Kala Rahmat Mengubah Logika Prestasi: Rekoleksi Suster Medior SSpS Timor

“Mental prestasi dan produktivitas yang ditebus oleh rahmat” merupakan konsep spiritual-psikologis di mana pencapaian, kerja keras, dan produktivitas manusia tidak lagi menjadi sumber kesombongan atau beban mental. Sebaliknya, seluruh pencapaian tersebut diubah menjadi rasa syukur atas kasih karunia Tuhan.

Ketika logika prestasi memasuki kehidupan religius, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah seorang religius boleh berprestasi? Pertanyaan reflektif ini membuka rangkaian seminar dan rekoleksi para Suster Medior SSpS Provinsi Regina Angelorum Timor. Kegiatan yang berlangsung di Halilulik pada 25–26 September 2026 ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta.

Para suster Medior sedang mengikuti seminar bersama RD. Okto Naif

Dalam pemaparan materinya, RD. Okto Naif mengajak para suster untuk merenung lebih dalam tentang arti prestasi mental yang ditebus dengan rahmat. Ia menjabarkannya melalui sebuah perbandingan prinsip: bukan anti-prestasi, melainkan transformasi prestasi. Logika prestasi dalam masyarakat modern kerap menjebak seseorang pada sebuah paradoks. Semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin tinggi pula standar yang dituntut darinya, yang pada akhirnya memicu keletihan eksistensial dan tekanan batin untuk terus-menerus berhasil karena merasa bahwa prestasi menentukan nilai diri, jabatan menjadi identitas, dan kegagalan dianggap sebagai kehilangan nilai menuju “alternatif komunitas religius”.

Di dalam komunitas, rahmat menentukan nilai diri, jabatan dipandang hanya sebagai amanah, serta kegagalan diubah menjadi ruang belajar dan discernment (pembedaan roh). “Kunci hidupmu bukanlah memprioritaskan keinginan yang ada dalam dirimu, tetapi menjadwalkan prioritas panggilanmu. Kamu tidak harus menjadikan dirimu sengsara untuk menjadi sukses,” pesan RD. Okto Naif.

Seminar dan rekoleksi ini diperkaya dengan perayaan Ekaristi di kapel komunitas. Melalui kebersamaan dalam Ekaristi, doa dan pembinaan yang mendalam hari ini, setiap suster diteguhkan untuk melanjutkan panggilan dan misi perutusannya dengan semangat yang baru.

MYosefin, SSpS dan Yani Fallo, SSpS

Perkuat Tata Kelola dan Sinergi: Yasra Gelar Pertemuan Kepala Sekolah

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan memperkokoh manajemen internal lembaga, Yayasan Pendidikan Regina Angelorum Timor menggelar pertemuan intensif yang melibatkan seluruh kepala sekolah di bawah naungannya. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026, berpusat di Atambua, Kabupaten Belu,  Nusa Tenggara Timur.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh para kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD/TKK, SD, SMP, hingga SMA/SMK yang tersebar di wilayah pelayanan yayasan.

Pembukaan oleh Pengawas Yayasan selaku Pelaksana Tugas

Sehubungan dengan kondisi Ketua Yayasan yang sedang sakit, tugas kepemimpinan dan pelaksanaan agenda diambil alih oleh Pengawas Yayasan Sr. Yulita Belebau, SSpS.

Guna mencairkan suasana dan membangun energi positif di antara para peserta, kegiatan diawali dengan sesi ice breaking yang dipandu langsung oleh Pengawas Yayasan selaku Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua. Setelah suasana kebersamaan yang hangat terbangun, beliau menyampaikan agenda utama pertemuan serta arah strategis yang ingin dicapai bersama demi kemajuan mutu sekolah se-yayasan.

Sosialisasi Regulasi: Dari Tata Kelola hingga Roadmap Sentralisasi 2028

Agenda inti pertemuan berfokus pada pembenahan sistem administrasi dan operasional satuan pendidikan melalui pemaparan beberapa poin krusial, di antaranya:

  • Tata Kelola Yayasan: Penegasan kembali struktur, fungsi, dan standar operasional prosedur demi terciptanya manajemen sekolah yang profesional.
  • Sentralisasi Keuangan: Strategi pemaparan sistem satu pintu untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas. Berdasarkan hasil pemetaan, program sentralisasi ini ditargetkan akan resmi berjalan sepenuhnya pada tahun 2028.
  • Peraturan Umum Kepegawaian & Updates: Sosialisasi regulasi ketenagakerjaan terbaru, hak dan kewajiban guru/pegawai, serta penyesuaian aturan terkini di lingkungan yayasan.

Keputusan Strategis Hasil Diskusi Kelompok

Agenda paling dinamis dalam pertemuan ini adalah diskusi kelompok untuk membedah visi dan misi sekolah berdasarkan acuan yayasan. Seluruh kepala sekolah dibagi menjadi dua kelompok besar: kelompok pertama untuk jenjang PAUD dan TKK, sedangkan kelompok kedua untuk jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK.

Dari diskusi intensif tersebut, lahir beberapa keputusan penting yang disepakati bersama:

  1. Adopsi Visi dan Misi: “Kelompok memutuskan untuk mengadopsi sepenuhnya visi dan misi yayasan serta Kemendikdasmen ke dalam visi dan misi masing-masing sekolah. Sebagai penegasan komitmen, teks visi dan misi yayasan wajib dicetak dan dipajang secara resmi berdampingan dengan teks visi dan misi sekolah di setiap instansi.
  2. Keseragaman Identitas (Seragam Yayasan): Kedua kelompok diskusi sepakat dan memutuskan untuk pengadaan seragam yayasan dengan warna yang sama untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD/TKK hingga SMA/SMK yang akan dimulai pada 2028.
  3. Peninjauan Kalender Pendidikan: Untuk draf kalender pendidikan yayasan, para kepala sekolah diberikan waktu selama satu minggu ke depan untuk mempelajari isinya secara mendalam. Jika terdapat usulan, penambahan, atau koreksi, pihak sekolah diminta untuk berkomunikasi dengan Plt. Ketua Yayasan.
  4. Perayaan HUT Yayasan & Pentas Seni: Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan pada 2 Agustus, disepakati untuk mengadakan pementasan seni budaya yang dipusatkan di SMKS Kusuma Atambua – Raibasin.
  5. Kunjungan Holistik: Pelaksanaan program kunjungan holistik antarsekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Regina Angelorum Timor untuk mempererat persaudaraan, studi banding dan mutu.
  6. Pengembangan Karakter & SDM: Pelaksanaan rekoleksi guru dan pegawai dibagi per wilayah dan per jenjang: PAUD/TKK, SD/SMP, dan SMA/SMK.

Evaluasi Strategis: Pembahasan Hasil RUA dan Sesi Tanya Jawab

Melanjutkan dinamika pertemuan, pihak pengurus yayasan memaparkan poin-poin hasil Rapat Umum Anggota (RUA) yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sesi ini krusial sebagai bentuk pelaporan arah kebijakan makro yayasan ke depan.

Rapat berlangsung dinamis, terutama saat memasuki sesi tanya jawab. Ruang diskusi ini dimanfaatkan oleh para kepala sekolah untuk mengklarifikasi kebijakan, mengajukan solusi atas tantangan di lapangan, serta menyamakan persepsi dalam mengimplementasikan program menuju tahun 2028.

Penutup: Sharing, Makan Siang Bersama, dan Sayonara

Menjelang akhir rangkaian acara, pertemuan maraton ini ditutup dengan sesi berbagi berkat dan tantangan. Para kepala sekolah saling berbagi kisah sukses serta praktik baik (best practices), sekaligus mengutarakan tantangan riil di daerah penugasan masing-masing.”

Seluruh rangkaian kegiatan strategis ini kemudian ditutup dengan hangat melalui acara makan siang bersama sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan. Acara berakhir penuh sukacita dengan sesi “Sayonara”, di mana para kepala sekolah berpamitan untuk kembali ke unit tugas masing-masing, membawa semangat baru demi kemajuan Yayasan Regina Angelorum Timor.

Sr. Maria Yosefin, SSpS

Kembali ke Rahim Ibu: 10 Suster SSpS Jalani Masa Probasi di Bello-Kupang

‘Dinyalakan oleh Kasih Allah yang Mengubah, Diutus untuk Misi’.

Sebanyak 10 Suster SSpS dari Provinsi SSpS Timor dan Provinsi SSpS Jawa memulai masa probasi di Bello, Kupang, pada Kamis (10/9/2026). Para suster tersebut terdiri dari Sr. Janice Hardianto, SSpS dari Provinsi SSpS Jawa, serta sembilan suster dari Provinsi SSpS Timor, yaitu: Sr. Maria Magdalena Brazao Oliveira, SSpS; Sr. Magdalena De Anceyeta Baria, SSpS; Sr. Fransisca A. Teme, SSpS; Sr. Deviyani L. Lada, SSpS; Sr. Godeliva M. G. Mabilani, SSpS; Sr. Beatrix E. Beni, SSpS; Sr. Innes Da Costa, SSpS; Sr. Yustina Abani, SSpS; dan Sr. Lusia Tael, SSpS.

Pembukaan masa probasi oleh Sr. Fridolianti Seran, SSpS (Provinsial SSpS Timor) diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh RD. Longinus Bone, Pr. Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Kolhua. Dalam sambutannya, Sr. Fridolianti mengajak para probanis untuk menjalani masa probasi dengan sikap terbuka, rendah hati, setia, dan siap dibimbing.

“Para suster, harap gunakan masa probasi ini dengan sungguh-sungguh. Kongregasi menyediakan waktu ini agar setiap probanis mengenal diri secara lebih mendalam, menerima proses pembentukan, semakin mantap dalam panggilan, serta siap untuk menjalankan misi perutusan,” tegas Provinsial SSpS Timor.

Kisah percakapan Yesus dan Nikodemus (Yohanes 3:1-16) menjadi inspirasi permenungan yang diusung oleh Sr. Aloisia Teti, SSpS, pendamping probanis, dengan tema “Dinyalakan oleh Kasih Allah yang Mengubah, Diutus untuk Misi” dalam rekoleksi persiapan sebelum pembukaan masa probasi. Melalui tema ini, para probanis diarahkan untuk melihat masa probasi sebagai sebuah proses perubahan dan pertumbuhan.

“Masa probasi adalah masa untuk ‘kembali ke rahim ibu’. Artinya, ini menjadi ruang untuk kembali kepada dasar panggilan, membuka diri terhadap proses pembentukan, serta membiarkan kasih Allah bekerja dan mengubah kehidupan. Karena itu, masa probasi tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, tetapi terutama menjadi masa untuk bertumbuh sebagai pribadi dan sebagai seorang religius,” jelas Sr. Aloisia.

Hal senada disuarakan oleh RD. Dus dalam khotbahnya. Ia mengajak para probanis untuk belajar dari sosok Nikodemus yang berani datang kepada Yesus dengan keterbukaan dan kerinduan untuk memahami kebenaran. Maka dari itu, para probanis diajak untuk menjadi “Nikodemus modern”, yakni pribadi yang selalu datang kepada Tuhan, membuka diri terhadap tuntunan-Nya, serta semakin berani mengakui dan menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Hadir dalam Ekaristi Kudus dan Pembukaan Masa Probasi: seluruh Tim Pimpinan Provinsi SSpS Timor, para suster dari Komunitas Merdeka dan Rumah Retret Bello, serta peserta Kursus Formator SSpS Indo-Leseta bersama ketiga pendampingnya.”

By Sr. Fransiska Teme, SSpS

Gandeng SMKS Kusuma, Tim Keuskupan Atambua Latih OMK & Petani Fatuoni Mandiri

FATUONI, 5 September 2026 – Dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi umat dan memperkuat ketahanan pangan, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Fatuoni di Keuskupan Atambua menggelar kegiatan pelatihan gratis. Pelatihan ini berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif serta teknik pengolahan makanan berbasis bahan baku lokal.

Kegiatan yang berlangsung di kompleks paroki ini menyasar tiga pilar penggerak utama di pedesaan, yakni para petani, peternak, dan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Fatuoni.

Bagian dari Program Strategis Keuskupan Atambua

Kegiatan di Paroki Fatuoni ini merupakan bagian dari program strategis yang sedang digencarkan oleh Keuskupan Atambua. Saat ini, pengembangan ekonomi kreatif berbasis pengolahan makanan lokal telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas keuskupan untuk mendorong kedaulatan pangan dan ekonomi umat di wilayah perbatasan.

Demi memastikan keberlanjutan program, Keuskupan Atambua secara khusus membentuk Tim Khusus Pengembangan Ekonomi Kreatif. Tim ini bertanggung jawab penuh untuk mengkoordinasi, mendampingi, dan mengeksekusi seluruh rangkaian aktivitas pelatihan yang menyasar dua lini utama, yaitu tingkat paroki dan sekolah-sekolah Katolik se-Keuskupan Atambua.

Kolaborasi Instruktur dan Pembagian Materi Pelatihan

Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini menghadirkan instruktur berkompeten yang membagi materi sesuai dengan kebutuhan peserta di lapangan:

Sektor Peternakan: Ketua Program, Romo Edo Oeleu, Pr, didampingi oleh Mas Eko, memimpin pelatihan langsung bagi bapak-bapak petani dan peternak untuk meracik pakan ternak berkualitas bagi babi dan ayam.“Kami ingin para peternak tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan yang mahal. Dengan memanfaatkan bahan di sekitar; sagu, kelapa dan lain-lain untuk menekan biaya produksi dan keuntungan peternak otomatis meningkat,” ujar Romo Edo Oeleu, Pr di sela-sela kegiatan. Dampaknya, para peserta racik makanan ternak berlanjut para pembentukan kelompok usaha… Maju terus dan jangan menyerah…

Sementara di Sektor Kuliner Kreatif: Suster Arnolda Seran, SSpS, dibantu oleh empat siswi kelas 11 SMKS Kusuma Atambua, memimpin pelatihan bagi OMK dalam mengolah komoditas mentah menjadi aneka produk kuliner.“Semua yang dihidangkan di sini adalah ubi ungu dan putih, singkong, pisang dan talas. Kita olah menjadi kue donat, kroket, pastel, stik, cake dan bolu, nugget, brownis ubi ungu, lapis singkong, puding, dan kripik. Semua ini bahan lokal. Harap latihan ini bisa diteruskan,” kata Sr. Arnolda Seran, SSpS.

Antusiasme tinggi juga terpancar dari para peserta yang langsung mempraktikkan materi pembuatan kue. “Bagi saya, ternyata buat puding dari ubi tidak susah seperti yang saya bayangkan. Sementara membuat donat dari ubilah yang butuh proses bertahap dan butuh waktu,” ungkap salah seorang peserta pelatihan dengan penuh semangat.

Belajar Rumus Hitung Harga Jual agar Untung

Pelatihan tidak hanya berhenti pada proses memasak, tetapi juga menyentuh aspek manajemen bisnis dasar. Sesi diskusi menjadi hidup ketika Ketua OMK Paroki Fatuoni melempar pertanyaan kritis.

“Jika saya ingin menjual bolu yang entah utuh atau sudah dipotong, berapa harga yang perlu saya beri?” tanyanya.

Merespons pertanyaan tersebut, Suster Arnolda Seran, SSpS langsung memberikan gambaran nyata mengenai rumus penentuan harga. Beliau menekankan pentingnya menghitung seluruh biaya produksi yang dikeluarkan agar usaha tidak mengalami kerugian.

Suster Arnolda memerinci bahwa harga jual harus dihitung secara matang berdasarkan:

  1. Biaya Bahan Baku Baku (Food Cost): Mulai dari harga ubi, telur, kelapa, susu, hingga air yang digunakan.
  2. Biaya Operasional: kayu api untuk mengukus/memanggang, kemasan, hingga biaya transportasi.
  3. Upah Tenaga Kerja: Menghargai waktu dan tenaga yang dikeluarkan selama proses produksi, baik untuk kue utuh maupun yang dijual per potong.

Sinergi Kaum Muda dan Petani demi Masa Depan

Pastor Paroki Fatuoni, Romo Fransiskus Naikofi, Pr, menekankan bahwa keterlibatan kaum muda sangat krusial dalam program ini. Keduabelas (12) OMK yang mengikuti pelatihan hari ini, diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di paroki dengan memanfaatkan kreativitas dan bahan lokal. Di sisi lain, para petani dan peternak bertindak sebagai penyedia utama bahan baku yang berkualitas.

“Gereja tidak hanya merawat iman, tetapi juga memperjuangkan kesejahteraan hidup umatnya. Kolaborasi antara ketekunan petani dan kreativitas anak muda adalah kunci utama untuk membangkitkan ekonomi kreatif di paroki kita,” ungkap Romo Frans.

Melalui pendampingan sistematis dari tim keuskupan, Romo Frans berharap pelatihan ini melahirkan kelompok-kelompok usaha mikro baru berbasis umat. Kelompok usaha ini diharapkan mampu menopang perekonomian keluarga, membuka akses pasar yang lebih luas, sekaligus mengurangi angka pengangguran di kalangan generasi muda.

By: Maria Yosefin, SSpS