Perpaduan corak etnik yang kuat dari tanah Timor serta pembawaan Rambu Hagya Bani, siswi kelas 7 SMPS Putri St. Xaverius Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT yang anggun, sukses mencuri perhatian para juri di Jakarta dalam ajang Icon Pesona Batik 2026 yang diselenggarakan oleh Plor Management dan didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat.
SMPK Puteri St. Xaverius Kefamenanu adalah salah satu sekolah menengah pertama swasta yang berkomitmen untuk membentuk generasi beriman, berkarakter, cerdas, dan berprestasi. Selain fokus pada pencapaian akademik, sekolah ini mengutamakan pembinaan disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat pelayanan. Untuk mendukung potensi siswa secara menyeluruh, sekolah memberikan ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mengekspresikan bakat mereka. Langkah ini didukung penuh oleh Yayasan Regina Angelorum yang menaungi sekolah-sekolah milik suster-suster SSpS Timor melalui keterlibatan aktif dalam setiap kegiatan ekstrakurikuler.
Bergabungnya Rambu di Sanggar Sandalwood Kefamenanu sukses membawanya ke ajang nasional Pesona Batik Nusantara 2026 (Season 10) di Jakarta. Pergelaran bergengsi ini mencapai puncaknya pada pertengahan Mei, tepatnya lewat malam penganugerahan yang berlangsung khidmat pada 14–18 Mei 2026.
Perjalanan kompetisi ini sejatinya telah dimulai sejak awal tahun melalui Babak Audisi Daerah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu titik krusialnya ditandai dengan kesuksesan audisi besar yang digelar di Pekanbaru pada 26 April 2026 lalu. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, kompetisi berlanjut ke Babak Semifinal dan Final.
Momentum mendebarkan pun terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026, saat juri resmi mengumumkan jajaran Top 10 besar. Tidak butuh waktu lama, atmosfer kompetisi langsung mencair dan berganti menjadi kemeriahan rangkaian Gala Dinner serta Fashion Show berskala nasional yang bergulir hingga kurun waktu 17–18 Mei 2026.
Sepanjang pagelaran di Jakarta, Pesona Batik Nusantara tahun ini menyajikan rangkaian acara utama yang memukau para pencinta mode tanah air. Kemeriahan diawali dengan Malam Preliminary sebagai babak awal pembuktian bakat para finalis. Selanjutnya, panggung utama dihiasi oleh Fashion Show Inklusif dan Tematik yang menampilkan mahakarya lokal, salah satunya lewat peragaan busana bertajuk “Mutiara dari Timur”. Seluruh rangkaian perayaan estetika budaya ini ditutup dengan megah pada Crowning Night atau Malam Penganugerahan, yang menjadi momen emosional saat pengumuman pemenang ICON serta penobatan para juara dari berbagai kategori usia.
Rambu Hagya Bani sukses meraih juara di ajang nasional tersebut dengan mengangkat kekayaan budaya lokal TTU. Busana yang dikenakannya merupakan rancangan desainer berbakat, Adhy (Adhy Designer Indonesia / Purwakanthi Couture), yang secara apik memadukan keindahan kain tradisional dengan sentuhan modern.
Identitas Budaya Biinmaffo: Busana glamor tersebut menonjolkan kekhasan daerah TTU (yang terkenal dengan 3 teknik utama, yaitu Buna, Sotis/Lotis, dan Ikat). Teknik kerajinan tangan bermotif tinggi ini menjadi kekuatan utama karena polanya mencerminkan kultur luhur orang Timor. Tema Keaslian: Kain yang digunakan tetap mempertahankan esensi tradisional asli hasil tenunan tangan mama-mama pengrajin di TTU, namun dikemas dalam potongan gaun malam (evening gown) bertaraf nasional.
Setelah menerima penghargaan, Rambu kembali ke kampung halamannya di Kefamenanu dan disambut dengan sangat meriah. Kepala Sekolah, para guru, pegawai, dan seluruh siswa SMPK St. Xaverius Puteri menjemput sang juara secara langsung di Bundaran Kilo 9. Dari sana, Rambu diarak menuju sekolah menggunakan mobil pikap dengan kawalan ketat dari kepolisian. Kemeriahan sepanjang jalan taman kota semakin terasa dengan iringan kelompok drumben. Setibanya di gerbang sekolah, tarian adat dari para penari lokal menyambut Rambu, menciptakan suasana haru sekaligus penuh kebanggaan.
“Saya rasa bangga atas pencapaian Rambu. Ini bukti bahwa anak-anak Kefamenanu mampu bersaing dan membawa nama daerah di tingkat nasional. Rambu bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecintaan tinggi terhadap budaya,” ujar Kepala SMPS Puteri St. Xaverius Kefamenanu, Sr. Yohana Bone, SSpS.
Rambu sendiri mengakui, “Saya tidak sangka bisa dapat penghargaan ini. Saya senang bisa memperkenalkan batik dan tenunan Timor kepada lebih banyak orang. Dukungan mama dan papa membuat saya berani maju. Semoga ini bisa memotivasi teman-teman lain untuk bangga dengan budaya kita sendiri,” kata Rambu.
Keterbatasan bukanlah penghalang bagi Rambu untuk terus belajar dan berkarya. Berkat dukungan serta motivasi tanpa henti dari kedua orang tuanya, Rambu terus melangkah mengejar mimpi.
“Kami hidup sederhana dan selalu berpesan kepada Rambu untuk tidak malu dengan kondisi kami yang serbaterbatas. Hal terpenting adalah jangan berhenti belajar dan jangan pernah melupakan budaya sendiri,” tutur orang tua Rambu.
Prestasi yang diraih Rambu kini menjadi inspirasi besar. Atas keberhasilan ini, pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memberikan perhatian lebih, bukan sekadar menjadi penonton bagi semangat generasi penerus bangsa.
Pihak sekolah menegaskan, “Anak-anak seperti Rambu membutuhkan dukungan nyata dalam bentuk beasiswa, fasilitas pelatihan budaya, hingga ruang untuk promosi. Jangan sampai semangat mereka pudar hanya karena keterbatasan akses.”
Hasil wawancara Editor Website SSpS Timor dengan Sr. Selina Ninu, SSpS (Bendahara SMPK Puteri Kefamenanu)
