Sosial

Dampak COVID 19 dan Solidaritas Vivat Indonesia

Posted on

Dampak Pamdemi COVID 19 menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Hal ini terasa sangat sulit khususnya bagi para pekerja buruh harian terlebih yang tinggal di kota. Melihat dan merasakan kesulitan ini, pemerintah dan beberapa organisasi lainnya telah memberikan sumbangan dan itupun belum mencukupi kebutuhan mereka setiap hari.

Tak ketinggalan VIVAT Indonesiapun mewujudkan kepeduliaan dan solidaritasnya bagi sama saudara kita ini dengan membagikan 105 paket sembako untuk 105 warga di RW 03, Kelurahan Pisangan Baru, Kec. Matraman, Kota Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Aksi solidaritas ini berlangsung Jumat, 24 Maret 2020 dan terlaksana dengan baik berkat bantuan dan kerjasama dengan MM, Tim PSE Paroki Matraman dan para pengurus RT (RT 003, RT 004, RT 005, dan RT 008), RW 03, Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur, DKI Jakarta.

“Hari ini tahap pertama kita bagi sembako. Tahap ke-dua akan berlangsung awal bulan Mei” jelas pengurus Vivat Indonesia.

 

Sr. Genoveva Amaral, SSpS

Sosial

FPPA SSpS Timor bagi Sembako

Posted on

Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) SSpS Timor bagi sembako dan masker kepada 50 kepala keluarga orang tua murid dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mawar Melati yang adalah sekolah milik SSpS Timor dengan penanggungjawab Sr. Sisilia Ketut Sukmawati, SSpS di Haliulun, Kelurahan Fatubenao Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu – NTT.

Sembako yang dibagikan berupa beras, super mie instan, tepung terigu, telur dan bahan-bahan lainnya untuk membuat roti, kepada 30 KK dan 20 janda kemarin, Jumat, 24 April 2020. Yang membantu proses pembagian sembako ini Sr. Aloisia Teti – Provisial SSpS Timor, Sr. Maria Elma Habu  dan Sr. Eligia Aek Klau.

Mereka yang mendapat sembako dan maskter adalah warga baru (Timor Leste). Penghasilan mereka sehari-hari dari kebun. Tanaman sayur yang mereka miliki di pekarangan rumah di jual di pasar Atambua dan sekitarnya. Mereka juga membeli sayur dari para petani di tempat lain dan di jual. Tanah untuk berkebun pun bukan tanah milik mereka melainkan tanah milik penduduk lokal sehingga biasanya hasil yang diperoleh di bagi sesuai perjanjian yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak. Selama masa karantina hasil kebun yang di jual tidak mencukupi kebutuahn harian mereka. Selain pembeli yang sepi hasil kebun mereka pun tidak semuanya berhasil karena curah hujan yang tidak menentu. Ada yang bekerja sebgaia ojek dan penghasilan tergantung dari pemasukan harian mereka maka selama masa karantina penumpang pun berkurang. Situasi ini memprihatinkan jika virus corona berlangsung lama, apa yang bisa kita lakukan dengan situasi dari saudara-saudari kita ini?

“Kami beri sembako yang dapat kamu olah untuk makan bersama dalam keluargamu selama masa karantina ini. Pakai masker yang kami beri jika kamu mau keluar rumah supaya mencegah terjangkitnya Virus Corona. Dengan ini kita sudah berusaha memutuskan rantai Virus Corona” himbau Sr. Sisilia Ketut. Sementara Sr. Aloisia Teti, ketika membagikan sembako beliau memberi semangat kepada keluarga-keluarga agar tetap giat bekerja, berdoa dan terus berjuang untuk mengantisipasi terjangkitnya virus corona.

“Ibu bapak dan saudari-saudara kalau kita lihat lebih jauh tenyata ada makna di balik masa karantina ini; kita bisa berada bersama keluarga. Biasanya tiap hari bapak ke kebun, anak pergi ojek dan mama ke pasar waktu untuk berada bersama jarang karena masing-masing sibuk, bukan? Kami beri sembako ini sebagai bukti bahwa ibu bapak adalah bagian dari kami. Kita ini satu kelurga. Kami beri apa yang kami miliki sebab kami turut merasakan kekurangan yang ibu bapak alami. Kami juga rindu kunjung keluarga-keluarga di Haikrik dan Haliulun” ungkap Sr. Aloisia.

Selain pembagian sembako dan masker, FPPA juga membagi leaflet mengenai anti kekerasan dalam Rumah Tangga, anti human trafficking dan informasi mengenai pencegahan covid 19.

Sembako dan masker yang dibagikan mendapat sambutan hangat dari warga Haliulun. “Ini pertama kali kami terima sembako dan masker selama masa karantina. Terima kasih FPPA SSpS Timor!” kata salah satu warga yang mendapat bantuan sembako dan masker dan tidak mau disebutkan namanya.

Sr. Maria Vianney Rua, SSpS

Sosial

Solidaritas SSpS Timor dan COVID 19

Posted on

 

Wabah virus Corona – Covid 19 mengoncang dunia saat ini. Ketakutan, kecemasan mewarnai kehidupan manusia di seantero dunia. Ratapan dan tangisan “DIAM” keluarga korban karena tak diijikan untuk melayat sementara proses penguburan pun di urus oleh pihak yang berwajib.

Hati kami menangis, melihat, mendengar dan merasakan derita para korban, untuk itu kami SSpS Timor bertekat dalam menanggulangi Covid 19. Tim Pimpinan Kongregasi dan Propinsi menghimbau setiap suster untuk mengantisipasi tertularnya wabah ini kepada sesama. Solidaritas kami terwujud dalam doa dan membuat masker. “Saya menghimbau para suster untuk mengambil waktu doa dan mengikuti aturan pemerintah dan gereja setempat. Suster-suster yang bekerja di sekolah, rumah sakit dan sosial pastoral, saya minta untuk mengajak sesama mitra kerja kita untuk waspada terjakitnya virus corona”, ajak Suster Provinsial SSpS Timor, Aloisia Teti.

Sementara mereka yang terinfeksi virus corona untuk wilayah NTT di tangani oleh pemerintah setempat khususnya di Kupang. Sedangkan rumah sakit dan klinik-klinik kita terbuka melayani pasian yang datang. Saat ini, kita belum mengambil bagian dalam melayani para korban secara langsung, namun Pemerintah Daerah Kabupaten Belu dan Keuskupan Atambua meminta kita untuk menjahit 4000 masker sesuai standar WHO, yang akan di distribusikan ke rumah sakit-rumah sakit, paroki-paroki dan sekolah-sekolah.

Hingga saat ini belum ada korban infeksi virus corona di Kabupaten Belu. Pemerintah bekerjasama dengan Gerjea Local  dalam mempersiapkan masker untuk digunakan oleh setiap orang demi mengantisipasi wabah Virus Corona.

Mari kita jaga jarak-TINGGAL DI RUMAH! cuci tangan! tidur cukup! dan makan sehat! untuk terhindar dari virus yang mematikan.

Sr. Maria Vianney Rua, SSpS

Sosial

Sepenggal kisah nyata “Hadiah Natal-ku”

Posted on

 

Perjumpaan terjadi di kala siang tadi, (Sabtu 04 Januari 2020) kami; Erna Taseseb-Aspirant dan saya Sr. Innes, SSpS pergi mengecek tanaman di kebun Makumu-Halilulik, yang sudah kami semaikan bibit jagung dua minggu yang lalu. Dengan sepeda motor kami meluncur ke kebun, membawah serta sembako seadanya buat ibu Elisabet sekeluarga (janda beranak 4 dan beberapa cucunya) yang tinggal tidak jauh dari kebun kami.

Keinginan untuk mengunjungi keluarga ini yang sudah lama terencana namun kini baru terlaksana. rumahnya Ibu Elisabeth terjarak sekitar 700-meter dari jalan raya umum yang menghubungkan transportasi Atambua-Betun dan wilayah sekitarnya. Setiap saat kami datang melihat kebun, saya berpikir gubuk mereka hanya di pakai saat datang berkebun seperti pada lasimnya para petani memiliki pondok buat berlindung di musim panas. Keingin-tahuan saya terbukti hari ini; ternyata itu bukan pondok buat berlindung di musim panas melainkan rumah tinggal ibu Elisabet sekeluarga.

Melihat kondisi rumah sekaligus dapur yang basah karena tiris (kemasukan air) sebab sudah lapuk atap rumputnya. Untuk sementara gubuk mereka dilindungi dengan seng bekas, terpal dan lempengan drom tre yang di bentuk semirip dengan seng untuk menahan angin dan hujan. Gubuk sebesar 3×4 meter di pakai untuk tidur dan masak sehingga sanitasi dan kerapian kurang terjaga. Apakah ini sebabnya ibu Elisabet menderita sakit herpes?

Hati saya menangis melihat situasi keluarga ini, “seandainya saya punyai uang cukup, saya akan memberdayakan mereka untuk mendapat rumah yang pantas dan layak untuk di huni” pikirku. Reaksi spontanku adalah kembali ke komunitas SSpS Halilulik dan mengambil barang seadanya untuk kebutuhan anak-anak selain sembako yang sudah saya berikan diawal perjumpaan kami. Dalam hati saya bertanya: Inikah hadiah natal buatku? Jika Anda dan saya berhati mulai dan mau membagi dari kelebihan dan kekuranganmu, mari kita jaring kerja sama membantu ibu Elisabeth sekeluarga.

Sr. Innes Maximiliani, Maria Tuto Amuntoda, SSpS

Spiritual

Corpus Christi

Posted on

Corpus Christi

Corpus Christi, dikenal sebagai Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Sebelumnya itu disebut Corpus Domini (Tubuh Tuhan). Umat ​​Katolik hari ini merayakannya sebagai perayaan gereja Katolik yang ditakdirkan untuk merayakan Ekaristi dengan tujuan untuk memproklamirkan dan meningkatkan iman umat Katolik akan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus.

Hari ini gereja mengenang lembaga Ekaristi yang berlangsung pada Kamis Suci (Kamis Putih) selama Perjamuan Terakhir ketika Yesus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan pada hari Kamis setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus, yang pada gilirannya terjadi pada hari Minggu setelah Pentakosta (yaitu, 60 hari setelah Minggu Paskah).

Secara khusus, Corpus Christi dirayakan pada hari Kamis yang mengikuti hari Minggu kesembilan setelah bulan purnama pertama di belahan bumi utara. Di beberapa negara, pesta ini telah dipindahkan ke hari Minggu berikutnya agar banyak umat turut berpartisipasi dalam perayaan Corpus Christi.

Sejarah mengatakan

Pada abad pertengahan 1208 Sr. Juliana de Cornillon, Augustinian mempromosikan gagasan merayakan pesta Corpus Christi untuk menghormati tubuh dan darah Kristus yang hadir dalam Ekaristi. Unyuk pertma kalinya diadakan pesta ini di Keuskupan Liège (Belgia) pada tahun 1246. http://w2.vatican.va/content/benedict-xvi/en/audiences/2010/documents/hf_ben-xvi_aud_20101117.html

Pada tahun 1263, ketika seorang imam merayakan misa di gereja kota Bolsena (Italia) hostia yang telah dikuduskan pecah dan darah mengalir. Peristiwa ajaib ini kemudian ditetapkan sebagai pesta liturgi Corpus Christi yang ditetapkan oleh Paus Urbanus IV, (8 September 1264), melalui banteng Transiturus hoc Mundo dan Santo Thomas Aquinas ditugaskan untuk menyebarkannya dengan karyanya Oficio y Misa del Corpus, serta menyusun nyanyian Ekaristi untuk pesta tersebut, seperti Pange Lingua.

Dalam Konsili Vienne tahun 1311, Clement V memberikan aturan yang mengatur prosesi-prosesi di dalam kuil dan bahkan menunjukkan tempat untuk menduduki otoritas yang ingin ditambahkan ke parade (perarakan).

Yohanes XXII (1316), memperkenalkan delapan pameran Sakramen Mahakudus. Namun penghargaan besar diberikan oleh Paus Nicholas V ketika pada hari pesta Corpus Christi (1447), Paus Nicolas mengadakan proses Sakramen Maha Kudus di sepanjang jalan-jalan di kota Roma.

Apakah Saya telah menjadi Ekaristi bagi orang lain?

Pertanyaan ini berawal dari bacaan-bacaan hari ini (Kej 14:18-20; I Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17) pada Pesta Tubuh dan Darah Kristus yang menggambarkan pemberian Yesus secara ajaib kepada lima ribu orang dengan mengubah lima roti dan dua ikan. Pemberian makanan ini adalah gambaran awal akan hadiah Yesus dari roti Ekaristi yang akan memberi makan secara rohani bagi mereka yang percaya kepadanya, maka Ekaristi yang kita terima perlu kita bagikan kepada orang yang lapar dan haus.

Deskripsi mukjizat menunjukkan peran para murid dalam memberi makan kepada orang banyak yang ajaib. Hanya setelah mereka memberikan kepada Yesus sedikit yang mereka miliki, Yesus dapat memberkati, menghancurkan, dan mengembalikannya kepada mereka untuk dibagikan kepada orang banyak yang lapar. Lukas memberi tahu kita bahwa Yesus menuntut semua pengikutnya termasuk Anda dan saya untuk “membagikan sedikit milik kita” Tidak peduli seberapa kecil atau sekecil apapun pemberian kita, itu bisa menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk memuaskan rasa lapar orang-orang di sekitar kita.