Sebagaimana tradisi masa Natal dan Paskah, setiap paroki rutin mengundang para imam, bruder, frater, dan suster untuk melayani umat. Praktik ini telah dijalankan oleh Paroki St. Gerardus Nualain, Keuskupan Atambua, selama delapan tahun terakhir.
Tahun ini, Komunitas SSpS St. Maria Imakulata Atambua turut mengambil bagian dalam asistensi Paskah selama 4 hari (2–5 April 2026). Yakni Sr. Clarita Ut Dawa, Sr. Fransisca Teme, Sr. Yorlina Tefa, dan Sr. Godeliva Mabilani, yang dijemput langsung oleh RD. Sipri Tes Mau, Pr. ‘Kami menempuh perjalanan sekitar dua jam menuju Nualain,’ kenang Sr. Godeliva.
Selain SSpS, pelayanan tahun ini juga didukung oleh Biara Puteri Maranatha (PM), para imam Projo, serta kongregasi Schola Pios dan SVD. Para petugas tersebar di berbagai titik pelayanan, mulai dari pusat paroki hingga wilayah stasi dan kapela, seperti Kapela Abis, Henes, Debululik, Sisi, dan Stasi Piebulak.
Setibanya di paroki, kami disambut hangat oleh Pastor Paroki, RD. Okto Tae, Pastor Rekan, RD. Isto Muti, serta umat setempat. Sebagai bentuk keramah-tamahan, kami dijamu dengan minuman dan makanan ringan. “Setelah penyambutan, kami dibagi ke berbagai kapela dan stasi. RD. Sipri Tes Mau, Sr. Clarita, Sr. Fransisca, dan Sr. Wani (PM) bertugas di pusat paroki. Sementara itu, Pastor Paroki melayani di Kapela Sisi dan Pastor Rekan bersama dua orang frater bertugas di Kapela Debululik. Untuk Kapela Henes, pelayanan dipimpin oleh RP. Boni (Sch.P) didampingi seorang frater. Sedangkan di Stasi St. Benediktus Abas Piebulak, imamnya RD. Toni, Fr. Anton, Sr. Yorlina Tefa, dan saya – Sr. Godeliva.
Sebelum berpencar, Pastor Paroki berpesan ‘Selamat berasistensi bersama umat di tempat masing-masing dan selamat menikmati keindahan alam daerah ini. Mari kita berdoa agar seluruh rangkaian perayaan berjalan lancar dan didukung cuaca yang cerah. Salam untuk seluruh umat.’
Piebulak
Menurut penuturan singkat Bapak Vitalis (Sekretaris Stasi), nama Piebulak memiliki makna yang mendalam. Dalam bahasa Bunaq, Piebulak terdiri dari dua suku kata: Pie yang berarti pohon dan Bulak yang berarti putih.
Konon, wilayah ini dahulu ditumbuhi banyak pepohonan. Karena suasana pagi dan sore hari selalu diselimuti kabut tebal, embun yang menempel pada dedaunan membuat pepohonan tersebut tampak berwarna putih saat terpapar cahaya matahari di siang hari. Itulah sebabnya, hingga saat ini, tempat tersebut dikenal dengan nama Piebulak.
Kamis Putih
Peringatan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya pada 2 April 2026 diawali dengan perarakan imam, para petugas liturgi, dan kedua belas rasul. Tahun ini, peran para rasul diperagakan oleh para orang tua yang terpilih dari kalangan umat. Prosesi pembasuhan kaki pun menjadi momen yang sangat menyentuh, melambangkan simbol kesetiaan serta semangat melayani sesama dengan cinta kasih tanpa syarat.
Dalam homilinya, RD. Toni memberikan perenungan mendalam. “Apakah kita sudah saling melayani? Sejauh mana kita melakukannya? Kita harus mampu saling membasuh dengan kasih yang tulus, sebagaimana yang telah teladankan oleh Yesus,” pesan beliau. Setelah doa penutup, altar dan panti imam dikosongkan dari kain serta hiasan bunga, dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus. Upacara diakhiri dengan berkat dari Romo, yang kemudian dilanjutkan dengan ibadat Adorasi oleh setiap lingkungan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Jumat Agung 03 April 2026
Rangkaian upacara peringatan wafatnya Yesus Kristus diawali dengan ibadat Jalan Salib. Tepat pukul 11.30 WITA, seluruh umat berkumpul untuk mengikuti prosesi mengenangkan perjalanan sengsara Yesus dari istana Pilatus hingga ke puncak Golgota. Perhentian pertama dimulai dari halaman stasi dan berakhir di perhentian keempat belas yang terletak di puncak bukit Piebulak. Di bawah panduan para katekis, umat melangkah dengan penuh khidmat dalam doa sembari membawa intensi serta harapan pribadi masing-masing.
Seusai Jalan Salib, umat beristirahat sejenak sembari menunggu ibadat utama Jumat Agung. Mengingat jarak rumah yang cukup jauh dari stasi, banyak umat memilih untuk tetap berada di lokasi hingga upacara dimulai pada pukul 15.00 WITA. ‘Mereka tidak pulang, Suster. Biasanya langsung menunggu ibadat sore, baru setelah itu kembali ke rumah,’ jelas salah seorang katekis.
Ibadat Jumat Agung itu sendiri terdiri dari tiga bagian utama: (1) Liturgi Sabda: Puncaknya adalah pembacaan Kisah Sengsara Yesus Kristus (Passio) menurut Injil Yohanes dan Doa Umat Meriah. (2) Penghormatan Salib: Momen di mana umat diajak menghormati salib sebagai simbol kemenangan dan penebusan. (3) Komuni Kudus: Umat menerima roti komuni yang telah dikonsekrasi pada Misa Kamis Putih malam sebelumnya.”
Cuaca dingin di malam hari tidak menghalangi niat umat untuk menonton bersama film kisah sengsara Tuhan, ‘The Passion of the Christ’, di halaman gereja. Keheningan malam kian terasa saat umat larut dalam setiap adegan. Sesekali terdengar bisikan lirih seperti, ‘Aduh Tuhan,’ ‘Kasihan,’ dan ‘Ampun,’ yang menunjukkan betapa dalamnya mereka mengimani pengorbanan Tuhan dalam menyelamatkan umat manusia.
Sabtu Suci
Pelayanan Komuni Kudus bagi para lansia dan orang sakit dilaksanakan pada Sabtu pagi, 4 April 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bersama remaja dan anak-anak Sekami.
Malam harinya, perayaan Vigili Paskah dimulai tepat pukul 18.00 WITA. Upacara diawali dengan pemberkatan api dan lilin Paskah di depan gereja, upacara selanjutnya sesuai dengan tata perayaan Malam Paskah pada umumnya. Dalam homilinya, RD. Toni mengajak seluruh umat untuk senantiasa mengarahkan hidup kepada Kristus sebagai Sang Terang. Beliau menekankan pentingnya menjaga janji dan kesetiaan kepada Tuhan, terutama janji baptis yang telah diperbarui malam itu. Antusiasme atas cahaya Kebangkitan Tuhan pun terpancar melalui semangat anak-anak Sekami yang menyanyikan lagu ‘Cinta Kristus Telah Bernyala’ sebagai penutup rangkaian Vigili Paskah.
Minggu Paskah
Perayaan Misa Hari Minggu Paskah dimulai tepat pukul 09.00 WITA. Dalam homilinya, RD. Toni menyampaikan pesan sukacita: ‘Kita semua merayakan Paskah dengan hati yang gembira karena Tuhan telah bangkit untuk menebus dosa-dosa kita.’ Suasana syukur semakin semarak saat perarakan persembahan. Dengan penuh semangat, para penari cilik berarak menuju panti imam sambil melantunkan puji-pujian syukur kepada Tuhan dalam bahasa daerah Bunaq.
Seusai perayaan Ekaristi, kami bersalaman dengan umat dan menari Tebe bersama sebagai bentuk luapan kegembiraan atas kemenangan Paskah. Kebahagiaan tersebut kian lengkap dengan acara makan bersama sebagai wujud nyata persaudaraan sejati. Pengalaman menyaksikan dan mengalami langsung kerja sama yang terjalin erat antara semua pihak—mulai dari umat, para katekis, Pemuda Katolik, THS-THM, Legio Maria, hingga jajaran pemerintah desa, kecamatan, kepolisian, dan TNI penjaga perbatasan—telah mengajarkan saya arti semangat kolaborasi, persatuan, tanggung jawab, serta disiplin dalam tugas. Kelancaran seluruh rangkaian perayaan Tri Hari Suci ini merupakan buah manis dari kerja keras mereka, mulai dari persiapan liturgi, koor, dekorasi, hingga keamanan dan kebersihan lingkungan gereja. Kami pun sangat berterima kasih atas fasilitas penginapan serta kebutuhan makanan yang telah disediakan dengan sangat baik bagi kami.
Sebelum kami kembali ke komunitas masing-masing, umat Stasi Piebulak menghantar kami ke pusat paroki. Menghantar kembali para pelayan Tuhan rupanya telah menjadi tradisi yang mengakar di paroki ini selama bertahun-tahun. ‘Sebelum melepas kepulangan, kami meminta para Romo, Pater, Suster, dan Frater untuk membagikan kesan serta pesan selama melayani umat di sini. Setelah itu, kita akan tutup dengan doa dan makan bersama,’ jelas Pastor Paroki saat menjelaskan rangkaian acara perpisahan tersebut.
By Sr. Godeliva Mabilani, SSpS
