Saya

Setiap tanggal 7 Oktober, ingatan saya selalu kembali pada momen Pertempuran Lepanto. Kenangan ini bermula saat saya menjalani misi perutusan bersama Kongregasi SSpS di Polandia dan berkesempatan mengunjungi salah satu museum di sana. Di tempat tersebut, pandangan saya terpaku pada rangkaian lukisan sejarah; mulai dari Perang Dunia II, Perang Salib, hingga, secara khusus, lukisan Pertempuran Lepanto. Lukisan itu menggambarkan mukjizat doa Rosario yang dialami oleh Paus Pius V, yang menjadi awal mula tradisi Gereja Katolik menghormati bulan Rosario, hingga puncaknya pada peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima.

Sejarah mencatat bahwa gelar Bunda Maria Ratu Rosari (Our Lady of the Rosary) berakar pada perpaduan tradisi spiritualitas dan sebuah peristiwa mukjizat militer besar pada abad ke-16 di Eropa.

Secara historis, perkembangan devosi dan gelar ini terbagi ke dalam empat fase utama:

  1. Asal-usul Devosi dan Santo Dominikus (Abad ke-13)

Menurut tradisi Gereja Katolik, asal-usul doa Rosario berkaitan erat dengan Santo Dominikus de Guzmán pada tahun 1212.

  • Penampakan Bunda Maria: Saat St. Dominikus berjuang melawan ajaran sesat kaum Albigensian di Prancis Selatan, ia berdoa dengan tekun memohon pertolongan ilahi.
  • Pemberian Rosario: Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan menyerahkan untaian manik-manik yang kini dikenal sebagai Rosario. Bunda Maria meminta Dominikus untuk mewartakan doa ini sebagai “senjata” spiritual dalam melawan kesesatan dan memperteguh iman umat.
  • Struktur Doa: Penggabungan antara doa vokal (seperti Salam Maria dan Bapa Kami) serta meditasi atas misteri kehidupan Kristus inilah yang membentuk struktur Rosario yang didaraskan oleh umat hingga saat ini.
  1. Pertempuran Lepanto: Titik Balik Sejarah (Tahun 1571)

Peristiwa utama yang menetapkan gelar resmi “Our Lady of the Rosary” terjadi beberapa abad kemudian, tepatnya pada 7 Oktober 1571.

  • Ancaman Pasukan Ottoman: Saat itu, pasukan Kesultanan Ottoman melakukan ekspansi besar-besaran untuk menguasai Eropa Kristen dan Roma. Pasukan koalisi Kristen (disebut Liga Suci) kalah jauh dalam jumlah tentara maupun armada kapal.
  • Gerakan Doa Bersama: Menghadapi situasi genting ini, Paus Pius V menyerukan agar seluruh umat Katolik di Eropa berdoa Rosario tanpa henti, memohon perlindungan dan perantaraan Bunda Maria.
  • Kemenangan yang Mustahil: Di Teluk Lepanto (dekat Yunani), pertempuran laut yang dahsyat pun pecah. Secara ajaib, arah angin mendadak berubah menguntungkan armada Kristen, sehingga mereka berhasil meraih kemenangan mutlak yang menyelamatkan Eropa. Paus Pius V pun mendapat penglihatan ilahi tentang kemenangan ini pada hari yang sama.
  1. Penetapan Hari Raya dan Bulan Rosario

Sebagai ungkapan syukur atas mukjizat tersebut, Gereja Katolik mengabadikan peristiwa ini ke dalam kalender liturgi:

  • Bunda Kemenangan (1572): Paus Pius V awalnya menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Our Lady of Victory (Bunda Kemenangan).
  • Bunda Ratu Rosari (1573): Setahun kemudian, Paus Gregorius XIII mengubah nama perayaan ini menjadi Hari Raya Rosario Suci (Feast of the Holy Rosary).
  • Bulan Rosario (1883): Paus Leo XIII secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati perlindungan serta penyertaan Bunda Maria.
  1. Penegasan di Fatima (Tahun 1917)

Sejarah memaparkan bahwa gelar ini diperteguh kembali dalam penampakan di Fatima, Portugal pada tahun 1917. Ketika menampakkan diri kepada tiga anak gembala (Lucia, Francisco, dan Jacinta), Bunda Maria secara eksplisit memperkenalkan diri dengan mengatakan, “Akulah Perawan Maria Ratu Rosari” (Our Lady of the Rosary). Beliau kembali menitipkan pesan agar umat manusia tekun berdoa Rosario setiap hari demi kedamaian dunia.

Hingga saat ini, gelar Bunda Maria Ratu Rosari dihormati oleh jutaan umat Katolik di seluruh dunia sebagai lambang perlindungan seorang Ibu, kekuatan doa yang bersahaja, serta kemenangan iman atas keputusasaan.

Pengalaman berdoa Rosario

Pengalaman berdoa Rosario menjadi sebuah perjalanan spiritual yang sangat personal, menenangkan, dan transformatif bagi saya. Melalui untaian manik-maniknya dan pengulangan doa Salam Maria, Rosario bukan sekadar rutinitas hafalan, melainkan sebuah sarana meditasi yang mendalam.

Dalam peziarahan iman saya, untaian Rosario menghadirkan rahmat-rahmat nyata berikut:

Kedamaian di Tengah Kebisingan (Sisi Meditatif)

Bagi saya, Rosario adalah bentuk terapi jiwa. Ritme doanya yang teratur; mulai dari Bapa Kami, Salam Maria, hingga Kemuliaan, berfungsi layaknya jangkar yang menenangkan pikiran yang kalut. Saat jari-jari berpindah dari satu manik ke manik lainnya, kecemasan perlahan mereda, digantikan oleh rasa hening dan kedamaian yang mendalam.

Berjalan Bersama Yesus dan Maria (Sisi Kontemplatif)

Rosario sering disebut sebagai “Ringkasan Injil”. Saat mendoakan Peristiwa Gembira, Terang, Sedih, atau Mulia, saya tidak hanya memohon perantaraan Bunda Maria, tetapi juga diajak untuk merenungkan kembali seluruh kisah hidup Yesus. Pengalaman ini menuntun saya untuk merasakan kedekatan dengan Kristus melalui mata dan hati Ibu-Nya, yang setia menemani Yesus dari palungan hingga kaki salib.

Sumber Kekuatan di Tengah Pergumulan

Dalam menghadapi masa-masa sulit seperti kedukaan, sakit, atau keputusan hidup yang berat, doa Rosario menjadi sumber penghiburan utama. Bahkan, jika belum berdoa rosario, saya merasa ada sesuatu yang kurang dan belum lengkap dalam hari saya. Saya bisa bersaksi bahwa mukjizat dan kekuatan batin sering kali lahir dari doa Rosario yang didaraskan dengan tekun dan penuh kepasrahan.

Pengikat Kebersamaan dalam Komunitas

Ketika didoakan bersama keluarga atau komunitas (khususnya pada Bulan Maria di bulan Mei dan Bulan Rosario di bulan Oktober), Rosario mampu menciptakan ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Ada rasa saling menguatkan yang mengalir saat mendengar suara sesama yang bersama-sama melambungkan doa yang sama ke surga.

Mari kita terus berdoa Rosario dan jangan pernah berhenti mendaraskannya, baik secara bersama-sama maupun pribadi. Sebab, melalui doa Rosario, kita diajak untuk terus merenungkan kembali seluruh peziarahan hidup Yesus dan Maria, Bunda kita.

MYosefin, SSpS

Kredo Formator: Dari “Saya” Menjadi “Kita”

Kolaborasi bukan sekadar jawaban atas keterbatasan. Justru melalui keterbatasan, kita belajar saling membutuhkan. Dari sinilah cara pandang kita perlahan bergeser: dari “provinsi saya” menjadi “provinsi kita”; dari “kami mempunyai calon” menjadi “bagaimana kita dapat berbagi”; serta dari bekerja sendiri menjadi bekerja bersama. Pernyataan inilah yang menginspirasi para suster Tim Formator Indo-Leste untuk bergelut bersama selama dua hari hingga akhirnya menghasilkan keputusan-keputusan strategis di Rumah Retret Bello, Kupang, pada 2–3 Oktober 2026.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh para formator, antara lain Sr. Maria Sada (FLE), Sr. Theresia Komang (JAV), Sr. Fransiska Dei (KAL), Sr. Melyana Mau Loko (TIM), Sr. Yovita Ngode (FLW), dan Sr. Joana Soares (TLE). Hadir pula Koordinator Formator Indo-Leste sekaligus Provinsial SSpS Jawa, Sr. Ignata Yuliati; Outgoing Koordinator Formasi Indo-Leste sekaligus Provinsial SSpS Flores Bagian Timur, Sr. Thomasin Beding; serta Provinsial SSpS Timor selaku tuan rumah, Sr. Fridolianti Seran. Pertemuan ini didampingi langsung oleh Asisten Jenderal SSpS, Sr. Mikhaelin Bupu.

Peristiwa ini menjadi kesempatan berharga untuk kembali meninjau perjalanan formasi dengan cara pandang yang lebih luas. Formasi bukanlah tugas satu orang, satu komunitas, atau satu provinsi semata. Sebaliknya, formasi adalah sebuah peziarahan bersama untuk mempersiapkan para misionaris SSpS yang berakar kuat dalam Kristus dan siap diutus ke tengah dunia yang terus berubah.

Pertemuan diawali dengan doa dan sesi berbagi (sharing) untuk mempererat kebersamaan serta mengenali latar belakang setiap anggota tim formator. Sesi ini berhasil memetakan isu-isu utama yang dihadapi para formator saat diutus dari provinsi masing-masing untuk menghadiri Pertemuan Tim Formator Indo-Leste. Dari refleksi tersebut, muncul keyakinan kuat: para formator tidak berjalan sendiri.

Sr. Mikaelin menegaskan, “Sebagai formator, para suster dipanggil untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, belajar dari keterbatasan, dan bersama-sama mencari apa yang terbaik bagi pertumbuhan para formandi dan misi Kongregasi.”

Kesadaran ini membawa para formator pada sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, “Apakah kita sedang membentuk anggota sebuah provinsi, atau anggota SSpS?” Jawabannya pun sangat jelas, “Kita membentuk anggota SSpS yang untuk sementara menjalani proses formasinya di sebuah provinsi. Karena itu, formandi bukan milik satu provinsi, melainkan karunia bagi seluruh Kongregasi.”

Melalui kesadaran mendalam ini, para suster berkomitmen untuk mengubah paradigma mereka, “Mari kita geser cara pandang kita perlahan: dari ‘provinsi saya’ menjadi ‘provinsi kita’; dari ‘kami mempunyai calon’ menjadi ‘bagaimana kita dapat berbagi’; serta dari bekerja sendiri menjadi bekerja bersama.”

Kolaborasi bukan hanya solusi atas keterbatasan. Lewat keterbatasan, kita disadarkan bahwa kita saling membutuhkan. Hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh satu provinsi secara mandiri, kini menjadi mungkin jika dikerjakan bersama. Segala aspek mulai dari tenaga, pengalaman, kompetensi, sumber daya, hingga keberanian untuk berinovasi akan menjadi kekuatan kolektif ketika saling dibagikan.

Visi ini ditransformasikan menjadi rencana aksi nyata melalui program Formasi Bersama Indo-Leste. Langkah konkretnya mencakup English for Mission, formasi interkultural, kepemimpinan misioner, pengembangan formator, serta pemanfaatan bersama tenaga dan sumber daya untuk formasi. Melalui langkah ini, kolaborasi tidak lagi sekadar gagasan, tetapi telah menjelma menjadi cara baru untuk berjalan bersama.Semangat ini juga selaras dengan perhatian Gereja terhadap kerja sama dalam pembentukan. Gereja melihat kolaborasi antarkongregasi sebagai salah satu cara untuk saling melengkapi, memperkaya proses formasi, dan membangun kesadaran akan persekutuan dalam keberagaman kharisma.

Formasi pada akhirnya bukan hanya tentang menyelesaikan suatu tahap atau mencapai target tertentu. Ini adalah proses kontinu untuk membantu seseorang semakin mengenal dirinya, bertumbuh dalam relasi dengan Allah, belajar hidup bersama, dan menemukan keberanian untuk menjawab panggilan Tuhan dalam perutusan. Atas dasar itulah, mutu dan kualitas formasi merupakan tanggung jawab kolektif.

Dari pertemuan ini, lahir sebuah seruan sederhana: jangan berjalan sendiri. Mari membuka ruang untuk saling berbagi, menimba ilmu satu sama lain, dan menyerahkan peziarahan formasi ini ke dalam rengkuhan keluarga misioner yang lebih besar.

Ketika kita melangkah bersama, keterbatasan tidak akan lagi dipandang sebagai masalah. Keterbatasan justru menjadi peluang berharga untuk saling melengkapi, saling meneguhkan, dan merayakan kekayaan hidup sebagai satu Kongregasi.

Kita sadar,

kita bersatu,

kita bergerak,

Dan kita diutus bersama.

Segala langkah ini berawal dari satu perubahan kecil dalam cara kita memandang: dari “saya” menjadi “kita”; dari “provinsi saya” menjadi “provinsi kita”; serta dari bekerja sendiri menjadi berjalan bersama demi misi.

Sr. Melyana Mau Loko, SSpS

Jangkar Spiritual di Manuat: Pemberkatan Biara Adorasi SSpSAP St. Mikael Malaikat Agung

Sejarah baru bagi Keuskupan Agung Kupang resmi ditorehkan pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Suasana khidmat menyelimuti wilayah Manuat, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, saat digelar Perayaan Ekaristi Kudus dan ritus pemberkatan Biara Kontemplatif Adorasi SSpSAP (Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua) St. Mikael Malaikat Agung.

Peristiwa ini menjadi momentum penuh syukur bagi para suster kontemplatif dan segenap umat Allah. Kehadiran biara baru ini membawa harapan besar: menjadi benteng doa dan rumah keheningan tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan, memancarkan rahmat, serta menumbuhkan iman yang mendalam bagi Gereja dan masyarakat luas.

Tuhan yang Utama: Keunikan SSpSAP
Ada sebuah cerita menarik saat kami tiba di lokasi. Pintu kapela masih tertutup rapat karena para suster SSpSAP sedang khusyuk berdoa. Kami; para imam, frater, dan suster, setia menunggu di bagian depan (foris) rumah. Di sinilah letak keunikan SSpSAP: Tuhan selalu menjadi yang utama, baru kemudian yang lain.

Setelah menanti sekitar 30 menit, pintu akhirnya dibuka dan kami dipersilakan masuk ke kapela serta ruang tamu. Uniknya, meski pintu sudah terbuka lebar, sosok para suster SSpSAP tetap tidak terlihat sama sekali.

Di sudut lain, persiapan kapela terus dikebut. Anggota koor tampak sibuk mempersiapkan teks lagu, menyetel musik, dan merapikan susunan kursi. Pemasangan perangkat penata suara (sound system) juga disiapkan secara matang untuk mendukung kebutuhan siaran langsung (live streaming) ke ruang tamu, ruang rekreasi, serta kepada umat yang mengikuti dari rumah mereka. Tanpa fasilitas ini, para suster dan bruder yang berada di luar kapela tidak akan dapat melihat jalannya seluruh rangkaian acara.

Ritus Pemberkatan Rumah dan Klausura
Setibanya Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni: Upacara dimulai dengan ritus pemberkatan rumah. Ada 4 tokoh penting yang memberkati Biara St. Mikael Malaikat Agung ini, yaitu Mgr. Hironimus Pakaenoni, Romo RD. Krispinus Saku (Vikjen Keuskupan Agung Kupang), Pater Dismas Mauk, SVD (Provinsial SVD Timor) dan R.D. Erick Fkun (Sekretaris Keuskupan).

Karena orang luar tidak diperbolehkan masuk ke wilayah klausura (claustrum), suster-suster SSpSAP sendiri yang bertugas membawa salib, lilin, dan air berkat. Namun, khusus untuk dokumentasi (foto dan video), dua suster SSpS (saya sendiri dan Sr. Maria Yosefina Neno) diperbolehkan ikut mendampingi Uskup dan para imam untuk memberkati ruangan serta kamar tidur para suster.

Suasana haru seketika menyelimuti hati kami yang hadir saat menyaksikan keunikan penyerahan diri para suster SSpSAP. Usai ritus pemberkatan, Uskup Agung Kupang menyerahkan kunci biara kepada Madre General Sr. M. Maria Magdalena Krusein, SSpSAP. Diikuti dengan penutupan resmi pintu klausura. Sejak saat itu, para suster merah muda telah sepenuhnya memeluk kehidupan kontemplatif, di mana kehadiran mereka kini hanya bisa dijangkau melalui batas terali besi di kapela dan ruang tamu.

Homili Uskup Agung: Biara sebagai Jangkar Spiritual
Misa Agung dipimpin langsung oleh gembalanya, Mgr. Hironimus Pakaenoni. Lantunan pujian dari koor gabungan Suster SSpS Yunior Student Liliba, Suster Probanis, serta para frater dan bruder SVD dari Soverdi Oebufu dan BBG membawakan harmoni suara yang indah, mengantar umat ke dalam suasana doa yang mendalam.

Dari mimbar Kudus, Uskup Agung Kupang menguntai homili yang menggetarkan jiwa tentang esensi biara bagi denyut nadi Gereja.

“Biara adalah jangkar spiritual, sebuah tempat sakral di mana Gereja selalu dipanggil untuk pulang dan kembali ke pusat hidupnya, yaitu Yesus Kristus yang nyata dalam Ekaristi,” tegas Mgr. Hironimus.

Dengan penuh keteduhan, Bapak Uskup mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, para Suster SSpSAP mengemban misi profetis yang sangat penting. Kehadiran mereka adalah kesaksian hidup bahwa eksistensi manusia tidak melulu soal derap aktivitas, tumpukan prestasi, kedigdayaan teknologi, maupun hiruk-pikuk kesibukan. Di atas segalanya, dunia yang rapuh ini justru sangat merindukan kuasa doa, kedalaman keheningan, dan sujud adorasi.

“Kelak, di balik terali klausura dan di hadapan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan, para suster merah muda ini akan menjadi perantara yang senantiasa memeluk dunia dalam doa. Mereka akan membawa seluruh pergumulan Gereja dan masyarakat: membalut luka-luka umat Allah, merajut harapan keluarga-keluarga, mendoakan masa depan kaum muda dan anak-anak, memeluk kaum miskin, serta menopang seluruh bangsa dan tanah air dalam untaian syafaat (syafa’ah) yang tak putus-putus,” terang Uskup Agung Kupang.

Pengangkatan Pastor Kapelan dan Penandatanganan Prasasti
Suasana di akhir Perayaan Ekaristi kian khidmat ketika Sekretaris Keuskupan, R.D. Erick Fkun, membacakan Surat Keputusan Uskup Agung Kupang. Melalui keputusan tersebut, R.D. Krispinus Saku resmi diangkat menjadi Pastor Kapelan untuk melayani kebutuhan Sakramen Ekaristi di Biara Adorasi SSpSAP. Bersamaan dengan itu, tugas mulia sebagai Bapak Pembimbing Rohani yang melayani Sakramen Rekonsiliasi dipercayakan kepada P. Simon Bata, SVD.

Momentum penuh haru terjadi di penghujung misa saat Ibu Agung SSpSAP, Sr. Maria Magdalena, menyampaikan ungkapan hati. Dengan dibantu oleh P. Dismas L. Mauk, SVD, yang menerjemahkan sambutannya, Ibu Agung menyampaikan rasa syukur dan terima kasih tak terhingga atas dukungan penuh dari Uskup Agung, Romo Vikjen, para imam, serta seluruh biarawan dan biarawati.

Ibu Agung juga menitipkan sebuah harapan besar. “Saya berharap hadirnya Biara Adorasi SSpSAP St. Mikael Malaikat Agung ini mampu menjadi magnet rohani serta ladang subur yang menumbuhkan benih-benih panggilan di hati kaum muda, sehingga semakin banyak jiwa yang terpanggil untuk mengabdikan diri pada tarekat kontemplatif ini,” harap Sr. Maria Magdalena.

Seluruh rangkaian upacara sakral ini akhirnya ditutup secara resmi melalui penandatanganan prasasti peresmian oleh Mgr. Hironimus Pakaenoni bersama Ibu Agung Sr. M. Maria Magdalena Krusein, SSpSAP, menandai babak baru karya kerasulan doa di tanah Manuat.

Reuni Spiritual “Anak-Anak Arnoldus”
Seusai ibadah, rangkaian acara berlanjut dengan momen ramah tamah dan makan siang bersama di Aula Biara. Kebersamaan ini terasa kian hangat saat para tamu undangan menikmati aneka hidangan khusus yang disediakan oleh para suster melalui jasa katering, yang didukung langsung oleh kedermawanan para donatur setia biara.

Peristiwa ini sekaligus menjadi panggung reuni spiritual yang mempertemukan “Anak-Anak Arnoldus”, sapaan akrab bagi para biarawan dan biarawati dari tiga tarekat religius yang didirikan oleh St. Arnoldus Janssen. Kehadiran para anggota SVD, SSpS, dan SSpSAP di satu altar dan satu perjamuan persaudaraan ini memancarkan aura kesatuan hati yang kuat, sekaligus memperkokoh dukungan penuh bagi biara adorasi yang baru diresmikan.

Sr. Fransiska A. Teme, SSpS dan Sr. MYosefin, SSpS

Dari Atambua Untuk Dunia: SSpS Utus Misionaris ke Jepang hingga Papua Nugini

Perayaan Syukur Anugerah Panggilan 24 Suster.

Sebanyak 24 suster merayakan anugerah panggilan mereka, terdiri atas 7 suster Kaul Pertama, 4 suster Kaul Kekal, 7 suster Pesta Perak (25 tahun), 2 suster Panca Windu (40 tahun), 1 suster Pesta Emas (50 tahun), dan 3 suster yang mensyukuri 60 tahun hidup membiara. Keberagaman tahap panggilan ini menjadi tanda bahwa Allah terus berkarya dalam hidup setiap pribadi yang menjawab panggilan-Nya dengan setia. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Dominikus Saku, Pr Uskup keuskupan Atambua didampingi para imam konselebran.

Atambua, 2 Juli 2026 – Suasana syukur dan sukacita memenuhi keluarga besar Suster Misionaris Abdi Roh Kudus (SSpS) saat merayakan Perayaan Syukur Kaul. Mengangkat tema “Syukur Tuhan karena begitu besar Kasih-Mu” (Yoh. 3:16), perayaan ini menjadi ungkapan iman yang mendalam atas kasih Allah. Dialah yang senantiasa setia menyertai perjalanan panggilan para suster dalam berbagai situasi serta tahapan hidup bakti mereka.

Bertolak dari bacaan Yesaya 54:10–17 dan Injil Yohanes 3:16–21, Bapak Uskup dalam homilinya mengajak umat, khususnya ke-24 yubilaris, untuk merenungkan kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. “Kasih setia Tuhan tidak akan pernah beranjak. Janji ini mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, Putra Tunggal yang dikaruniakan Allah demi keselamatan dunia. Kasih Allah yang begitu besar inilah yang menjadi dasar dari setiap panggilan sekaligus sumber kekuatan utama bagi para suster untuk terus hidup dalam kesetiaan.” Tegas Uskup Atambua.

Momen Puncak: Pengikraran Trikaul Suci & Mandat Misi

Suasana doa yang mendalam menyelimuti Gereja Katedral Atambua saat empat suster Kaul Kekal melantangkan janji suci mereka. Di hadapan Allah dan umat, mereka berikrar untuk setia hidup murni, miskin, dan taat. Keteguhan hati ini dikukuhkan dengan penerimaan salib misi ‘sebuah lambang nyata dari kesiapsediaan mereka untuk melangkah, diutus mewartakan Injil hingga ke ujung dunia, melampaui batas-batas negeri’.

Keempat suster tersebut adalah:Sr. Veronika Bele Bau, SSpS, yang menerima perutusan ke Provinsi Regina Angelorum Timor dan selanjutnya akan menjalani pelayanan misioner selama enam tahun di Papua Nugini melalui CCME; Sr. Sesilia Serfina Missa, SSpS, yang diutus ke Jepang; Sr. Bibiana Laumai, SSpS, yang diutus ke Timor Leste; serta Sr. Maria Reneldis Sutal, SSpS, yang menerima perutusan di Provinsi Timor. Pengutusan ini menjadi penegasan mendalam bahwa hidup sebagai seorang religius misionaris selalu bermuara pada satu misi suci, yaitu menghadirkan kasih Allah kepada semua orang tanpa batas.

Perayaan berlangsung dengan penuh khidmat sekaligus diliputi rasa sukacita. Kehadiran keluarga, para sahabat, perwakilan pemerintah daerah, umat, serta seluruh anggota kongregasi memperlihatkan bahwa panggilan bukanlah perjalanan seorang diri, melainkan buah dari doa dan dukungan seluruh Gereja. Di balik setiap kaul yang diikrarkan dan setiap tahun pengabdian yang dirayakan, tersimpan kisah kesetiaan Allah yang tiada henti membimbing langkah para suster dalam suka maupun duka.

Kemeriahan perayaan ini pun semakin semarak berkat pelayanan koor para frater SVD dari Ledalero yang mengiringi perayaan Ekaristi dengan nyanyian liturgi yang anggun, meriah, dan khidmat

Semoga perayaan ini menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk berani membuka hati terhadap panggilan Tuhan. Perayaan ini juga menjadi pengingat bagi seluruh umat bahwa Gereja terus hidup karena kasih Allah yang tidak pernah berkesudahan, di mana orang-orang yang dipilih-Nya selalu dimampukan oleh kasih-Nya yang begitu besar.

By, Sr. Veronika Bele Bau, SSpS

Ziarah Iman Abdi Roh Kudus: Dari Lorong Steyl hingga Ujung Misi

Setiap mengunjungi Rumah Misi St. Mikhael di Steyl, Belanda, doa ‘Vivat Deus Unus et Trinus in Cordibus Nostris’ (“Hiduplah Allah Tritunggal dalam hati kita dan dalam semua orang”) mengingatkan saya akan relasi Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang diwariskan oleh St. Arnoldus Janssen kepada anggota tarekatnya.

Saat melihat lukisan di lorong tengah Rumah Biara St. Mikhael, saya tertegun mengagumi kekayaan rohani St. Arnoldus. Muncul sebuah pertanyaan dalam diri saya, dari mana datangnya kekayaan rohani yang dimiliki oleh bapa pendiri kongregasi saya?

Kekayaan rohani tersebut rupanya telah beliau miliki sejak lama, berkat didikan dan teladan dari keluarganya sendiri. Rahmat ilahi yang melimpah dalam diri St. Arnoldus Janssen mengalir tiada henti, layaknya mata air di sungai yang tidak pernah kering.

Perjalanan rohani ini mengingatkan saya pada masa awal hidup membiara ketika kami para calon diajarkan sebuah lagu dari buku Gema Tahun Gereja. Meskipun nomor dan halamannya sudah tidak saya ingat lagi, bait-bait lagu dari Roma 11:33-36 itu masih terngiang jelas: ‘Alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantinya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.’

Kutipan teks Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma ini digubah menjadi sebuah lagu yang indah dan merdu. Di Indonesia, lagu berbahasa Indonesia ini dikenal luas sebagai Himne SSpS. Kedalaman maknanya, seperti yang diungkapkan Rasul Paulus, hanya dapat diimani dan tidak dapat dijelaskan oleh akal budi manusia semata. Begitu pula dengan misteri Allah Tritunggal; Ia tidak untuk sepenuhnya dimengerti secara logika, melainkan untuk diimani. Allah Tritunggal inilah yang menjadi pusat iman dan hidup setiap anggota SSpS.

 Bagi setiap Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), Hari Raya Tritunggal Mahakudus memiliki makna yang sangat sakral. Hari raya ini merupakan Pesta Nama Pelindung Utama bagi seluruh keluarga religius yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen (Keluarga Arnoldus/Steyl). Oleh karena itu, momen ini menjadi puncak permenungan yang mempersatukan seluruh karya misi kami dalam kasih Allah yang Tritunggal.

Bagi setiap Suster SSpS, Tritunggal Mahakudus bukanlah sekadar teori teologi, melainkan sumber, model, dan tujuan akhir dari seluruh hidup misioner. Adapun makna khusus Allah Tritunggal bagi kehidupan kongregasi meliputi: 1). Puncak Kehidupan Komunitas Misi: Para suster misi datang dari berbagai latar belakang budaya, suku, dan negara yang berbeda untuk hidup bersama dalam satu biara. 2). Model Persatuan yang Sempurna: Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) adalah teladan kesatuan komunitas yang paling utama. Meskipun terdiri dari tiga Pribadi yang berbeda, Mereka adalah Satu Allah yang tak terpisahkan karena ikatan kasih. 3). Inspirasi di Tanah Misi: Misteri ini menginspirasi para suster untuk hidup dalam harmoni dan persaudaraan sejati. Perbedaan karakter serta asal-usul disatukan oleh satu kasih yang sama demi pelayanan misi. 4). Partisipasi dalam Missio Dei: Bagi ketiga kongregasi didikan St. Arnoldus, misi adalah pancaran kasih Allah Tritunggal. Sebagai misionaris SSpS, kami menyadari bahwa pewartaan bukanlah proyek kemanusiaan milik kami sendiri, melainkan sebuah keikutsertaan dalam Misi Allah. Bapa mengutus Putra ke dunia, dan bersama Putra, Ia mengutus Roh Kudus untuk menyertai Gereja.

Oleh karena itu, bagi setiap Suster SSpS, pelayanan kepada kaum miskin, pembangunan sarana pendidikan, maupun perawatan orang sakit di daerah terpencil merupakan wujud nyata sebagai ‘tangan dan kaki’ dari pergerakan kasih Allah Tritunggal. Di tanah misi itulah, kami diutus untuk menghadirkan kasih Bapa, penyembuhan Putra, dan penghiburan Roh Kudus.

Selaku ‘Abdi Roh Kudus’, kami mengimani Roh Kudus sebagai Ikatan Kasih antara Bapa dan Putra. Oleh karena itu, memuji Allah Tritunggal berarti memuliakan Roh Kudus yang menuntun reksa misioner kami setiap hari. Dialah yang menganugerahkan kekuatan dan keteguhan hati di kala kami menghadapi medan perutusan yang berat dan terisolasi.

By, Maria Yosefina Neno, SSpS