Ziarah Iman Abdi Roh Kudus: Dari Lorong Steyl hingga Ujung Misi

Setiap mengunjungi Rumah Misi St. Mikhael di Steyl, Belanda, doa ‘Vivat Deus Unus et Trinus in Cordibus Nostris’ (“Hiduplah Allah Tritunggal dalam hati kita dan dalam semua orang”) mengingatkan saya akan relasi Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang diwariskan oleh St. Arnoldus Janssen kepada anggota tarekatnya.

Saat melihat lukisan di lorong tengah Rumah Biara St. Mikhael, saya tertegun mengagumi kekayaan rohani St. Arnoldus. Muncul sebuah pertanyaan dalam diri saya, dari mana datangnya kekayaan rohani yang dimiliki oleh bapa pendiri kongregasi saya?

Kekayaan rohani tersebut rupanya telah beliau miliki sejak lama, berkat didikan dan teladan dari keluarganya sendiri. Rahmat ilahi yang melimpah dalam diri St. Arnoldus Janssen mengalir tiada henti, layaknya mata air di sungai yang tidak pernah kering.

Perjalanan rohani ini mengingatkan saya pada masa awal hidup membiara ketika kami para calon diajarkan sebuah lagu dari buku Gema Tahun Gereja. Meskipun nomor dan halamannya sudah tidak saya ingat lagi, bait-bait lagu dari Roma 11:33-36 itu masih terngiang jelas: ‘Alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantinya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.’

Kutipan teks Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma ini digubah menjadi sebuah lagu yang indah dan merdu. Di Indonesia, lagu berbahasa Indonesia ini dikenal luas sebagai Himne SSpS. Kedalaman maknanya, seperti yang diungkapkan Rasul Paulus, hanya dapat diimani dan tidak dapat dijelaskan oleh akal budi manusia semata. Begitu pula dengan misteri Allah Tritunggal; Ia tidak untuk sepenuhnya dimengerti secara logika, melainkan untuk diimani. Allah Tritunggal inilah yang menjadi pusat iman dan hidup setiap anggota SSpS.

 Bagi setiap Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), Hari Raya Tritunggal Mahakudus memiliki makna yang sangat sakral. Hari raya ini merupakan Pesta Nama Pelindung Utama bagi seluruh keluarga religius yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen (Keluarga Arnoldus/Steyl). Oleh karena itu, momen ini menjadi puncak permenungan yang mempersatukan seluruh karya misi kami dalam kasih Allah yang Tritunggal.

Bagi setiap Suster SSpS, Tritunggal Mahakudus bukanlah sekadar teori teologi, melainkan sumber, model, dan tujuan akhir dari seluruh hidup misioner. Adapun makna khusus Allah Tritunggal bagi kehidupan kongregasi meliputi: 1). Puncak Kehidupan Komunitas Misi: Para suster misi datang dari berbagai latar belakang budaya, suku, dan negara yang berbeda untuk hidup bersama dalam satu biara. 2). Model Persatuan yang Sempurna: Allah Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) adalah teladan kesatuan komunitas yang paling utama. Meskipun terdiri dari tiga Pribadi yang berbeda, Mereka adalah Satu Allah yang tak terpisahkan karena ikatan kasih. 3). Inspirasi di Tanah Misi: Misteri ini menginspirasi para suster untuk hidup dalam harmoni dan persaudaraan sejati. Perbedaan karakter serta asal-usul disatukan oleh satu kasih yang sama demi pelayanan misi. 4). Partisipasi dalam Missio Dei: Bagi ketiga kongregasi didikan St. Arnoldus, misi adalah pancaran kasih Allah Tritunggal. Sebagai misionaris SSpS, kami menyadari bahwa pewartaan bukanlah proyek kemanusiaan milik kami sendiri, melainkan sebuah keikutsertaan dalam Misi Allah. Bapa mengutus Putra ke dunia, dan bersama Putra, Ia mengutus Roh Kudus untuk menyertai Gereja.

Oleh karena itu, bagi setiap Suster SSpS, pelayanan kepada kaum miskin, pembangunan sarana pendidikan, maupun perawatan orang sakit di daerah terpencil merupakan wujud nyata sebagai ‘tangan dan kaki’ dari pergerakan kasih Allah Tritunggal. Di tanah misi itulah, kami diutus untuk menghadirkan kasih Bapa, penyembuhan Putra, dan penghiburan Roh Kudus.

Selaku ‘Abdi Roh Kudus’, kami mengimani Roh Kudus sebagai Ikatan Kasih antara Bapa dan Putra. Oleh karena itu, memuji Allah Tritunggal berarti memuliakan Roh Kudus yang menuntun reksa misioner kami setiap hari. Dialah yang menganugerahkan kekuatan dan keteguhan hati di kala kami menghadapi medan perutusan yang berat dan terisolasi.

By, Maria Yosefina Neno, SSpS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *