Gandeng SMKS Kusuma, Tim Keuskupan Atambua Latih OMK & Petani Fatuoni Mandiri

FATUONI, 5 September 2026 – Dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi umat dan memperkuat ketahanan pangan, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Fatuoni di Keuskupan Atambua menggelar kegiatan pelatihan gratis. Pelatihan ini berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif serta teknik pengolahan makanan berbasis bahan baku lokal.

Kegiatan yang berlangsung di kompleks paroki ini menyasar tiga pilar penggerak utama di pedesaan, yakni para petani, peternak, dan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Fatuoni.

Bagian dari Program Strategis Keuskupan Atambua

Kegiatan di Paroki Fatuoni ini merupakan bagian dari program strategis yang sedang digencarkan oleh Keuskupan Atambua. Saat ini, pengembangan ekonomi kreatif berbasis pengolahan makanan lokal telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas keuskupan untuk mendorong kedaulatan pangan dan ekonomi umat di wilayah perbatasan.

Demi memastikan keberlanjutan program, Keuskupan Atambua secara khusus membentuk Tim Khusus Pengembangan Ekonomi Kreatif. Tim ini bertanggung jawab penuh untuk mengkoordinasi, mendampingi, dan mengeksekusi seluruh rangkaian aktivitas pelatihan yang menyasar dua lini utama, yaitu tingkat paroki dan sekolah-sekolah Katolik se-Keuskupan Atambua.

Kolaborasi Instruktur dan Pembagian Materi Pelatihan

Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini menghadirkan instruktur berkompeten yang membagi materi sesuai dengan kebutuhan peserta di lapangan:

Sektor Peternakan: Ketua Program, Romo Edo Oeleu, Pr, didampingi oleh Mas Eko, memimpin pelatihan langsung bagi bapak-bapak petani dan peternak untuk meracik pakan ternak berkualitas bagi babi dan ayam.“Kami ingin para peternak tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan yang mahal. Dengan memanfaatkan bahan di sekitar; sagu, kelapa dan lain-lain untuk menekan biaya produksi dan keuntungan peternak otomatis meningkat,” ujar Romo Edo Oeleu, Pr di sela-sela kegiatan. Dampaknya, para peserta racik makanan ternak berlanjut para pembentukan kelompok usaha… Maju terus dan jangan menyerah…

Sementara di Sektor Kuliner Kreatif: Suster Arnolda Seran, SSpS, dibantu oleh empat siswi kelas 11 SMKS Kusuma Atambua, memimpin pelatihan bagi OMK dalam mengolah komoditas mentah menjadi aneka produk kuliner.“Semua yang dihidangkan di sini adalah ubi ungu dan putih, singkong, pisang dan talas. Kita olah menjadi kue donat, kroket, pastel, stik, cake dan bolu, nugget, brownis ubi ungu, lapis singkong, puding, dan kripik. Semua ini bahan lokal. Harap latihan ini bisa diteruskan,” kata Sr. Arnolda Seran, SSpS.

Antusiasme tinggi juga terpancar dari para peserta yang langsung mempraktikkan materi pembuatan kue. “Bagi saya, ternyata buat puding dari ubi tidak susah seperti yang saya bayangkan. Sementara membuat donat dari ubilah yang butuh proses bertahap dan butuh waktu,” ungkap salah seorang peserta pelatihan dengan penuh semangat.

Belajar Rumus Hitung Harga Jual agar Untung

Pelatihan tidak hanya berhenti pada proses memasak, tetapi juga menyentuh aspek manajemen bisnis dasar. Sesi diskusi menjadi hidup ketika Ketua OMK Paroki Fatuoni melempar pertanyaan kritis.

“Jika saya ingin menjual bolu yang entah utuh atau sudah dipotong, berapa harga yang perlu saya beri?” tanyanya.

Merespons pertanyaan tersebut, Suster Arnolda Seran, SSpS langsung memberikan gambaran nyata mengenai rumus penentuan harga. Beliau menekankan pentingnya menghitung seluruh biaya produksi yang dikeluarkan agar usaha tidak mengalami kerugian.

Suster Arnolda memerinci bahwa harga jual harus dihitung secara matang berdasarkan:

  1. Biaya Bahan Baku Baku (Food Cost): Mulai dari harga ubi, telur, kelapa, susu, hingga air yang digunakan.
  2. Biaya Operasional: kayu api untuk mengukus/memanggang, kemasan, hingga biaya transportasi.
  3. Upah Tenaga Kerja: Menghargai waktu dan tenaga yang dikeluarkan selama proses produksi, baik untuk kue utuh maupun yang dijual per potong.

Sinergi Kaum Muda dan Petani demi Masa Depan

Pastor Paroki Fatuoni, Romo Fransiskus Naikofi, Pr, menekankan bahwa keterlibatan kaum muda sangat krusial dalam program ini. Keduabelas (12) OMK yang mengikuti pelatihan hari ini, diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di paroki dengan memanfaatkan kreativitas dan bahan lokal. Di sisi lain, para petani dan peternak bertindak sebagai penyedia utama bahan baku yang berkualitas.

“Gereja tidak hanya merawat iman, tetapi juga memperjuangkan kesejahteraan hidup umatnya. Kolaborasi antara ketekunan petani dan kreativitas anak muda adalah kunci utama untuk membangkitkan ekonomi kreatif di paroki kita,” ungkap Romo Frans.

Melalui pendampingan sistematis dari tim keuskupan, Romo Frans berharap pelatihan ini melahirkan kelompok-kelompok usaha mikro baru berbasis umat. Kelompok usaha ini diharapkan mampu menopang perekonomian keluarga, membuka akses pasar yang lebih luas, sekaligus mengurangi angka pengangguran di kalangan generasi muda.

By: Maria Yosefin, SSpS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *