Di Tengah Kebisingan Dunia, Rosario adalah Kedamaian Saya

Setiap tanggal 7 Oktober, ingatan saya selalu kembali pada momen Pertempuran Lepanto. Kenangan ini bermula saat saya menjalani misi perutusan bersama Kongregasi SSpS di Polandia dan berkesempatan mengunjungi salah satu museum di sana. Di tempat tersebut, pandangan saya terpaku pada rangkaian lukisan sejarah; mulai dari Perang Dunia II, Perang Salib, hingga, secara khusus, lukisan Pertempuran Lepanto. Lukisan itu menggambarkan mukjizat doa Rosario yang dialami oleh Paus Pius V, yang menjadi awal mula tradisi Gereja Katolik menghormati bulan Rosario, hingga puncaknya pada peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima.

Sejarah mencatat bahwa gelar Bunda Maria Ratu Rosari (Our Lady of the Rosary) berakar pada perpaduan tradisi spiritualitas dan sebuah peristiwa mukjizat militer besar pada abad ke-16 di Eropa.

Secara historis, perkembangan devosi dan gelar ini terbagi ke dalam empat fase utama:

  1. Asal-usul Devosi dan Santo Dominikus (Abad ke-13)

Menurut tradisi Gereja Katolik, asal-usul doa Rosario berkaitan erat dengan Santo Dominikus de Guzmán pada tahun 1212.

  • Penampakan Bunda Maria: Saat St. Dominikus berjuang melawan ajaran sesat kaum Albigensian di Prancis Selatan, ia berdoa dengan tekun memohon pertolongan ilahi.
  • Pemberian Rosario: Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan menyerahkan untaian manik-manik yang kini dikenal sebagai Rosario. Bunda Maria meminta Dominikus untuk mewartakan doa ini sebagai “senjata” spiritual dalam melawan kesesatan dan memperteguh iman umat.
  • Struktur Doa: Penggabungan antara doa vokal (seperti Salam Maria dan Bapa Kami) serta meditasi atas misteri kehidupan Kristus inilah yang membentuk struktur Rosario yang didaraskan oleh umat hingga saat ini.
  1. Pertempuran Lepanto: Titik Balik Sejarah (Tahun 1571)

Peristiwa utama yang menetapkan gelar resmi “Our Lady of the Rosary” terjadi beberapa abad kemudian, tepatnya pada 7 Oktober 1571.

  • Ancaman Pasukan Ottoman: Saat itu, pasukan Kesultanan Ottoman melakukan ekspansi besar-besaran untuk menguasai Eropa Kristen dan Roma. Pasukan koalisi Kristen (disebut Liga Suci) kalah jauh dalam jumlah tentara maupun armada kapal.
  • Gerakan Doa Bersama: Menghadapi situasi genting ini, Paus Pius V menyerukan agar seluruh umat Katolik di Eropa berdoa Rosario tanpa henti, memohon perlindungan dan perantaraan Bunda Maria.
  • Kemenangan yang Mustahil: Di Teluk Lepanto (dekat Yunani), pertempuran laut yang dahsyat pun pecah. Secara ajaib, arah angin mendadak berubah menguntungkan armada Kristen, sehingga mereka berhasil meraih kemenangan mutlak yang menyelamatkan Eropa. Paus Pius V pun mendapat penglihatan ilahi tentang kemenangan ini pada hari yang sama.
  1. Penetapan Hari Raya dan Bulan Rosario

Sebagai ungkapan syukur atas mukjizat tersebut, Gereja Katolik mengabadikan peristiwa ini ke dalam kalender liturgi:

  • Bunda Kemenangan (1572): Paus Pius V awalnya menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Our Lady of Victory (Bunda Kemenangan).
  • Bunda Ratu Rosari (1573): Setahun kemudian, Paus Gregorius XIII mengubah nama perayaan ini menjadi Hari Raya Rosario Suci (Feast of the Holy Rosary).
  • Bulan Rosario (1883): Paus Leo XIII secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati perlindungan serta penyertaan Bunda Maria.
  1. Penegasan di Fatima (Tahun 1917)

Sejarah memaparkan bahwa gelar ini diperteguh kembali dalam penampakan di Fatima, Portugal pada tahun 1917. Ketika menampakkan diri kepada tiga anak gembala (Lucia, Francisco, dan Jacinta), Bunda Maria secara eksplisit memperkenalkan diri dengan mengatakan, “Akulah Perawan Maria Ratu Rosari” (Our Lady of the Rosary). Beliau kembali menitipkan pesan agar umat manusia tekun berdoa Rosario setiap hari demi kedamaian dunia.

Hingga saat ini, gelar Bunda Maria Ratu Rosari dihormati oleh jutaan umat Katolik di seluruh dunia sebagai lambang perlindungan seorang Ibu, kekuatan doa yang bersahaja, serta kemenangan iman atas keputusasaan.

Pengalaman berdoa Rosario

Pengalaman berdoa Rosario menjadi sebuah perjalanan spiritual yang sangat personal, menenangkan, dan transformatif bagi saya. Melalui untaian manik-maniknya dan pengulangan doa Salam Maria, Rosario bukan sekadar rutinitas hafalan, melainkan sebuah sarana meditasi yang mendalam.

Dalam peziarahan iman saya, untaian Rosario menghadirkan rahmat-rahmat nyata berikut:

Kedamaian di Tengah Kebisingan (Sisi Meditatif)

Bagi saya, Rosario adalah bentuk terapi jiwa. Ritme doanya yang teratur; mulai dari Bapa Kami, Salam Maria, hingga Kemuliaan, berfungsi layaknya jangkar yang menenangkan pikiran yang kalut. Saat jari-jari berpindah dari satu manik ke manik lainnya, kecemasan perlahan mereda, digantikan oleh rasa hening dan kedamaian yang mendalam.

Berjalan Bersama Yesus dan Maria (Sisi Kontemplatif)

Rosario sering disebut sebagai “Ringkasan Injil”. Saat mendoakan Peristiwa Gembira, Terang, Sedih, atau Mulia, saya tidak hanya memohon perantaraan Bunda Maria, tetapi juga diajak untuk merenungkan kembali seluruh kisah hidup Yesus. Pengalaman ini menuntun saya untuk merasakan kedekatan dengan Kristus melalui mata dan hati Ibu-Nya, yang setia menemani Yesus dari palungan hingga kaki salib.

Sumber Kekuatan di Tengah Pergumulan

Dalam menghadapi masa-masa sulit seperti kedukaan, sakit, atau keputusan hidup yang berat, doa Rosario menjadi sumber penghiburan utama. Bahkan, jika belum berdoa rosario, saya merasa ada sesuatu yang kurang dan belum lengkap dalam hari saya. Saya bisa bersaksi bahwa mukjizat dan kekuatan batin sering kali lahir dari doa Rosario yang didaraskan dengan tekun dan penuh kepasrahan.

Pengikat Kebersamaan dalam Komunitas

Ketika didoakan bersama keluarga atau komunitas (khususnya pada Bulan Maria di bulan Mei dan Bulan Rosario di bulan Oktober), Rosario mampu menciptakan ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Ada rasa saling menguatkan yang mengalir saat mendengar suara sesama yang bersama-sama melambungkan doa yang sama ke surga.

Mari kita terus berdoa Rosario dan jangan pernah berhenti mendaraskannya, baik secara bersama-sama maupun pribadi. Sebab, melalui doa Rosario, kita diajak untuk terus merenungkan kembali seluruh peziarahan hidup Yesus dan Maria, Bunda kita.

MYosefin, SSpS

Kredo Formator: Dari “Saya” Menjadi “Kita”

Kolaborasi bukan sekadar jawaban atas keterbatasan. Justru melalui keterbatasan, kita belajar saling membutuhkan. Dari sinilah cara pandang kita perlahan bergeser: dari “provinsi saya” menjadi “provinsi kita”; dari “kami mempunyai calon” menjadi “bagaimana kita dapat berbagi”; serta dari bekerja sendiri menjadi bekerja bersama. Pernyataan inilah yang menginspirasi para suster Tim Formator Indo-Leste untuk bergelut bersama selama dua hari hingga akhirnya menghasilkan keputusan-keputusan strategis di Rumah Retret Bello, Kupang, pada 2–3 Oktober 2026.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh para formator, antara lain Sr. Maria Sada (FLE), Sr. Theresia Komang (JAV), Sr. Fransiska Dei (KAL), Sr. Melyana Mau Loko (TIM), Sr. Yovita Ngode (FLW), dan Sr. Joana Soares (TLE). Hadir pula Koordinator Formator Indo-Leste sekaligus Provinsial SSpS Jawa, Sr. Ignata Yuliati; Outgoing Koordinator Formasi Indo-Leste sekaligus Provinsial SSpS Flores Bagian Timur, Sr. Thomasin Beding; serta Provinsial SSpS Timor selaku tuan rumah, Sr. Fridolianti Seran. Pertemuan ini didampingi langsung oleh Asisten Jenderal SSpS, Sr. Mikhaelin Bupu.

Peristiwa ini menjadi kesempatan berharga untuk kembali meninjau perjalanan formasi dengan cara pandang yang lebih luas. Formasi bukanlah tugas satu orang, satu komunitas, atau satu provinsi semata. Sebaliknya, formasi adalah sebuah peziarahan bersama untuk mempersiapkan para misionaris SSpS yang berakar kuat dalam Kristus dan siap diutus ke tengah dunia yang terus berubah.

Pertemuan diawali dengan doa dan sesi berbagi (sharing) untuk mempererat kebersamaan serta mengenali latar belakang setiap anggota tim formator. Sesi ini berhasil memetakan isu-isu utama yang dihadapi para formator saat diutus dari provinsi masing-masing untuk menghadiri Pertemuan Tim Formator Indo-Leste. Dari refleksi tersebut, muncul keyakinan kuat: para formator tidak berjalan sendiri.

Sr. Mikaelin menegaskan, “Sebagai formator, para suster dipanggil untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, belajar dari keterbatasan, dan bersama-sama mencari apa yang terbaik bagi pertumbuhan para formandi dan misi Kongregasi.”

Kesadaran ini membawa para formator pada sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, “Apakah kita sedang membentuk anggota sebuah provinsi, atau anggota SSpS?” Jawabannya pun sangat jelas, “Kita membentuk anggota SSpS yang untuk sementara menjalani proses formasinya di sebuah provinsi. Karena itu, formandi bukan milik satu provinsi, melainkan karunia bagi seluruh Kongregasi.”

Melalui kesadaran mendalam ini, para suster berkomitmen untuk mengubah paradigma mereka, “Mari kita geser cara pandang kita perlahan: dari ‘provinsi saya’ menjadi ‘provinsi kita’; dari ‘kami mempunyai calon’ menjadi ‘bagaimana kita dapat berbagi’; serta dari bekerja sendiri menjadi bekerja bersama.”

Kolaborasi bukan hanya solusi atas keterbatasan. Lewat keterbatasan, kita disadarkan bahwa kita saling membutuhkan. Hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh satu provinsi secara mandiri, kini menjadi mungkin jika dikerjakan bersama. Segala aspek mulai dari tenaga, pengalaman, kompetensi, sumber daya, hingga keberanian untuk berinovasi akan menjadi kekuatan kolektif ketika saling dibagikan.

Visi ini ditransformasikan menjadi rencana aksi nyata melalui program Formasi Bersama Indo-Leste. Langkah konkretnya mencakup English for Mission, formasi interkultural, kepemimpinan misioner, pengembangan formator, serta pemanfaatan bersama tenaga dan sumber daya untuk formasi. Melalui langkah ini, kolaborasi tidak lagi sekadar gagasan, tetapi telah menjelma menjadi cara baru untuk berjalan bersama.Semangat ini juga selaras dengan perhatian Gereja terhadap kerja sama dalam pembentukan. Gereja melihat kolaborasi antarkongregasi sebagai salah satu cara untuk saling melengkapi, memperkaya proses formasi, dan membangun kesadaran akan persekutuan dalam keberagaman kharisma.

Formasi pada akhirnya bukan hanya tentang menyelesaikan suatu tahap atau mencapai target tertentu. Ini adalah proses kontinu untuk membantu seseorang semakin mengenal dirinya, bertumbuh dalam relasi dengan Allah, belajar hidup bersama, dan menemukan keberanian untuk menjawab panggilan Tuhan dalam perutusan. Atas dasar itulah, mutu dan kualitas formasi merupakan tanggung jawab kolektif.

Dari pertemuan ini, lahir sebuah seruan sederhana: jangan berjalan sendiri. Mari membuka ruang untuk saling berbagi, menimba ilmu satu sama lain, dan menyerahkan peziarahan formasi ini ke dalam rengkuhan keluarga misioner yang lebih besar.

Ketika kita melangkah bersama, keterbatasan tidak akan lagi dipandang sebagai masalah. Keterbatasan justru menjadi peluang berharga untuk saling melengkapi, saling meneguhkan, dan merayakan kekayaan hidup sebagai satu Kongregasi.

Kita sadar,

kita bersatu,

kita bergerak,

Dan kita diutus bersama.

Segala langkah ini berawal dari satu perubahan kecil dalam cara kita memandang: dari “saya” menjadi “kita”; dari “provinsi saya” menjadi “provinsi kita”; serta dari bekerja sendiri menjadi berjalan bersama demi misi.

Sr. Melyana Mau Loko, SSpS

Jangkar Spiritual di Manuat: Pemberkatan Biara Adorasi SSpSAP St. Mikael Malaikat Agung

Sejarah baru bagi Keuskupan Agung Kupang resmi ditorehkan pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Suasana khidmat menyelimuti wilayah Manuat, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, saat digelar Perayaan Ekaristi Kudus dan ritus pemberkatan Biara Kontemplatif Adorasi SSpSAP (Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua) St. Mikael Malaikat Agung.

Peristiwa ini menjadi momentum penuh syukur bagi para suster kontemplatif dan segenap umat Allah. Kehadiran biara baru ini membawa harapan besar: menjadi benteng doa dan rumah keheningan tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan, memancarkan rahmat, serta menumbuhkan iman yang mendalam bagi Gereja dan masyarakat luas.

Tuhan yang Utama: Keunikan SSpSAP
Ada sebuah cerita menarik saat kami tiba di lokasi. Pintu kapela masih tertutup rapat karena para suster SSpSAP sedang khusyuk berdoa. Kami; para imam, frater, dan suster, setia menunggu di bagian depan (foris) rumah. Di sinilah letak keunikan SSpSAP: Tuhan selalu menjadi yang utama, baru kemudian yang lain.

Setelah menanti sekitar 30 menit, pintu akhirnya dibuka dan kami dipersilakan masuk ke kapela serta ruang tamu. Uniknya, meski pintu sudah terbuka lebar, sosok para suster SSpSAP tetap tidak terlihat sama sekali.

Di sudut lain, persiapan kapela terus dikebut. Anggota koor tampak sibuk mempersiapkan teks lagu, menyetel musik, dan merapikan susunan kursi. Pemasangan perangkat penata suara (sound system) juga disiapkan secara matang untuk mendukung kebutuhan siaran langsung (live streaming) ke ruang tamu, ruang rekreasi, serta kepada umat yang mengikuti dari rumah mereka. Tanpa fasilitas ini, para suster dan bruder yang berada di luar kapela tidak akan dapat melihat jalannya seluruh rangkaian acara.

Ritus Pemberkatan Rumah dan Klausura
Setibanya Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni: Upacara dimulai dengan ritus pemberkatan rumah. Ada 4 tokoh penting yang memberkati Biara St. Mikael Malaikat Agung ini, yaitu Mgr. Hironimus Pakaenoni, Romo RD. Krispinus Saku (Vikjen Keuskupan Agung Kupang), Pater Dismas Mauk, SVD (Provinsial SVD Timor) dan R.D. Erick Fkun (Sekretaris Keuskupan).

Karena orang luar tidak diperbolehkan masuk ke wilayah klausura (claustrum), suster-suster SSpSAP sendiri yang bertugas membawa salib, lilin, dan air berkat. Namun, khusus untuk dokumentasi (foto dan video), dua suster SSpS (saya sendiri dan Sr. Maria Yosefina Neno) diperbolehkan ikut mendampingi Uskup dan para imam untuk memberkati ruangan serta kamar tidur para suster.

Suasana haru seketika menyelimuti hati kami yang hadir saat menyaksikan keunikan penyerahan diri para suster SSpSAP. Usai ritus pemberkatan, Uskup Agung Kupang menyerahkan kunci biara kepada Madre General Sr. M. Maria Magdalena Krusein, SSpSAP. Diikuti dengan penutupan resmi pintu klausura. Sejak saat itu, para suster merah muda telah sepenuhnya memeluk kehidupan kontemplatif, di mana kehadiran mereka kini hanya bisa dijangkau melalui batas terali besi di kapela dan ruang tamu.

Homili Uskup Agung: Biara sebagai Jangkar Spiritual
Misa Agung dipimpin langsung oleh gembalanya, Mgr. Hironimus Pakaenoni. Lantunan pujian dari koor gabungan Suster SSpS Yunior Student Liliba, Suster Probanis, serta para frater dan bruder SVD dari Soverdi Oebufu dan BBG membawakan harmoni suara yang indah, mengantar umat ke dalam suasana doa yang mendalam.

Dari mimbar Kudus, Uskup Agung Kupang menguntai homili yang menggetarkan jiwa tentang esensi biara bagi denyut nadi Gereja.

“Biara adalah jangkar spiritual, sebuah tempat sakral di mana Gereja selalu dipanggil untuk pulang dan kembali ke pusat hidupnya, yaitu Yesus Kristus yang nyata dalam Ekaristi,” tegas Mgr. Hironimus.

Dengan penuh keteduhan, Bapak Uskup mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, para Suster SSpSAP mengemban misi profetis yang sangat penting. Kehadiran mereka adalah kesaksian hidup bahwa eksistensi manusia tidak melulu soal derap aktivitas, tumpukan prestasi, kedigdayaan teknologi, maupun hiruk-pikuk kesibukan. Di atas segalanya, dunia yang rapuh ini justru sangat merindukan kuasa doa, kedalaman keheningan, dan sujud adorasi.

“Kelak, di balik terali klausura dan di hadapan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan, para suster merah muda ini akan menjadi perantara yang senantiasa memeluk dunia dalam doa. Mereka akan membawa seluruh pergumulan Gereja dan masyarakat: membalut luka-luka umat Allah, merajut harapan keluarga-keluarga, mendoakan masa depan kaum muda dan anak-anak, memeluk kaum miskin, serta menopang seluruh bangsa dan tanah air dalam untaian syafaat (syafa’ah) yang tak putus-putus,” terang Uskup Agung Kupang.

Pengangkatan Pastor Kapelan dan Penandatanganan Prasasti
Suasana di akhir Perayaan Ekaristi kian khidmat ketika Sekretaris Keuskupan, R.D. Erick Fkun, membacakan Surat Keputusan Uskup Agung Kupang. Melalui keputusan tersebut, R.D. Krispinus Saku resmi diangkat menjadi Pastor Kapelan untuk melayani kebutuhan Sakramen Ekaristi di Biara Adorasi SSpSAP. Bersamaan dengan itu, tugas mulia sebagai Bapak Pembimbing Rohani yang melayani Sakramen Rekonsiliasi dipercayakan kepada P. Simon Bata, SVD.

Momentum penuh haru terjadi di penghujung misa saat Ibu Agung SSpSAP, Sr. Maria Magdalena, menyampaikan ungkapan hati. Dengan dibantu oleh P. Dismas L. Mauk, SVD, yang menerjemahkan sambutannya, Ibu Agung menyampaikan rasa syukur dan terima kasih tak terhingga atas dukungan penuh dari Uskup Agung, Romo Vikjen, para imam, serta seluruh biarawan dan biarawati.

Ibu Agung juga menitipkan sebuah harapan besar. “Saya berharap hadirnya Biara Adorasi SSpSAP St. Mikael Malaikat Agung ini mampu menjadi magnet rohani serta ladang subur yang menumbuhkan benih-benih panggilan di hati kaum muda, sehingga semakin banyak jiwa yang terpanggil untuk mengabdikan diri pada tarekat kontemplatif ini,” harap Sr. Maria Magdalena.

Seluruh rangkaian upacara sakral ini akhirnya ditutup secara resmi melalui penandatanganan prasasti peresmian oleh Mgr. Hironimus Pakaenoni bersama Ibu Agung Sr. M. Maria Magdalena Krusein, SSpSAP, menandai babak baru karya kerasulan doa di tanah Manuat.

Reuni Spiritual “Anak-Anak Arnoldus”
Seusai ibadah, rangkaian acara berlanjut dengan momen ramah tamah dan makan siang bersama di Aula Biara. Kebersamaan ini terasa kian hangat saat para tamu undangan menikmati aneka hidangan khusus yang disediakan oleh para suster melalui jasa katering, yang didukung langsung oleh kedermawanan para donatur setia biara.

Peristiwa ini sekaligus menjadi panggung reuni spiritual yang mempertemukan “Anak-Anak Arnoldus”, sapaan akrab bagi para biarawan dan biarawati dari tiga tarekat religius yang didirikan oleh St. Arnoldus Janssen. Kehadiran para anggota SVD, SSpS, dan SSpSAP di satu altar dan satu perjamuan persaudaraan ini memancarkan aura kesatuan hati yang kuat, sekaligus memperkokoh dukungan penuh bagi biara adorasi yang baru diresmikan.

Sr. Fransiska A. Teme, SSpS dan Sr. MYosefin, SSpS

Kala Rahmat Mengubah Logika Prestasi: Rekoleksi Suster Medior SSpS Timor

“Mental prestasi dan produktivitas yang ditebus oleh rahmat” merupakan konsep spiritual-psikologis di mana pencapaian, kerja keras, dan produktivitas manusia tidak lagi menjadi sumber kesombongan atau beban mental. Sebaliknya, seluruh pencapaian tersebut diubah menjadi rasa syukur atas kasih karunia Tuhan.

Ketika logika prestasi memasuki kehidupan religius, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah seorang religius boleh berprestasi? Pertanyaan reflektif ini membuka rangkaian seminar dan rekoleksi para Suster Medior SSpS Provinsi Regina Angelorum Timor. Kegiatan yang berlangsung di Halilulik pada 25–26 September 2026 ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta.

Para suster Medior sedang mengikuti seminar bersama RD. Okto Naif

Dalam pemaparan materinya, RD. Okto Naif mengajak para suster untuk merenung lebih dalam tentang arti prestasi mental yang ditebus dengan rahmat. Ia menjabarkannya melalui sebuah perbandingan prinsip: bukan anti-prestasi, melainkan transformasi prestasi. Logika prestasi dalam masyarakat modern kerap menjebak seseorang pada sebuah paradoks. Semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin tinggi pula standar yang dituntut darinya, yang pada akhirnya memicu keletihan eksistensial dan tekanan batin untuk terus-menerus berhasil karena merasa bahwa prestasi menentukan nilai diri, jabatan menjadi identitas, dan kegagalan dianggap sebagai kehilangan nilai menuju “alternatif komunitas religius”.

Di dalam komunitas, rahmat menentukan nilai diri, jabatan dipandang hanya sebagai amanah, serta kegagalan diubah menjadi ruang belajar dan discernment (pembedaan roh). “Kunci hidupmu bukanlah memprioritaskan keinginan yang ada dalam dirimu, tetapi menjadwalkan prioritas panggilanmu. Kamu tidak harus menjadikan dirimu sengsara untuk menjadi sukses,” pesan RD. Okto Naif.

Seminar dan rekoleksi ini diperkaya dengan perayaan Ekaristi di kapel komunitas. Melalui kebersamaan dalam Ekaristi, doa dan pembinaan yang mendalam hari ini, setiap suster diteguhkan untuk melanjutkan panggilan dan misi perutusannya dengan semangat yang baru.

MYosefin, SSpS dan Yani Fallo, SSpS

Perkuat Tata Kelola dan Sinergi: Yasra Gelar Pertemuan Kepala Sekolah

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan memperkokoh manajemen internal lembaga, Yayasan Pendidikan Regina Angelorum Timor menggelar pertemuan intensif yang melibatkan seluruh kepala sekolah di bawah naungannya. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026, berpusat di Atambua, Kabupaten Belu,  Nusa Tenggara Timur.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh para kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD/TKK, SD, SMP, hingga SMA/SMK yang tersebar di wilayah pelayanan yayasan.

Pembukaan oleh Pengawas Yayasan selaku Pelaksana Tugas

Sehubungan dengan kondisi Ketua Yayasan yang sedang sakit, tugas kepemimpinan dan pelaksanaan agenda diambil alih oleh Pengawas Yayasan Sr. Yulita Belebau, SSpS.

Guna mencairkan suasana dan membangun energi positif di antara para peserta, kegiatan diawali dengan sesi ice breaking yang dipandu langsung oleh Pengawas Yayasan selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua. Setelah suasana kebersamaan yang hangat terbangun, beliau menyampaikan agenda utama pertemuan serta arah strategis yang ingin dicapai bersama demi kemajuan mutu sekolah se-yayasan.

Sosialisasi Regulasi: Dari Tata Kelola hingga Roadmap Sentralisasi 2028

Agenda inti pertemuan berfokus pada pembenahan sistem administrasi dan operasional satuan pendidikan melalui pemaparan beberapa poin krusial, di antaranya:

  • Tata Kelola Yayasan: Penegasan kembali struktur, fungsi, dan standar operasional prosedur demi terciptanya manajemen sekolah yang profesional.
  • Sentralisasi Keuangan: Strategi pemaparan sistem satu pintu untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas. Berdasarkan hasil pemetaan, program sentralisasi ini ditargetkan akan resmi berjalan sepenuhnya pada tahun 2028.
  • Peraturan Umum Kepegawaian & Updates: Sosialisasi regulasi ketenagakerjaan terbaru, hak dan kewajiban guru/pegawai, serta penyesuaian aturan terkini di lingkungan yayasan.

Keputusan Strategis Hasil Diskusi Kelompok

Agenda paling dinamis dalam pertemuan ini adalah diskusi kelompok untuk membedah visi dan misi sekolah berdasarkan acuan yayasan. Seluruh kepala sekolah dibagi menjadi dua kelompok besar: kelompok pertama untuk jenjang PAUD dan TKK, sedangkan kelompok kedua untuk jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK.

Dari diskusi intensif tersebut, lahir beberapa keputusan penting yang disepakati bersama:

  1. Adopsi Visi dan Misi: “Kelompok memutuskan untuk mengadopsi sepenuhnya visi dan misi yayasan serta Kemendikdasmen ke dalam visi dan misi masing-masing sekolah. Sebagai penegasan komitmen, teks visi dan misi yayasan wajib dicetak dan dipajang secara resmi berdampingan dengan teks visi dan misi sekolah di setiap instansi.
  2. Keseragaman Identitas (Seragam Yayasan): Kedua kelompok diskusi sepakat dan memutuskan untuk pengadaan seragam yayasan dengan warna yang sama untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD/TKK hingga SMA/SMK yang akan dimulai pada 2028.
  3. Peninjauan Kalender Pendidikan: Untuk draf kalender pendidikan yayasan, para kepala sekolah diberikan waktu selama satu minggu ke depan untuk mempelajari isinya secara mendalam. Jika terdapat usulan, penambahan, atau koreksi, pihak sekolah diminta untuk berkomunikasi dengan Plt. Ketua Yayasan.
  4. Perayaan HUT Yayasan & Pentas Seni: Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan pada 2 Agustus, disepakati untuk mengadakan pementasan seni budaya yang dipusatkan di SMKS Kusuma Atambua – Raibasin.
  5. Kunjungan Holistik: Pelaksanaan program kunjungan holistik antarsekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Regina Angelorum Timor untuk mempererat persaudaraan, studi banding dan mutu.
  6. Pengembangan Karakter & SDM: Pelaksanaan rekoleksi guru dan pegawai dibagi per wilayah dan per jenjang: PAUD/TKK, SD/SMP, dan SMA/SMK.

Evaluasi Strategis: Pembahasan Hasil RUA dan Sesi Tanya Jawab

Melanjutkan dinamika pertemuan, pihak pengurus yayasan memaparkan poin-poin hasil Rapat Umum Anggota (RUA) yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sesi ini krusial sebagai bentuk pelaporan arah kebijakan makro yayasan ke depan.

Rapat berlangsung dinamis, terutama saat memasuki sesi tanya jawab. Ruang diskusi ini dimanfaatkan oleh para kepala sekolah untuk mengklarifikasi kebijakan, mengajukan solusi atas tantangan di lapangan, serta menyamakan persepsi dalam mengimplementasikan program menuju tahun 2028.

Penutup: Sharing, Makan Siang Bersama, dan Sayonara

Menjelang akhir rangkaian acara, pertemuan maraton ini ditutup dengan sesi berbagi berkat dan tantangan. Para kepala sekolah saling berbagi kisah sukses serta praktik baik (best practices), sekaligus mengutarakan tantangan riil di daerah penugasan masing-masing.”

Seluruh rangkaian kegiatan strategis ini kemudian ditutup dengan hangat melalui acara makan siang bersama sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan. Acara berakhir penuh sukacita dengan sesi “Sayonara”, di mana para kepala sekolah berpamitan untuk kembali ke unit tugas masing-masing, membawa semangat baru demi kemajuan Yayasan Regina Angelorum Timor.

Sr. Maria Yosefin, SSpS