‘Virtual Meeting’ SSpS Kaul Sementara Indo-Leste

SSpS Kaul Sementara Indonesia dan Timor Leste (Indo-Leste), merasa kebanggan karena diperhatikan khusus. Ini terbukti dengan pertemuan virtual yang diselenggarakan oleh Tim Pimpinana Kongregasi Sr. Mikaelin Bupu, SSpS – Anggota Dewan Genderal dan hadir dalam pembukaan dan penutupan pertemuan Sr. Maria Theresia Hörnemann, SSpS Pemimpin Kongregasi. Pertemuan Virtual ini merupakan pertemuan pertama dalam sejarah SSpS antara Tim Pimpinan Kongregasi dengan semua suster kaul sementara di Indo-Leste.

Di Indonesia, SSpS memiliki lima provinsi yakni: Flores Timur, Flores Barat, Timor, Jawa dan Kalimantan serta Regio Timor Leste. Jarak menjadi kendala buat kami suster kaul sementara untuk saling mengenal lebih dekat. Untuk itu, kami di beri kesempatan untuk memperkenalkan diri dengan menebutkan nama, asal provinsi/regio dan misi yang sedang kami emban. Perkenalan ini memakan waktu lebih dar satu jam, dengan jumlah 150-an lebih suster kaul sementara bersama para pendampingnya.

Dua hari pertemuan Virtual berlangsung efektif, sekalipun ada di antara peserta yang karena gangguan signal terpaksa on and off beberapa kali namun semangat yang ada dalam diri orang muda memicu kami untuk  terus mencoba. Pertemuan virtual ini di awali dan diakhiri dengan doa yang telah disiapkan oleh peserta yang bertugas dari setiap provinsi dan regio.

Di hari pertama pertemuan Virtual Kamis, 13 Mei 2021, Sr. Maria Theresia, memotivasi kami suster-suster kaul sementara untuk menjadi suster yang setia dalam mengikuti karya Roh Kudus dan berusaha untuk menghadirkan diri seutuhnya dalam tugas pelayanan yang sedang kami jalani serta membuka diri dalam mensharingkan pengalaman dalam pertemuan virtual ini.

Melihat presentasi statistik yang di tampilkan dalam PowerPoint oleh pembicara Sr. Mikaelin, kami di minta untuk mengunkapkan perasaan dan pendapat. Mayoritas peserta mengungkapkan rasa terharu dan kagum karena pada zaman yang serba modern ini masih ada panggilan, khususnya di bagian Asia yang masih memiliki cukup panggilan. Ada pun pertanyaan refleksi yang di berikan: (1) Apa yang membuatmu bahagia/bangga sebagai SSpS. (2) Apa yang membuatmu prihatin dalam hidup dan misi komunitas, propinsi/region dan kongregasi dan apa sumbanganku untuk menjabat keprihatinan tersebut? (3) Apa aspek terpenting untuk masa depan kongregasi kita? (4) Apakah tema/topik yang bisa membantu para suster untuk ongoing formasi?

Di hari ke-dua Jumat, 14 Mei 2021, kami di bagi dalam 12 kelompok basis untuk mensharingkan hasil refleksi pribadi kami mengenai ke-4 pertanyaan yang diberikan kepada kami hari sebelumnya. Kelompok ini memiliki ketua, wakil dan sekretaris yang akan merangkum hasil sharing kami untuk diplenokan. Agar tidak jenuh dengan presentasi hasil sharing, dua kelompok suster kaul sementara dari provinsi Timor yakni Liliba dan Atambua menyanyikan lagu Solideo untuk menganimasi hidupnya pertemuan virtual.

Tidak terasa 6 jam pertemuan virtual, sudah berakhir di saat Sr. Maria Theresia menyatakan apresiasinya atas semangat dan ketekunanan kami dalam mengikuti pertemuan ini. “Melihat para suster yang bersemangat dan gembira dalam sharing membuat saya bahagia dan kagum dengan antusiasme Spirit orang muda. Para suster adalah masa depan kongregasi maka hindarilah gosip, persaingan yang tidak sehat dan hindarilah teladan hidup yang tidak sepadan dengan kharisma dan spiritualitas SSpS” himbau Sr. Maria Theresia.

Sementara Sr. Mikaelin menyatakan suster muda memiliki banyak kreatifitas yang perlu dikembangkan. Jangan takut dan lalai untuk belajar. “esok-esok diantara kamu 150 an lebih ini akan menjadi pemimpin dalam kongregasi. Ada yang bisa terpilih sebagai ibu agung atau dewan atau pemimpin provinsi atau dewan provinsi. Jadi jangan sia-siakan waktu yang ada” tegas Sr. Mikaelin Bupu.

“Semoga pertemuan seperti ini akan terjadi lagi baik di tingkat Nasional maupun internasional” ungkap Sr. Khatarina Galih Pramita Kinasih, SSpS – Jawa. Situasi pertemuan sangat mendukung, ada waktu untuk bertanya dan diskusi mengenai situasi dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat kami lanjutkan di tempat kami. Kami berharap agar adanya Tertiat bagi suster kaul sementara, dan kriteria-kriteria mengenai pengalaman misi-CMM di perhatikan dan di lanjutkan bagi suster kaul sementara.

By Sr. Maria Nelde Dau, SSpS

 

 

 

 

 

PGG mendoakan Perdamaian Dunia

Kerinduan orang muda untuk berada bersama tidak mengenal lelah sekalipun aturan COVID Pandemik membatasi ruang gerak mereka. Demikian aksi “Peace Generation Girls” (PGG) bagi perdamaian dunia dan berakhirnya COVID Pandemik, seperti yang diserukan oleh Paus Fransikus untuk Doa Rosario Maraton – Doa Rosario berantai yang berlangsung selama bulan Rosario – Bulan Mei.

Kepedulian PGG diwujudkan dalam Doa Rosario bersama di depan Gua Maria – kantor Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Atambua, Minggu 30 Mei 2021 tepatnya 15:00 waktu Indonesia tengah. Sekitar 78 remaja puteri setingkat SMP dan SMA, yang tergabung dari Haliwen, Aitama dan Asrama susteran Atambua mendaraskan Doa Rosario untuk; perdamaian dunia, para pemimpin negara, pemimpin agama dan berakhirnya COVID Pandemik. Selain itu, para remaja puteri ini mendoakan intensi pribadi dan khususnya bagi perjuangan kaum perempuan, keluarga-keluarga yang mengalami konflik dalam hidup berrumah tangga. Hadir dalam Doa Rosario bersama ini para suster se-komunitas SSpS Atambua.

Sr. Sisilia Ketut, SSpS dari (FPPA), mengajak para remaja puteri untuk tetap bersemangat dalam doa dan kerja. “Adik-adik perlu berusaha dan berani pimpin doa dalam kelompok. Berlajar untuk mandiri. Dengan itu, adik-adik bisa melatih diri dan teman-teman sehingga ke depan bisa pimpin doa di mana saja kalian berada. Dunia sekarang sangat membutuhkan doa-doa kita. Banyak kejadian yang membuat orang tidak saling menghargai, menciptakan konflik dan tidak ramah lingkungan. Adik-adik ini, adalah duta misionaris awam yang adalah masa depan gereja dan bangsa, ungkap Sr. Sisilia sambil menunjuk salah satu peserta untuk memimpin doa.

Sementara, Yuliana Fatin – anggota dari kelompok PGG mengungkapkan kegembiraan, rasa syukur dan terima kasih karena adanya organisasi ini dan boleh mengenal Sr. Sisilia Ketut, SSpS serta bergabung dalam kelompok yang disponsori oleh FPPA. “Saya kenal Sr. Sisilia ketika suster kunjung kami di lingkungan Haliwen. Suster buat kegiatan pendalaman iman, sharing Kitab Suci, sharing mengenai situasi Pandemik COVID-19. Saya berharap organisasi ini tetap hidup dan berkembang. Setiap kali suster kunjung kami, suster merangkul kami sebagai adik-adik dan memotivasi kami supaya belajar untuk mandiri dan tidak boleh kalah dengan kaum laki-laki” tegas Yuliana.

Kegiatan doa Rosari bersama akan terus berlangsung dan PGG akan terus melakukan kegiatan-kegiatan lain dengan dukungan FPPA. Aksi Doa Rosario bersama berakhir dengan minum  bersama sambil berbagi pengalaman diantara mereka.

By Sr. Maria Vianney, SSpS