Hari Orang Sakit Sedunia

Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia yang ke-30, 11 Februari 2022 ditandai dengan perayaan Ekaristi Kudus, kunjungan orang sakit di ruang rawat inap dan donor darah.

”Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6: 36) menjadi tema yang di tawarkan kepada umat Katolik sejagat untuk mendoakan saudara-saudari kita yang sakit baik fisik maupun psikis.

Di tengah meningkatnya pelayanan , Rumah Sakit Katolik Marianum (RSKM) Halilulik bersama PMI Kabupaten Belu mengorganisir kegiatan BAKSOS yang diawali dengan perayaan Ekaristi Kudus di RSKM.  Seusai perayaan Ekaristi P. Mikhael Taneo, SVD, para suster SSpS dan staf PMI Kabupaten Belu mengunjungi pasien diruangnya masing-masing untuk mendoakan mereka dan memberi bingkisan berupa Rosario.

Selanjutnya, aksi donor darah yang melibatkan staf RSKM, guru-guru SMP dan SMAT HTM Halilulik, sebagai wujud perhatian dan kepedulian bagi kemanusiaan seperti yang dilakukan Yesus pada jaman-Nya.

Sr. Hildegunde Nino, SSpS

Kemuliaan bagi Allah Keuntungan bagi Sesama dan Beban bagi Diri Sendiri

 

Bertolak dari motto hidupnya, sesungguhnya Maria Helena menyatakan sikap penyerahan diri secara total akan kehendak Allah, dan mempercayakan seluruh hidupnya dalam terang dan bimbingan Allah Roh Kudus. Karena itu, marilah kita merefleksikan tiga dimensi utama dari motto Maria Helene Stollenwerk yakni; ‘‘KEMULIAAN, KEUNTUNGAN, DAN BEBAN”

Kita dapat merasakan betapa lamanya waktu bagi seorang Maria di rumah missi, dengan itu kita di arahkan dalam refleksi ini untuk melihat apa di balik tiga kata ini di balik seorang Maria Helena. Hal pertama adalah KEMULIAAN; berarti “Memuliakan“ dan itu berarti memberi kemuliaan.  Kata kemuliaan , seperti yang terkait dengan Allah dalam Perjanjian Lama, itu disertai dengan gagasan kemegahan. dan dalam Perjanjian Baru, kata ini berarti “martabat, kehormatan, pujian, dan penyembahan. Dan bila kita Menyatukannya, kita dapat melihat dan merefleksikan bahwa memuliakan Allah berarti mengakui kebesaran-Nya dan menghormati-Nya dengan memuji dan menyembah-Nya, karena Dia hanya satu-satunya Allah yang pantas dipuji, dihormati, dan disembah. Melihat itu, kita perlu melihat bahwa Kemuliaan Allah merupakan esensi dari sifat-Nya, dan bila kita memuliakan-Nya berarti kita mengenali esensi ini. Dan itulah yang di lakukan Maria Helena Stollenwerk. Dia melihat, merasakan, dan mengenal apa itu kemuliaan. Disini di arahkan untuk melihat bahwa persembahan diri kita kepada Allah adalah ketika kita mendekati-Nya dalam kemegahan atau keindahan kekudusan-Nya dalam penghayatan akan kaul-kaul suci kita. Dan Seperti Helena Ia Memuliakan Tuhan  dengan taat sebagai permaisuri surgawi dalam penyerahan dirinya yang total.

Yang kedua adalah KEUNTUNGAN; dalam konteks ini, marilah kita melihat keuntungan mendasar yang Helena ingin tunjukan. Yang pastinya bukan kebahagiaan sementara yang ia beri untuk orang lain. Disini kita dapat melihat, bahwa disaat dia meyerahkan diri untuk memuliakan Bapa, disitu ia menjadi berkat secara total kepada sesamanya. Dan tak lupa bahwa dalam hal ini Ia tak lupa berjalan bersama ROH KUDUS.  Bertolak dari kata Keuntungan, Helena ingin mengarahkan kita untuk melihat dan merasakan gerakan Roh Allah yang senantiasa mendorong kita dalam bertindak di setiap kegiatan misioner yang sesungguhnya perlu diutamakan dalam segala aspek. Dan kita diarahkan untuk melihat bahwa keselamatan sesama yang menjadi tujuan paling utama kita.

Dan hal paling menantang adalah kata ketiga ini, BEBAN; disini kita diarahkan untuk melihat beban mendasar yang Maria Helena ingin tunjukan bagi kita pengabdi-pengabdi Roh Kudus. Mari kita letakan dua konsep teologis untuk mengerti Beban apa yang sesungguhnya Helena maksudkan dalam moto ini. Konsep pertama adalah MENOLAK DIRI atau dengan kata paling bersahabat “Menyangkal Diri“ disini Helena membawa kita untuk memahami bahwa kita tidak hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Kristus; karena itu keinginan kitalah sebagai beban yang harus ditekan, sebab kita tidak harus melakukan kehendak kita melainkan kehendak Allah. Mari kita masuk dalam dasar biblis dengan teks Rasul Paulus yang memberi kita contoh dengan jelas tentang hal ini: “ Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah   yang telah mengasihi aku   dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. ”(Galatia 2:20). Perhatikan bahwa semua keinginan daging kita harus disalibkan bersama Kristus.

Konsep kedua adalah  MENGIKUTI TUHAN; disini kita melihat kembali kepada penyerahan diri secara total dan utuh dari Maria Helena stollenwerk. Dalam refleksi ini, kita di beri pilihan untuk mengambil bagian dari salib Tuhan itu sendiri sebab bukankah sebagai seorang misionaris haruslah memikul beban dan berjalan,….ya,,,,, Salib seorang misionaris harus dipikul dan dijadikan sebagai bagian hidup kita sebagai pengabdi roh Kudus. Sebab ini akan senada dengan apa yang dikumandangkan dalam motto ibu kita tercinta Maria Helena Stollenwerk.”KEMULIAAN BAGI ALLAH, KEUNTUNGAN BAGI SESAMA & BEBAN BAGI DIRI SENDIRI”

Di balik tema yang indah ini, dan bertolak dari refleksi kita di atas, mari kita lihat ada apa di balik ketiga kata yang kita refleksikan ini. Ada ALLAH, SESAMA dan DIRI SENDIRI. Bukankan tiga hal mendasar inilah yang paling utama dalam missi kita? Bila saya menyadari bahwa sampai saat ini saya berada disini karena ALLAH dan untuk ALLAH dengan sebuah tujuan? Lalu saya bisa bertanya apa tujuan yang dimaksud Allah! Kalau bukan untuk SESAMA? Lalu bila saya membalik pertanyaan ini, apakah ini menjadi BEBAN? Ini lanjutan refleksi bagi kita semua menjelang pesta Ibu Maria Helena Stollenwerk.

Dan mungkin lebih berkesan, marilah kita melihat Hidup Helena sebagai motivasi. yakni Bekerjalah dalam kebun anggur Tuhan dan janganlah menjadi jenuh, bekerjalah sesuai kemampuanmu untuk keselamatan orang-orang yang diserahkan kepadamu, Itulah mandat misi yang sebenarnya diberikan kepada kita sejak awal. Allah yang berkarya dalam diri hamba-Nya ibu Maria Helena memandatkan kepada kita suatu tugas yang harus kita embani, yaitu mengarahkan hidup dan segala usaha kita kepada kemuliaan Allah yang lebih besar serta keselamatan jiwa-jiwa. Jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya kerinduan terdalam Helena sejak awal petualang dalam proses pencarian sampai pada tahap penantian selama betahun-tahun bekerja sebagai pembatu dirumah misi Style karena ingin bermisi untuk melayani orang-orang kecil di Cina.  Kerinduan terdalam yang tidak bisa dibendungi oleh apapun yaitu ingin bermisi di Cina. Suatu keinginan diluar batas kemungkinan pada zaman itu. sangat disayangkan juga bahwa kerinduan dan semangatnya untuk ke misi tak pernah tercapai, namun satu hal yang pasti yaitu semangat misionernya tak pernah padam, hal ini terbukti dengan sangat jelas melalui kata-katanya:”kita adalah suster-suster misi, dan panggilan seorang suster misi  adalah mengorbankan diri demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa yang tak dapat mati”. Keyakinan teguh inilah yang membuat Helena taat penuh pada kehendak Allah…’’’’BERCERMINLAH PADA FIGUR SEDERHANA INI DALAM SEMANGAT PENYERAHAN DIRI DAN SEMANGAT MISIONER….

Petrosa dan Edel, SSpS – Probanis Timor

PGG mendoakan Perdamaian Dunia

Kerinduan orang muda untuk berada bersama tidak mengenal lelah sekalipun aturan COVID Pandemik membatasi ruang gerak mereka. Demikian aksi “Peace Generation Girls” (PGG) bagi perdamaian dunia dan berakhirnya COVID Pandemik, seperti yang diserukan oleh Paus Fransikus untuk Doa Rosario Maraton – Doa Rosario berantai yang berlangsung selama bulan Rosario – Bulan Mei.

Kepedulian PGG diwujudkan dalam Doa Rosario bersama di depan Gua Maria – kantor Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Atambua, Minggu 30 Mei 2021 tepatnya 15:00 waktu Indonesia tengah. Sekitar 78 remaja puteri setingkat SMP dan SMA, yang tergabung dari Haliwen, Aitama dan Asrama susteran Atambua mendaraskan Doa Rosario untuk; perdamaian dunia, para pemimpin negara, pemimpin agama dan berakhirnya COVID Pandemik. Selain itu, para remaja puteri ini mendoakan intensi pribadi dan khususnya bagi perjuangan kaum perempuan, keluarga-keluarga yang mengalami konflik dalam hidup berrumah tangga. Hadir dalam Doa Rosario bersama ini para suster se-komunitas SSpS Atambua.

Sr. Sisilia Ketut, SSpS dari (FPPA), mengajak para remaja puteri untuk tetap bersemangat dalam doa dan kerja. “Adik-adik perlu berusaha dan berani pimpin doa dalam kelompok. Berlajar untuk mandiri. Dengan itu, adik-adik bisa melatih diri dan teman-teman sehingga ke depan bisa pimpin doa di mana saja kalian berada. Dunia sekarang sangat membutuhkan doa-doa kita. Banyak kejadian yang membuat orang tidak saling menghargai, menciptakan konflik dan tidak ramah lingkungan. Adik-adik ini, adalah duta misionaris awam yang adalah masa depan gereja dan bangsa, ungkap Sr. Sisilia sambil menunjuk salah satu peserta untuk memimpin doa.

Sementara, Yuliana Fatin – anggota dari kelompok PGG mengungkapkan kegembiraan, rasa syukur dan terima kasih karena adanya organisasi ini dan boleh mengenal Sr. Sisilia Ketut, SSpS serta bergabung dalam kelompok yang disponsori oleh FPPA. “Saya kenal Sr. Sisilia ketika suster kunjung kami di lingkungan Haliwen. Suster buat kegiatan pendalaman iman, sharing Kitab Suci, sharing mengenai situasi Pandemik COVID-19. Saya berharap organisasi ini tetap hidup dan berkembang. Setiap kali suster kunjung kami, suster merangkul kami sebagai adik-adik dan memotivasi kami supaya belajar untuk mandiri dan tidak boleh kalah dengan kaum laki-laki” tegas Yuliana.

Kegiatan doa Rosari bersama akan terus berlangsung dan PGG akan terus melakukan kegiatan-kegiatan lain dengan dukungan FPPA. Aksi Doa Rosario bersama berakhir dengan minum  bersama sambil berbagi pengalaman diantara mereka.

By Sr. Maria Vianney, SSpS

1000 lebih paket sembako di HUT 100 tahun keberadaan SSpS di Pulau Timor

“… Kehendak-Ku bukanlah kehendak-mu …,” Luk.22:42, ayat kitab Suci ini membawa sukacita yang besar bagi semua suster SSpS Provinsi Regina Angelorum Timor. Menyongsong tahun ‘Jubilee’ berbagai kegiatan dan persiapan telah dilakukan oleh setiap suster secara pribadi maupun bersama demi mensukseskan keberadaan 100 tahun SSpS di pulau Timor. Ada doa dan siarah ke makam para perintis di Lahurus dan Halilulik yang dilakukan secara pribadi, maupun bersama kelompok-kelompok basis dan komunitas di mana para suster berkarya. Ada juga penggalangan dana untuk perayaan puncak 100 tahun.

Dapat dikatakan, penyerahan setiap hari kepada Roh Kudus sebagai abdi-abdi-Nya, menginspirasi dan berbicara dalam situasi dan kenyataan yang di hadapi menjelang perayaan 100 tahun. Roh Kudus yang dihidupi membuka mata hati dan telinga para suster untuk melihat dan merasakan serta mengalami sendiri dampak Corona Virus – Pandemic dan banjir Bandang di Malaka.

“Sukacita untuk memeriahkan 100 tahun SSpS di Pulau Timor sudah kami rencanakan dan boleh dikatakan persiapan cukup memadai, namun melihat situasi yang sedang terjadi (Corona Virus – Pandemic dan banjir Bandang di Malaka) kami terinspirasi untuk mengadakannya sesederhana mungkin, tanpa undangan dan pesta seperti biasanya dengan mengalihkan dana yang telah kami sediakan untuk 100 tahun kepada para korban banjir Bandang Malaka. Kami memutuskan untuk mengadakan 1250 paket sembako bagi para korban banjir sebagai bukti solidaritas dan kepedulian kami terhadap sesama yang menderita di hari ulang tahun yang ke-100 beradaan kami di pulau Timor”, ungkap Sr. Aloisia Teti -provincial SSpS Timor.

Perayaan 100 tahun SSpS Timor yang rencananya dirayakan di Gereja Katedral Atambua akhirnya berpindah ke halaman Biara Susteran SSpS Hati Tersuci Maria Betun yang adalah komunitas terdekat dengan para korban banjir Bandang Malaka, 21 Mei 2021. Setelah perayaan Ekaristi, para suster dan Tim JPIC SVD membagikan sembako yang telah disediakan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana banjir di 12 titik yang ada di Paroki Betun.

Pater Didimus Nai – Provinsial SVD Timor selaku selebran utama Ekaristi Kudus menghimbau para suster SSpS Timor untuk tetap mengembangkan ‘Spirit’ yang telah di tanamkan oleh para misonaris perintis. “Sebagai saudaramu SVD dan umat di pulau Timor, mengatasnamai mereka saya mengucapkan PROFISIAT dan selamat berbahagia di hari ulang tahun yang ke 100. Terima kasih untuk pengorbanan dan jasa-jasamu dalam membantu para imam misionaris di tanah Timor. Pengabdian dan pelayananmu telah berhasil dan teruslah mengembangkannya melalui kursus-kursus keterampilan rumah tangga, di bidang kesehatan dan pendidikan yang telah memanusiakan manusia menjadi manusia yang beriman dan percaya kepada Allah Tritunggal. Semoga ke depan kita, SSpS dan SVD sebagai saudara terus bekerjasama dan berjalan bersama dalam mewartakan kabar gembira melalui karya-karya kerasulan lewat keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing”, kata pater Didi, SVD.

“Kami merasa diperhatikan dan di dukung saat kami mengalami bencana banjir 04 Maret lalu. Kunjungan para suster dan para pastor memberikan kami semangat untuk hidup, tidak putus asa. Kehadiran anak-anak suster dan pater memberi kami motivasi untuk berharap dan percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana untuk kami … Terima kasih untuk bantuan yang kami terima sejak terjadi bencana banjir hingga saat ini, kata bapak Yohanes korban banjir.

Sr. Filomena Bui, SSpS

Memulai ‘Baru’ dalam Ketiadaan – Banjir Bandang Malaka

Hidup baru yang di mulai tanpa memiliki sesuatu sangat sulit. Ini adalah fakta yang dialami para korban banjir Bandang Malaka 3 -5 April 2021. Segala milik kepunyaan para korban di bawah banjir. Kini hidup mereka bergantung pada uluran tangan sesama yang bermurah hati. Rumah mereka yang tergenang air mulai mengering. Bersama para Tim Relawan dari berbagai LSM mereka mulai membersihkan, sedangkan rumah yang runtuh dan atap terbongkar karena angin mulai direhap. Bagi rumah yang rusak diusahakan untuk mendapat bantuan dari pemerintah dan LSM yang membantu.

SSpS dan SVD Timor berkesinambungan membantu dan melayani para korban banjir Bandang sebagai upaya, dalam menanggapi situasi para korban. Hampir setiap minggu Tim JPIC SSpS dan SVD Timor mengunjungi lokasi bencana. Fokus perhatian JPIC untuk para korban yang sulit di jangkau dan yang kurang mendapat pelayanan dari pihak lain karena alasan tertentu.

Aksi kemanusiaan (23 dan 29 April 2021) bertempat di Kecamatan Malaka Tengah (Bolan) yakni desa Fahiluka dan Forekmodok; dan kecamatan Malaka Barat yakni Besikama, Kleseleon, Motaulun dan Wederok. Dua truk yang mengangkut 2225 paket makanan dan pakaian yang telah disiapkan. Masing-masing paket berisi: beras, minyak goregng, mie goreng, energen dan pakaian.

Tim JPIC yang bergabung sebanyak 20-an suster SSpS bersama calon yang datang dari komunitas-komunitas SSpS Timor dan belasan SVD bersama para simpatizan korban. Mereka di bagi dalam dua kelompok untuk melayani di Bolan (Malaka Tengah) dan Besikama (Malaka Barat). Mereka yang mendapat tempat di Besikama harus berjalan kaki beberapa kilometer dengan memikul paket yang disiapkan karena jembatan miring dan goyang tidak bisa dilewati dengan truk sehingga barang yang akan dibagikan harus di transpor ke lokasi penyaluran dengan gerobak dan di pikul oleh Tim JPIC. Sedangkan mereka yang membagi sembako di Bolan untuk menjangkau lokasi dan mengunjungi mereka yang tertimpa bencara harus menanggalkan sandal atau sepatu karena lumpur belum kering.

Sepasang LANSIA (kakek dan nenek) yang selamat dari banjir Bandang hadir dalam antrian untuk mendapat bantuan. “Ini pertama kali dapat bantuan. Sejak bencana kami tidak dapat kunjungan. Mungkin karena tempat kami masih tergenang air dan sulit di jangkau. Banjir pikul bawah mama dan suami saya. Saya tidak tahu mereka ada di mana” ungkap seorang ibu yang bergelinangan air mata ketika menceritakan …

Kehadiran para Tim JPIC SSpS dan SVD membawa nuansa hidup bagi mereka yang mendapatkan bantuan. Terlihat ada senyuman terpancar di wajah para korban dan semangat untuk hidup walau harus memulai ‘baru’ dalam ketiadaan. “Kami gembira dan senang karena bantuan, langsung kami terima di tangan” ungkap beberapa dari para korban banjir Bandang Malaka. Ungkapan ini seakan menghapus kelelahan yang dirasakan Tim JPIC.

Sr. Filomena Bui, SSpS