Bagi kami, para Probanis SSpS Timor, pengalaman live-in bukanlah sekadar program pastoral biasa. Ini adalah ruang perjumpaan nyata antara iman dan realitas hidup. Sebuah momen kenosis—pengosongan diri—di mana kami melepaskan jubah kenyamanan untuk memasuki rumah umat, menyatu dengan dinamika kehidupan, serta menyelami suka dan duka yang mereka alami.
Kegiatan live-in kali ini bertempat di Stasi Santa Maria Fatima Noelsinas, yang berlokasi di Desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang. Secara administratif, Stasi Noelsinas merupakan bagian dari wilayah reksa pastoral Paroki Santo Fransiskus dari Asisi – BTN Kolhua. Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama sepuluh hari, terhitung sejak tanggal 28 Maret hingga 6 April 2026.
Kehadiran kami berempat di tengah umat dibagi ke dalam empat keluarga di lingkungan Komunitas Umat Basis (KUB) yang berbeda. Sr. Sesilia Missa tinggal bersama keluarga Bpk. Hendrikus Rodja di KUB Sta. Maria Bunda Allah, sementara Sr. Bibiana Laumai bersama keluarga Bpk. Ari Parera di KUB St. Ignasius. Selanjutnya, Sr. Reni Sutal diterima oleh keluarga Bpk. Akitu Ruas di KUB St. Damianus, dan Sr. Veronika Bele Bau diutus ke keluarga Bpk. Ambros Ambun di KUB St. Arnoldus Janssen.
Masa live-in di Noelsinas merupakan pengalaman berharga-emosional yang mendalam bagi kami. Penyambutan yang sederhana, jujur, dan jauh dari kesan berlebihan justru memperlihatkan kekayaan spiritual umat setempat. Kami merasakan kehangatan sebuah keluarga besar di mana kehadiran kami diterima dengan tangan terbuka. Lebih dari sekadar menyediakan tempat tinggal, umat Noelsinas telah membukakan pintu hati mereka bagi kami.
Kebersamaan selama live-in terjalin melalui aktivitas harian yang sederhana, seperti berbincang hangat/berbagi cerita di teras rumah sambil menikmati kopi atau sirih pinang, hingga membantu memasak dan memberi makan ternak. Momen-momen ini menjadi ruang bagi umat untuk berbagi kisah hidup secara jujur. Dalam kesahajaan itu, kami mendengar kesaksian iman mereka di tengah keterbatasan ekonomi, tantangan keluarga, dan besarnya pengharapan mereka kepada Tuhan.”
Pengalaman di Noelsinas membawa kami pada perjumpaan dengan wajah Kristus dalam diri sesama, terutama kaum lansia, orang sakit, dan umat yang terasing dari Gereja. Kehadiran kami di sana adalah untuk mendengarkan dan menyatu dengan realitas hidup mereka. Kami juga turut ambil bagian dalam dinamika paroki melalui pelayanan Liturgi Pekan Suci, seperti dekorasi, latihan koor, dan iringan musik. Seluruh rangkaian doa serta perayaan liturgi ini menjadi sarana nyata bagi kami untuk mengalami kehadiran Kristus yang hidup.
Bagi kami, live-in bukan hanya soal menempati rumah umat, tetapi soal belajar melihat hidup melalui mata mereka yang sederhana. Kami pulang dengan membawa pesan berharga: bahwa dalam kesederhanaan tersimpan kehangatan, dalam setiap keterbatasan selalu ada harapan, dan dalam kebersamaan, Tuhan mempersatukan hati kita semua.
Live-in ini menyadarkan kami bahwa Kristus hadir di tengah umat-Nya, bahkan di tempat yang paling sederhana sekalipun. Kehadiran Tuhan tidak terbatas pada altar atau bangunan gereja; Ia hadir di mana-mana, terutama dalam hati orang-orang yang percaya dan hidup dalam cinta kasih-Nya.
“Kami umat sangat bersyukur atas kehadiran para Suster yang telah memberikan nuansa baru dalam perayaan Paskah tahun ini. Saya mengucapkan terima kasih atas setiap sharing iman yang meneguhkan, serta berbagai kegiatan seperti doa bersama, katekese, kunjungan ke umat, dan kebersamaan dalam keluarga. Kehadiran para Suster dalam mendampingi anak-anak Sekami, membantu dekorasi, hingga menyiapkan liturgi bersama panitia, telah membuat perayaan Paskah berlangsung dengan agung dan khidmat. Terima kasih banyak karena telah memilih Noelsinas sebagai tempat live-in,” ungkap Bapak Ambrosius Ambun, Ketua Stasi Sta. María Fátima Noelsinas.
By Sr. Veronika Bele Bau, SSpS
