Jangkar Spiritual di Manuat: Pemberkatan Biara Adorasi SSpSAP St. Mikael Malaikat Agung

Sejarah baru bagi Keuskupan Agung Kupang resmi ditorehkan pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Suasana khidmat menyelimuti wilayah Manuat, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, saat digelar Perayaan Ekaristi Kudus dan ritus pemberkatan Biara Kontemplatif Adorasi SSpSAP (Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua) St. Mikael Malaikat Agung.

Peristiwa ini menjadi momentum penuh syukur bagi para suster kontemplatif dan segenap umat Allah. Kehadiran biara baru ini membawa harapan besar: menjadi benteng doa dan rumah keheningan tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan, memancarkan rahmat, serta menumbuhkan iman yang mendalam bagi Gereja dan masyarakat luas.

Tuhan yang Utama: Keunikan SSpSAP
Ada sebuah cerita menarik saat kami tiba di lokasi. Pintu kapela masih tertutup rapat karena para suster SSpSAP sedang khusyuk berdoa. Kami; para imam, frater, dan suster, setia menunggu di bagian depan (foris) rumah. Di sinilah letak keunikan SSpSAP: Tuhan selalu menjadi yang utama, baru kemudian yang lain.

Setelah menanti sekitar 30 menit, pintu akhirnya dibuka dan kami dipersilakan masuk ke kapela serta ruang tamu. Uniknya, meski pintu sudah terbuka lebar, sosok para suster SSpSAP tetap tidak terlihat sama sekali.

Di sudut lain, persiapan kapela terus dikebut. Anggota koor tampak sibuk mempersiapkan teks lagu, menyetel musik, dan merapikan susunan kursi. Pemasangan perangkat penata suara (sound system) juga disiapkan secara matang untuk mendukung kebutuhan siaran langsung (live streaming) ke ruang tamu, ruang rekreasi, serta kepada umat yang mengikuti dari rumah mereka. Tanpa fasilitas ini, para suster dan bruder yang berada di luar kapela tidak akan dapat melihat jalannya seluruh rangkaian acara.

Ritus Pemberkatan Rumah dan Klausura
Setibanya Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni: Upacara dimulai dengan ritus pemberkatan rumah. Ada 4 tokoh penting yang memberkati Biara St. Mikael Malaikat Agung ini, yaitu Mgr. Hironimus Pakaenoni, Romo RD. Krispinus Saku (Vikjen Keuskupan Agung Kupang), Pater Dismas Mauk, SVD (Provinsial SVD Timor) dan R.D. Erick Fkun (Sekretaris Keuskupan).

Karena orang luar tidak diperbolehkan masuk ke wilayah klausura (claustrum), suster-suster SSpSAP sendiri yang bertugas membawa salib, lilin, dan air berkat. Namun, khusus untuk dokumentasi (foto dan video), dua suster SSpS (saya sendiri dan Sr. Maria Yosefina Neno) diperbolehkan ikut mendampingi Uskup dan para imam untuk memberkati ruangan serta kamar tidur para suster.

Suasana haru seketika menyelimuti hati kami yang hadir saat menyaksikan keunikan penyerahan diri para suster SSpSAP. Usai ritus pemberkatan, Uskup Agung Kupang menyerahkan kunci biara kepada Madre General Sr. M. Maria Magdalena Krusein, SSpSAP. Diikuti dengan penutupan resmi pintu klausura. Sejak saat itu, para suster merah muda telah sepenuhnya memeluk kehidupan kontemplatif, di mana kehadiran mereka kini hanya bisa dijangkau melalui batas terali besi di kapela dan ruang tamu.

Homili Uskup Agung: Biara sebagai Jangkar Spiritual
Misa Agung dipimpin langsung oleh gembalanya, Mgr. Hironimus Pakaenoni. Lantunan pujian dari koor gabungan Suster SSpS Yunior Student Liliba, Suster Probanis, serta para frater dan bruder SVD dari Soverdi Oebufu dan BBG membawakan harmoni suara yang indah, mengantar umat ke dalam suasana doa yang mendalam.

Dari mimbar Kudus, Uskup Agung Kupang menguntai homili yang menggetarkan jiwa tentang esensi biara bagi denyut nadi Gereja.

“Biara adalah jangkar spiritual, sebuah tempat sakral di mana Gereja selalu dipanggil untuk pulang dan kembali ke pusat hidupnya, yaitu Yesus Kristus yang nyata dalam Ekaristi,” tegas Mgr. Hironimus.

Dengan penuh keteduhan, Bapak Uskup mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, para Suster SSpSAP mengemban misi profetis yang sangat penting. Kehadiran mereka adalah kesaksian hidup bahwa eksistensi manusia tidak melulu soal derap aktivitas, tumpukan prestasi, kedigdayaan teknologi, maupun hiruk-pikuk kesibukan. Di atas segalanya, dunia yang rapuh ini justru sangat merindukan kuasa doa, kedalaman keheningan, dan sujud adorasi.

“Kelak, di balik terali klausura dan di hadapan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan, para suster merah muda ini akan menjadi perantara yang senantiasa memeluk dunia dalam doa. Mereka akan membawa seluruh pergumulan Gereja dan masyarakat: membalut luka-luka umat Allah, merajut harapan keluarga-keluarga, mendoakan masa depan kaum muda dan anak-anak, memeluk kaum miskin, serta menopang seluruh bangsa dan tanah air dalam untaian syafaat (syafa’ah) yang tak putus-putus,” terang Uskup Agung Kupang.

Pengangkatan Pastor Kapelan dan Penandatanganan Prasasti
Suasana di akhir Perayaan Ekaristi kian khidmat ketika Sekretaris Keuskupan, R.D. Erick Fkun, membacakan Surat Keputusan Uskup Agung Kupang. Melalui keputusan tersebut, R.D. Krispinus Saku resmi diangkat menjadi Pastor Kapelan untuk melayani kebutuhan Sakramen Ekaristi di Biara Adorasi SSpSAP. Bersamaan dengan itu, tugas mulia sebagai Bapak Pembimbing Rohani yang melayani Sakramen Rekonsiliasi dipercayakan kepada P. Simon Bata, SVD.

Momentum penuh haru terjadi di penghujung misa saat Ibu Agung SSpSAP, Sr. Maria Magdalena, menyampaikan ungkapan hati. Dengan dibantu oleh P. Dismas L. Mauk, SVD, yang menerjemahkan sambutannya, Ibu Agung menyampaikan rasa syukur dan terima kasih tak terhingga atas dukungan penuh dari Uskup Agung, Romo Vikjen, para imam, serta seluruh biarawan dan biarawati.

Ibu Agung juga menitipkan sebuah harapan besar. “Saya berharap hadirnya Biara Adorasi SSpSAP St. Mikael Malaikat Agung ini mampu menjadi magnet rohani serta ladang subur yang menumbuhkan benih-benih panggilan di hati kaum muda, sehingga semakin banyak jiwa yang terpanggil untuk mengabdikan diri pada tarekat kontemplatif ini,” harap Sr. Maria Magdalena.

Seluruh rangkaian upacara sakral ini akhirnya ditutup secara resmi melalui penandatanganan prasasti peresmian oleh Mgr. Hironimus Pakaenoni bersama Ibu Agung Sr. M. Maria Magdalena Krusein, SSpSAP, menandai babak baru karya kerasulan doa di tanah Manuat.

Reuni Spiritual “Anak-Anak Arnoldus”
Seusai ibadah, rangkaian acara berlanjut dengan momen ramah tamah dan makan siang bersama di Aula Biara. Kebersamaan ini terasa kian hangat saat para tamu undangan menikmati aneka hidangan khusus yang disediakan oleh para suster melalui jasa katering, yang didukung langsung oleh kedermawanan para donatur setia biara.

Peristiwa ini sekaligus menjadi panggung reuni spiritual yang mempertemukan “Anak-Anak Arnoldus”, sapaan akrab bagi para biarawan dan biarawati dari tiga tarekat religius yang didirikan oleh St. Arnoldus Janssen. Kehadiran para anggota SVD, SSpS, dan SSpSAP di satu altar dan satu perjamuan persaudaraan ini memancarkan aura kesatuan hati yang kuat, sekaligus memperkokoh dukungan penuh bagi biara adorasi yang baru diresmikan.

Sr. Fransiska A. Teme, SSpS dan Sr. MYosefin, SSpS