“Cerita Para Suster Yunior SSpS Timor Live In Sehari Bersama Pemulung, Pedagang, Anak Panti Asuhan Di Sekitar Kota Kupang”

 

Memaknai Tahun Passion For Global Mission, sebanyak 57  suster Yunior SSpS Provinsi Timor (student dan karya) mengikuti  seminar selama 3 hari dengan fokus tema “ Berakar dalam Belaskasih Allah Tritunggal dengan Cinta yang Berkobar-kobar untuk Misi Dunia.” Kegiatan ini dikemas dalam dinamika-dinamika yang kreatif; mendengarkan dan mendalami input-input yang dibawakan oleh pemateri, saling berbagi pengalaman misi di komunitas-komunitas karya dan komunitas student (syering kelompok), mendengarkan sharing para misionaris yang sedang berlibur serta Live In sehari di beberapa tempat di seputaran kota Kupang.

Sasaran misi Live In Sehari adalah para pemulung, anak–anak yang diterlantarkan oleh orangtua di Pantai Asuhan Sonaf  Manekan, dan para ibu-ibu pedagang sederhana di pasar Inpres Naikoten. Beberapa suster juga terjun langsung melakukan aksi peduli lingkungan di jalan-jalan kota Kupang untuk memungut sampah-sampah.

Sr. Kristin Maria Nahak, SSpS, Pemimpin Umum Yunior SSpS Timor mengatakan, “ kegiatan live ini adalah implementasi dari tema Seminar yaitu  kegiatan yaitu Live In Sehari bersama kelompok orang-orang sederhana di beberapa tempat di sekitar kota Kupang seperti para pedagang di pasar, anak-anak panti asuhan dan juga para pemulung. Tujuan dari live ini ini adalah para suster yunior mengalami secara langsung perjuangan, suka duka, kaum sederhana berjuang untuk mempertahankan hidup. Selain itu para suster diajak untuk belajar dan berbagi dari cerita hidup orang-orang sederhana ini; belajar mencintai pekerjaan, belajar memiliki hati yang peka dan peduli.” Lebih lanjut Sr. Kristin mengatakan, “selain dari itu kegiatan ini menyadarkan para suster bahwa belaskasih dan cinta yang berkobar untuk  misi global  mulai dari lingkup dunia terdekat yang ada di sekitar kita. Pengalaman turun langsung menjumpai kaum sederhana dan peduli ibu bumi semakin mengobarkan cinta para suster muda kepada misi global,” tandas Sr. Kristin.

Mewakili para suster muda yang melakukan kegiatan ini, Sr. Marselina Muti, SSpS dan Sr. Ines da Costa SSpS bercerita, “Pengalaman sehari bersama kaum marginal memberi kesan dan makna yang mendalam bagi kami misionaris muda Abdi Roh Kudus, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk bertahan hidup membutuhkan semangat, ketabahan dan keuletan serta pengorbanan yang tinggi. Untuk memperoleh hidup yang baik dan layak butuh perjuangan.  Untuk mendapatkan uang orang harus berkorban, bekerja dari pagi sampai malam dan bahkan dari malam sampai pagi lagi. Bahwa hidup dalam situasi apa pun perlu disyukuri dan apa pun dan bagaimana-nya kita hendaklah kita senantiasa menjadi berkat bagi sesama.

Demikian juga kesan dari Sr. Yustina Abani, SSpS dan Sr. Devi Lada, “ Kami sangat senang dan gembira mendapat kesempatan untuk berada bersama kaum kecil dan sederhan. Tuhan mengijinkan kami menemui-Nya dalam aneka wajah masyarakat kecil dan sederhana di sekitar Kota Kupang,” ungkap Sr Yustina Abani, SSpS. Kami bisa melihat dan mengalami secara langsung para pedagang kecil dan sederhana mengais rejeki untuk menyambung kehidupan keluarga.

Kami duduk bersama mereka dan membantu menjajakan dagangan mereka. Lapak jualan mereka adalah di trotoar dan di emperan toko. Berbagai jenis sayuran, umbi-umbian, serta buah-buahan, lauk pauk sederhana seperti ikan kering, tahu tempe diletakan di tempat tersebut. Terik matahari tidak mereka hiraukan asalkan jualan mereka bisa laku dan bisa menjadi berkat Tuhan buat keluarga hari itu. Mereka melakoni pekerjaan itu dengan sabar, ulet, gembira dan tulus. Seorang ibu menuturkan, “ ibu suster, kami jualan kecil-kecil begini supaya bisa sekolahkan anak-anak. Biar mereka bisa sekolah sampai di kuliah diperguruan tinggi dan bisa merubah nasib kami. Kalau kami tidak duduk jual seperti ini kami mau makan apa?”

Disini kami belajar dari para pedagang kecil sikap kerendahan hati, kesabaran ketabahan, keuletan, pantang menyerah, dan ketulusan dan kegembiraan. Satu hal yang menarik dan menjadi refleksi dan pembelajaran bagi kami adalah rendah hati menerima dan melaksanakan dengan tulus tugas apa saja yang diberikan walau pun sangat sederhana, kotor, dan dianggap sepele oleh banyak orang.

Pengalaman bersama anak-anak di panti asuhan; kami melihat dan mengalami kehidupan mereka secara langsung. Kami turut membantu memasak di dapur, mencuci pakaian, membersihkan halaman, makan bersama dengan mereka. Mereka  terlihat gembira, semangat dan bahagia dengan kondisi yang ada. Hidup sederhana apa adanya, tidak menuntut banyak. Mereka hidup dari kemurahan dan belaskasih sesama yang peduli dengan mereka. Kami belajar untuk menghayati kaul kemiskinan dengan penuh syukur dalam kesederhanaan, hidup apa adanya, berusaha untuk tidak mengikuti gaya hidup yang ditawarkan sekarang.

Pengalaman dengan para pemulung;  bersama  mereka  kami berkeliling dari satu tempat ke tempat untuk memilih dan memilah sampah. Sampah-sampah seperti botol/gelas/kaleng minuman, besi-besi bekas kami kumpulkan tersendiri dan kemudian akan dijual lagi oleh para pemulung.  Sedangkan sampah plastik dan lain-lainnya kami pilih dan tempatkan di tempat sampah yang sudah disiapkan pemerintah di sudut-sudut jalan dan lorong-lorong. Pengalaman bersama para pemulung kami belajar untuk mencintai kebersihan.

Kami belajar untuk membuang sampah pada tempatnya baik sampah organik mau pun anorganik. Selain itu kami belajar untuk selalu menghargai pekerjaan kotor dan sederhana. Sesederhananya sebuah pekerjaan sangat bernilai dan membawa dampak bagi banyak orang.

Demikian juga dengan sekelompok suster muda yang melakukan aksi peduli lingkungan. Kami berkeliling  di jalanan kota kupang memungut sampah-sampah plastik yang bertebaran dijalan-jalan dan menyimpannya di bak sampah. “Aksi ini sebagai bentuk ajakan dan seruan diam kepada masyarakat kota Kupang untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mencintai kebersihan lingkungan,” jelas Sr. Yustina Abani, SSpS.

Pengalaman sehari bersama kaum marginal memberi kesan dan makna yang mendalam bagi kami misionaris muda Abdi Roh Kudus, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk bertahan hidup membutuhkan semangat, ketabahan dan keuletan serta pengorbanan yang tinggi. Untuk memperoleh hidup yang baik dan layak butuh perjuangan.  Untuk mendapatkan uang orang harus berkorban, bekerja dari pagi sampai malam dan bahkan dari malam sampai pagi lagi. Dari perolehan itu bisa  membeli makan dan pakaian yang layak, bisa menyekolahkan anak-anak.  Bahwa hidup dalam situasi apa pun perlu disyukuri dan apa pun dan bagaimana-nya kita hendaklah kita senantiasa menjadi berkat bagi sesama.

Terimakasih untuk pengalaman indah ini. Pengalaman misi  live in sehari ini tentunya membawa suatu pembaharuan dalam diri kami suster muda sebagai generasi penerus Kongregasi terutama dalam mempersiapkan diri untuk Misi Global.

 

Laporan/Berita: Sr. Yustina Abani, SSpS dan Sr. Devi Lada SSpS
Foto-Foto: Sr Ika Bele Bau, SSpS dan Sr Devi Lada SSpS
Editor: Sr Innes Maximiliani SSpS (KomKom SSpS Timor)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *