Kembali ke Rahim Ibu: 10 Suster SSpS Jalani Masa Probasi di Bello-Kupang

‘Dinyalakan oleh Kasih Allah yang Mengubah, Diutus untuk Misi’.

Sebanyak 10 Suster SSpS dari Provinsi SSpS Timor dan Provinsi SSpS Jawa memulai masa probasi di Bello, Kupang, pada Kamis (10/9/2026). Para suster tersebut terdiri dari Sr. Janice Hardianto, SSpS dari Provinsi SSpS Jawa, serta sembilan suster dari Provinsi SSpS Timor, yaitu: Sr. Maria Magdalena Brazao Oliveira, SSpS; Sr. Magdalena De Anceyeta Baria, SSpS; Sr. Fransisca A. Teme, SSpS; Sr. Deviyani L. Lada, SSpS; Sr. Godeliva M. G. Mabilani, SSpS; Sr. Beatrix E. Beni, SSpS; Sr. Innes Da Costa, SSpS; Sr. Yustina Abani, SSpS; dan Sr. Lusia Tael, SSpS.

Pembukaan masa probasi oleh Sr. Fridolianti Seran, SSpS (Provinsial SSpS Timor) diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh RD. Longinus Bone, Pr. Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Kolhua. Dalam sambutannya, Sr. Fridolianti mengajak para probanis untuk menjalani masa probasi dengan sikap terbuka, rendah hati, setia, dan siap dibimbing.

“Para suster, harap gunakan masa probasi ini dengan sungguh-sungguh. Kongregasi menyediakan waktu ini agar setiap probanis mengenal diri secara lebih mendalam, menerima proses pembentukan, semakin mantap dalam panggilan, serta siap untuk menjalankan misi perutusan,” tegas Provinsial SSpS Timor.

Kisah percakapan Yesus dan Nikodemus (Yohanes 3:1-16) menjadi inspirasi permenungan yang diusung oleh Sr. Aloisia Teti, SSpS, pendamping probanis, dengan tema “Dinyalakan oleh Kasih Allah yang Mengubah, Diutus untuk Misi” dalam rekoleksi persiapan sebelum pembukaan masa probasi. Melalui tema ini, para probanis diarahkan untuk melihat masa probasi sebagai sebuah proses perubahan dan pertumbuhan.

“Masa probasi adalah masa untuk ‘kembali ke rahim ibu’. Artinya, ini menjadi ruang untuk kembali kepada dasar panggilan, membuka diri terhadap proses pembentukan, serta membiarkan kasih Allah bekerja dan mengubah kehidupan. Karena itu, masa probasi tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, tetapi terutama menjadi masa untuk bertumbuh sebagai pribadi dan sebagai seorang religius,” jelas Sr. Aloisia.

Hal senada disuarakan oleh RD. Dus dalam khotbahnya. Ia mengajak para probanis untuk belajar dari sosok Nikodemus yang berani datang kepada Yesus dengan keterbukaan dan kerinduan untuk memahami kebenaran. Maka dari itu, para probanis diajak untuk menjadi “Nikodemus modern”, yakni pribadi yang selalu datang kepada Tuhan, membuka diri terhadap tuntunan-Nya, serta semakin berani mengakui dan menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Hadir dalam Ekaristi Kudus dan Pembukaan Masa Probasi: seluruh Tim Pimpinan Provinsi SSpS Timor, para suster dari Komunitas Merdeka dan Rumah Retret Bello, serta peserta Kursus Formator SSpS Indo-Leseta bersama ketiga pendampingnya.”

By Sr. Fransiska Teme, SSpS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *