Sosial

Sepenggal kisah nyata “Hadiah Natal-ku”

 

Perjumpaan terjadi di kala siang tadi, (Sabtu 04 Januari 2020) kami; Erna Taseseb-Aspirant dan saya Sr. Innes, SSpS pergi mengecek tanaman di kebun Makumu-Halilulik, yang sudah kami semaikan bibit jagung dua minggu yang lalu. Dengan sepeda motor kami meluncur ke kebun, membawah serta sembako seadanya buat ibu Elisabet sekeluarga (janda beranak 4 dan beberapa cucunya) yang tinggal tidak jauh dari kebun kami.

Keinginan untuk mengunjungi keluarga ini yang sudah lama terencana namun kini baru terlaksana. rumahnya Ibu Elisabeth terjarak sekitar 700-meter dari jalan raya umum yang menghubungkan transportasi Atambua-Betun dan wilayah sekitarnya. Setiap saat kami datang melihat kebun, saya berpikir gubuk mereka hanya di pakai saat datang berkebun seperti pada lasimnya para petani memiliki pondok buat berlindung di musim panas. Keingin-tahuan saya terbukti hari ini; ternyata itu bukan pondok buat berlindung di musim panas melainkan rumah tinggal ibu Elisabet sekeluarga.

Melihat kondisi rumah sekaligus dapur yang basah karena tiris (kemasukan air) sebab sudah lapuk atap rumputnya. Untuk sementara gubuk mereka dilindungi dengan seng bekas, terpal dan lempengan drom tre yang di bentuk semirip dengan seng untuk menahan angin dan hujan. Gubuk sebesar 3×4 meter di pakai untuk tidur dan masak sehingga sanitasi dan kerapian kurang terjaga. Apakah ini sebabnya ibu Elisabet menderita sakit herpes?

Hati saya menangis melihat situasi keluarga ini, “seandainya saya punyai uang cukup, saya akan memberdayakan mereka untuk mendapat rumah yang pantas dan layak untuk di huni” pikirku. Reaksi spontanku adalah kembali ke komunitas SSpS Halilulik dan mengambil barang seadanya untuk kebutuhan anak-anak selain sembako yang sudah saya berikan diawal perjumpaan kami. Dalam hati saya bertanya: Inikah hadiah natal buatku? Jika Anda dan saya berhati mulai dan mau membagi dari kelebihan dan kekuranganmu, mari kita jaring kerja sama membantu ibu Elisabeth sekeluarga.

Sr. Innes Maximiliani, Maria Tuto Amuntoda, SSpS

4 thoughts on “Sepenggal kisah nyata “Hadiah Natal-ku”

  1. Salut perjuanganmu ..wahai temanku berhati mulia..teruskan berjuang..Tuhan memerlukan insan2 sepertimu menghadirkan wajah Tuhan kepada mereka yg memerlukan???

    1. Ada berbagai cara bagi kita untuk mengalami kehadiran Tuhan dalam diri kita, untuk mengakui martabat kita sendiri sebagai anak-anak Allah, dan untuk menghargai Kehadiran Ilahi pada orang lain dengan menghormati mereka, mencintai mereka dan melayani dengan hati. Kita jalani hidup ini sebagai anak-anak Allah dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *